Istri Rahasia Ketua BEM

Istri Rahasia Ketua BEM
Lapar Seharian Demi Suami


__ADS_3

Rendi pun pergi ke kampus, yang sebenarnya dia pergi karena mau nongkrong bersama dengan teman-temannya yang sesama anak BEM. Semenjak menjadi ketua BEM, dia memang sering sekali pergi bersama teman-temannya itu, dengan harapan nama dia akan dipandang baik terus menerus dan akan terus terkenal di kampus.


"Tuh kan! Ketua BEM kita pasti dateng kalau ada acara beginian!" puji salah satu jajaran BEM yang sudah menunggu Rendi di cafe.


"Maaf ya gue telat." Rendi langsung duduk dan melihat menu pesanan yang ada di sana.


"Kalem."


Ada satu teman dekat Rendi yang bernama Robin, yang memang dekat dengan Rendi dan selalu mengajak Rendi pergi ke cafe untuk nongkrong.


"Kamu kaya banget ya? Tiap hari nongkrong, nggak takut duit kamu habis?" tanya Adel yang memang selalu ikut dalam acara apapun, Adel juga merupakan salah satu member dari perkumpulan mereka semua.


"Oh, nggak juga. Ini tabungan aku selama dapat beasiswa kuliah, kebetulan aku lagi ada aja." Rendi mengarang cerita seakan dia adalah pria yang sangat baik dan cocok jadi teladan.


"Kamu jarang ada waktu sama orang rumah ya? Seringnya malah sama kita," imbuh Adel.


"Nggak masalah, kalau pagi juga aku pasti ketemu sama mereka kok. Jadi, nggak perlu khawatir." Rendi memesan satu minuman yang cukup mahal di sana.


"Kalau lo ga bisa dateng kabarin aja, kita nggak maksa kok," ujar Robin.


"Santai aja sih, aku setiap hari juga senggang kok." Rendi melipat kedua tangannya dan tersenyum kecil.


"Biarin aja sih, dia kan punya banyak beasiswa, daripada nggak dipakai. Sebagai ketua BEM juga, masa iya jarang nongkrong." Adel tersenyum kecil dan menyeruput matchanya sembari mengedipkan sebelah matanya ke arah Rendi.


DEG!


Saat melihat hal itu, jantung Rendi berdegup dengan sangat kencang, dan rasanya tak karuan. Apalagi pakaian Adel saat ini terlihat sangat terbuka, membuat belahan dadanya kelihatan.


Glek.


"Kenapa dia pakai pakaian yang begitu sih? Sengaja menggodaku ya?" Rendi mengucap dalam hati sembari melihat ke luar jendela agar tidak fokus dengan pemandangan seperti itu.


Rendi pun menghabiskan waktu bersama dengan teman-temannya sampai sore, yang bahkan tidak memikirkan keadaan anak dan istrinya di rumah.

__ADS_1


****


Tiga hari setelah perdebatan Nara dengan Rendi dan Rendi membawa uang terakhir mereka, Nara pun hanya bisa masak seadanya, seperti telur, mie instan, dan juga sop. Ketiga itu harganya sangatlah terjangkau, untungnya Nara masih memiliki sedikit uang.


Namun, saat matahari berada di atas kepala dan terasa sangat panas, Nara hanya memasak telur saja untuk makan mereka. Itu pun Nara memutuskan untuk tidak makan sama sekali agar Rendi bisa makan. Saat Rendi baru bangun tidur dan melihat ke meja, ia sedikit terkejut.


"Sayang? Kamu cuma masak telur? Dari kemarin perasaan telur terus deh," protes Rendi sembari mengambil nasi dan meletakkan di piring.


Nara yang mendengar keluhan itu hanya menghela nafas panjang saja. Ia tengah tiduran dan menonton tv bersama putri kesayangannya itu. Setelah siap makan, Rendi pun duduk di sebelah Syakila dan ikut menonton tv.


"Aku besok pingin ayam dong. Aku bosen makan telur terus," keluh Rendi.


Nara langsung membuka tangannya di hadapan Rendi sembari berucap, "Mana uangnya?"


Rendi menaikkan satu alis matanya seakan bingung dan sedikit tidak terima dengan sikap Nara tersebut.


"Uang kamu habis?" tanya Rendi.


"Habis, udah kamu bawa semua kemarin buat nongkrong." Nara kembali melihat ke arah tv dan bersikap cuek kepada suaminya.


"Gimana aku mau bilang loh? Kamu aja langsung pergi dengan bawa uang itu. Uangku itu cuma ada di rak yang kamu ambil kemarin. Harusnya kamu tahu konsekuensinya kalau kamu pakai semua uang itu, aku berharap uang itu ada kembalinya, meskipun cuma 20ribu. Tapi sepertinya kamu habiskan semuanya. Aku mau minta juga nggak enak, dikira aku pelit sama kamu," urai Nara yang menjelaskan situasinya.


Rendi yang mendengar hal itu tentu saja kesal, namun, karena sangat lapar, dia pun menghabiskan makanan itu lebih dulu baru bicara dengan Nara.


"Kamu nggak mau kerja sama bapak kamu?" tanya Nara yang memulai pembicaraan yang baru.


"Kamu suruh aku dagang gorengan?" Rendi langsung menaikkan nada bicaranya.


"Kalau kamu bantu bapak kamu, pasti kamu bakal dikasih uang, kan? Kenapa kamu nggak ikut bapak aja? Kan lumayan sehari 50rb." Nara menjelaskan hasil yang akan dia dapatkan saat bekerja dengan bapaknya sendiri.


"Apa kata orang-orang nanti? Ketua BEM dagang gorengan?" Rendi sudah terdengar malas bahas hal itu.


"Pandangan orang itu nggak selalu buruk, Sayang. Kalau kamu dagang gorengan juga pastinya kamu bakal dapat respon positif dari beberapa orang. Malahan kalau kamu nongkrong terus, pergi terus, orang-orang bisa mikir negative loh," urai Nara.

__ADS_1


"Aku malu sama temen-temen aku. Mereka punya banyak duit dan nongkrong setiap hari. Mereka pasti jadi jauhin aku." Rendi mengeluh tentang keadaannya.


Nara pun hanya menghela nafas panjang saja, karena ia sedang malas sekali berdebat. Ia tidak memiliki tenaga untuk berdebat, karena seharian ini dia bahkan tidak makan karena tidak ada apa-apa selain air putih.


"Atau kalau kamu mau makan yang enak, dan bosan sama masakan aku, kamu boleh kok makan di tempat bapak, atau mbah kamu. Mereka sering masak, kan?" tanya Nara sembari memegang tangan putrinya itu.


"Eh, boleh juga tuh. Besok kalau lapar, aku pergi ke tempat bapak ya? Besok aku minta uang bapak deh, siapa tahu dikasih," ucap Rendi.


"Ya udah, nggakpapa daripada kamu lapar, soalnya aku nggak punya uang sama sekali." Nara pun tidur di sebelah putrinya.


"Kamu mau aku bawain?" tanya Rendi.


Nara langsung menatap Rendi dengan sinis, seakan mengatakan kepada Rendi bahwa seharusnya Rendi peka dengan keadaan Nara.


"Iya, aku mau ya. Aku belum makan dari pagi," ucap Nara yang sengaja mengatakan bahwa dia belum makan sejak pagi.


"Oke ntar aku bawain. Syakila ngerengek terus, disusuin dulu gih. Aku ke tempat bapak dulu." ucap Rendi sembari pergi ke kamar dan langsung ke kamar mandi.


"Iya ini mau minum," ucap Nara sembari membuka pakaiannya.


Namun, air susunya yang keluar hanya sedikit, karena Nara hanya makan sedikit juga. Untungnya, Syakila yang mengerti dengan keadaan ibunya itu bisa tertidur lelap setelah minum beberapa teguk.


Rendi pun pergi ke rumah kedua orang tuanya untuk meminta lauk juga uang, berharap akan diberi oleh bapaknya.


Siang hari, Rendi sudah keluar dari rumah, namun sudah berjam-jam menunggu, Rendi tak kunjung pulang juga padahal dirinya sudah sangat lapar dan air susunya juga sedikit sekali yang keluar.


Hingga jam 9 malam, Rendi baru pulang ke rumah.


"Nih, dikasih 200 ribu sama bapak buat satu bulan, aku ambil 100 tadi buat ketemu temenku dulu. Kamu bawa 100 sampai akhir bulan dan diirit-irit." Rendi memberikan uang tersebut dengan melemparkan uangnya ke arah Nara. Membuat Nara sedikit kesal dengan sikap pria itu.


Namun, ia sudah tidak peduli dengan itu, karena saking laparnya, Nara langsung mengambil kantung plastik yang berisikan lauk dari rumah keluarga Rendi. Nara duduk di sebelah Syakila dan makan dengan lahap.


"Nggak usah buru-buru makannya, pelan-pelan aja," ledek Rendi.

__ADS_1


Nara hanya menatap sinis ke arah suaminya itu, Nara yang sudah kelaparan sejak tadi pagi hanya bisa menahan amarah saja, ia memilih menikmati makanannya. Bahkan, air mata hampir keluar dari mata Kana karena makanan itu sangatlah enak menurut Nara yang seharian tidak makan.


"Jahat banget, aku baru aja makan karena nunggu kamu pulang nongkrong, tahu!" batin Nara.


__ADS_2