
PLAK!
Melihat wanita itu naik ke atas panggung dan menampar sang ketua BEM, beberapa orang langsung menghampiri wanita itu dan memeganginya.
"BRENGSEK LO!" teriak Tia di panggung sembari berusaha melepaskan dirinya dari pegangan beberapa orang. Microfon panggung langsung dimatikan.
"Lo mau gue sebar air lo? Atau lo sadar diri?" tanya Tia dengan tatapan mata yang sangat sinis dan nampak kesal.
"O-oke oke." Rendi nampak ketakutan.
"Kalian semua jajaran BEM nggak pantes ngelakuin hal kekanak-kanakan kaya gini! Hubungan kalian ya privasi kalian! Nggak usah pakai disebar-sebar kaya gini! Jijik tau!" teriak Tia sekuat tenaga hingga beberapa penonton mendengarnya.
Rendi yang merasa akan terjadi kericuhan di atas panggung langsung meminta mereka semua untuk turun panggung dan meminta MC untuk menutup acara. Nama Rendi bukannya bakal jadi baik, justru bisa memburuk.
Semua orang turun dari panggung dan meninggalkan beberapa keheranan dari para penonton, sedankan Tia digeret dan dibawa ke ruangan transit panitia dan diadili di sana. Tia didorong dan menganggap sudah merusak acara.
"Heh! Lo pikir lo siapa! Seenaknya naik ke panggung dan ngerusak kejutan gue buat pacar gue! Norak banget lo!" ledek Adel yang sedang menggojlok Tia.
"Lo yang malu-maluin kampus! Masa acara kaya gini ditampilin di kampus! Lo sengaja ngejelekin nama Rendi ya!" bentak Tia yang geram dengan sikap mereka.
"Jelasin ke aku, Rendi. Dia siapa?" Adel menanyakan hal itu kepada Rendi dan nampak kesal juga.
"Sebagai ketua BEM, lo sama sekali nggak punya harga diri ya? Cewek kaya gini lo pacarin? Lo nggak malu sama publik? Kalian semua jajaran BEM juga nggak ada yang bener! Brengsek emang!" hardik Tia dengan berani.
"Heh! Jaga mulut lo ya! Lo juga attitudenya nol! Gue inget banget sama lo, dan nggak sekali ini lo nampar Rendi, waktu di kantin juga pernah. Lo tu siapanya Rendi, hah!" Adel mendekati Tia dan mendorong tubuh Tia dengan keras.
"Itu karena si Rendi, cowok lo itu harus sadar diri akan posisinya! Pantesan universitas ini nggak pernah maju, semua orang di sini pada dukung kebucinan! Lo nggak mikir ada yang sakit hati sama sikap kalian ini! Jijik gue liatnya!" Tia juga mendorong Adel dengan keras.
Suasana pun semakin ricuh, beberapa sepemikiran dengan Adel, beberapa juga sepemikiran dengan Tia. Ada yang mendukung Adel untuk berkelahi dengan Tia, ada juga yang berusaha melerai. Ruangan itu menjadi kacau balau.
"STOP!"
__ADS_1
Teriak seorang pria yang berada di daun pintu dan membuat semua orang melihat ke arah pria itu. Rendi terbelalak saat Nara juga berada di depan pintu dengan air mata yang mengalir dengan deras saat bertatapan dengan Rendi.
Nara langsung berlari menghampiri Tia dan menjauhkan Tia dari semua orang yang akan menghajar Tia. Nara memeluk wanita itu dengan erat dan menahan air matanya.
Saat Gibran masuk, semua orang nampak takut karena Gibran menunjukkan raut wajah yang cukup menakutkan, semua orang menjauh dari hadapan Tia dan Rendi. Gibran langsung berdiri di depan Nara dan Tia, dengan menahan amarahnya.
"Seumur hidup gue jadi panitia di acara ini, nggak pernah ada acara yang bikin malu kampus kaya gini!" teriak Gibran hingga membuat semua orang tertunduk ketakutan, termasuk Adel yang sedari tadi berbicara.
"Maaf, Kak. Ini kesalahan saya karena lalai dan miss komunikasi dengan acara ini. Besok saya akan menghadap dosen yang memegang acara ini," ujar Rendi dengan menundukkan kepalanya.
"Kalian nggak punya malu sama sekali. Kampungan! Rendi, kuakui lo memang loyal sama kedudukan lo yang merupakan ketua BEM, tapi tidak dengan gelar yang lain. Gue udah memperingatkan lo dari awal, kalau sampe lo bikin masalah dan sengaja nyakitin orang lain, gue yang nggak bakal tinggal diam. Sekarang, lo puas-puasin aja jadi ketua BEM. Yang lainnya, biar gue yang urus!" geram Gibran sembari mengepalkan tangannya.
Rendi yang seakan mengerti hal itu langsung melihat ke arah Nara yang sudah menangis, namun tak bersuara sama sekali.
"Nggak! Kak! Gue bisa jelasin kok! Gue juga nggak tahu ada acara ini!" ucap Rendi yang berusaha mencari pembelaan.
BUAKH!
"Ugh!" Rendi yang kesakitan dibantu berdiri oleh teman-temannya.
"Pukulan itu memang cocok buat lo yang sama sekali nggak bisa menghargai perasaan orang lain!" geram Gibran.
Pria itu pun langsung membawa Nara dan Tia pergi dari ruangan panitia. Sedangkan Rendi tidak bisa mengejar mereka, karena masih banyak hal yang harus dia selesaikan lebih dahulu.
"Rendi, lo nggakpapa?" tanya beberapa jajaran BEM yang merasa bersalah dengan kejadian tadi.
Rendi pun duduk dan menghela nafas panjang. Ia berusaha menyelesaikan satu persatu lebih dulu.
"Coba semuanya duduk dulu," pinta Rendi kepada semua orang.
Semua yang ada di sana langsung duduk dan melihat ke arah Rendi. Sebenarnya emosi Rendi juga sudah meluap-luap. Namun, dia berusaha tetap tenang di hadapan semua orang.
__ADS_1
"Lihat kan akibat dari acara yang kalian bikin di luar acara?" tanya Rendi yang sedang menghakimi teman-teman yang terlibat.
"Tapi, cewek tadi yang bikin semuanya hancur. Kalau nggak ada dia, udah pasti semuanya bakal-"
"DENGERIN GUE!" bentak Rendi yang sudah muak dengan berbagai macam alasan dan membuat semua orang terdiam. Adel menggenggam tangan Rendi dan menenangkan pria itu.
"Kalau kita jajaran BEM bakal dipanggil sama rektor, kira-kira yang bertanggung jawab siapa?" tanya Rendi.
Namun, semua orang tidak menjawab pertanyaan mereka. Karena mereka sudah tahu jawabannya dan ditambah lagi mereka juga takut dibentak oleh Rendi.
"Kalau kalian semua ditanya sama dosen atau orang-orang, bilang aja kemarin ada miss komunikasi dan itu salah gue. Biarin jabatan gue dicopot juga gue nggak peduli lagi. Yang penting, kalian harus ngerti, kalau hal yang kalian lakukan itu belum tentu baik dan bagus di mata semua orang." Rendi berusaha bicara dengan mereka. "Gue emang sayang sama Adel, cinta sama dia. Tapi cara gue nggak gitu. Cara gue sayang dan cinta sama Adel itu nggak seperti itu guys." Rendi merasa kecewa berat kepada mereka semua.
"Sorry, Rendi."
Semua orang mulai berbicara dan meminta maaf kepada Rendi. Sedangkan di kepala Rendi, sebenarnya semuanya sudah buyar. Kejadian tadi, pasti membuat hubungan Nara dan Rendi hancur, setelah menyelesaikan semua ini, dia masih harus menyelesaikan masalahnya dengan Nara. Kepalanya serasa mau pecah.
"Sekarang, balik ke jobdesk kalian masing-masing. Yang nggak ada kerjaan boleh jajan. Gue mau sendiri dulu di sini. Sorry ya kalau gue tadi ngebentak," ujar Rendi dengan penuh penyesalan dan berusaha berdamai dengan mereka semua.
Akhirnya, semua orang pun pergi meninggalkan Rendi.
"Sayang, maafin aku ya?" ucap Adel.
"Iya. Aku mau sendiri dulu boleh?" tanya Rendi.
"Iya Sayang. Maaf banget ya."
Adel nampak menyesali sikapnya tadi dan Rendi hanya tersenyum merespon wanita itu. Lalu, Adel pun menjadi orang terakhir yang keluar dari ruangan itu dan menutup pintu.
Di dalam, Rendi langsung menghela nafas panjang dan juga bingung. Ia mengacak-acak rambutnya seolah setres berat.
"Arrgghhh! Sialan!" umpat Rendi yang merasa kesal karena tengah bertarung dengan pikiran dan hatinya.
__ADS_1