Jerat Karma Suami Goib Ku

Jerat Karma Suami Goib Ku
Bab 10: PERGIII!


__ADS_3

Selalu saja perubahan drastis terjadi. Setiap kali dalam tekanan, maka raganya tak sanggup melawan. Setelah lepas dari tekanan, raganya terasa ringan tanpa ada gangguan. Sungguh sadar, tidak sadar, percaya, tidak percaya. Kenyataannya suami gaibnya mampu mengendalikan apapun baik melalui pikiran ataupun tatapan mata.


Ibu, Bella siap melakukan apapun agar ibu tersenyum. Tenanglah, Bu. Sekarang semua akan seperti yang ibu inginkan. Aku sayang ibu. ~batin remaja itu dengan tubuh luruh ke bawah memeluk lututnya sendiri.


Lucifer hanya tersenyum mendengar suara hati sang istri. Ia tahu benar bagaimana cara mendapatkan tujuannya. Setiap suara di dalam rumah tidak akan pernah berkhianat. Termasuk permintaan Sulastri terhadap Bella. Tidak ada penghalang yang mampu membatasi kekuasaan dan kekuatannya.


"Sekarang, waktunya membereskan satu masalah lagi. Aku datang adik iparku." ucap Lucifer langsung menghilang.


Wossh!


Ruangan kamar bernuansa serba putih dan biru menjadi tempat kemunculan sosok pangeran yang langsung saja duduk di tepi ranjang dengan tatapan intens menatap anak kecil yang masih terbaring di ranjang. Tidak ada aura manusia lain selain Abil adik iparnya. Wajah menggemaskan anak itu benar-benar membuat Lucifer memikirkan sesuatu yang gila.


Untuk pertama kalinya iblis disuruh nunggu. Sejarah dunia gaib berubah drastis akibat diriku sendiri. Percuma juga memaksa Bella. Kekuatan ku bisa hilang setengah. Jika istriku sendiri tidak rela memberikan hak ku sebagai suami. Sabarlah Lucifer, tunggu hingga bulan purnama ketiga. ~batin Pangeran Iblis membuyarkan segala angan yang pasti akan membuat alam murka.


"Uhuk! Uhuk!" Abil terbatuk, sontak Lucifer menjentikkan jarinya memindahkan segelas air putih dari atas nakas berpindah ke tangan kanannya, lalu mengulurkan ke anak itu.


Mata yang masih terbuka setengah, membuat Abil hanya menatap gelas di depannya tanpa melihat siapa yang memberikan. Disaat seteguk air mulai membasahi kerongkongan, lirikan matanya menatap wajah Lucifer. Gelas di tangan tak lagi dipegang dengan benar.


Pyaar!


"Uhuk! Uhuk!" Abil kembali batuk, tapi bukan karena haus. Melainkan karena keberadaan hantu di depannya. "Pergi!"


Lucifer terdiam melihat reaksi Abil yang terkejut dan juga ketakutan. Padahal saat ini bentuk rupanya sangatlah tampan. Apa ada yang salah dengan wujud manusianya? Sebuah cermin di sisi kiri ranjang menjadi tempat untuk berkaca. "Wajahku masih tampan. Hay, kenapa kamu mengusirku?"


"Pergii! Jangan dekati aku....,"


Lucifer mengulurkan tangannya berniat menyentuh pipi Abil, tetapi anak itu langsung bergeser menjauh ke sisi ranjang agar tidak disentuh sosok menyeramkan di depannya. Sikap adik iparnya benar-benar menyebalkan. Sontak dengan satu kedipan mata, ia membuat tubuh mungil itu terdiam di tempat.

__ADS_1


"Apa kamu takut denganku?" tanya Lucifer menatap Abil, sedangkan yang ditatap tidak bisa memberikan reaksi apalagi jawaban.


"Lihat wajahku baik-baik! Tampan dan tidak ada cacat sedikitpun. Kenapa kamu takut seperti itu?" ucap Lucifer dengan menunjuk wajahnya sendiri.


Pembekuan raga yang dilakukan Pangeran iblis. Justru berimbas pada bola mata Abil yang semakin memiliki garis merah. Benar-benar mata anak itu tersiksa karena rasa takut yang tak lagi bisa dikendalikan.


Pergiii! Makhluk jahat! Wajahmu hancuur. Hiks! Hiks! Ibu.~batin Abil yang terdengar bergema di seluruh kamar, mendengar suara hati adik iparnya. Lucifer menyeringai, perlahan mengubah wujud tampannya menjadi wujud asli.


Menjadi bayangan yang terbang bebas kesana kemari. Sungguh aneh ketika berubah wujud. Justru Abil mulai bisa bernafas normal. "Apa kamu tidak suka wujud tampan ku?"


Lucifer menjentikkan jari, melepaskan segel raga yang ia berikan pada tubuh adik iparnya. Tidak sepenuhnya terlepas karena hanya area wajah yang bisa bereaksi. "Sekarang katakan sesuatu padaku. Apa kamu mau jadi temanku?"


"Tidak." Jawab Abil dengan gelengan kepala.


Anak itu berusaha mengumpulkan sisa keberaniannya untuk menghadapi suami goib kakaknya. Disaat bersamaan pintu kamar terbuka, muncullah sang ibu yang membawa nampan makan malam.


"Nak, ayo bangun. Ibu buatkan sop ayam kesukaanmu." Ibu Sulastri masih belum menyadari keberadaan sang menantu hingga tatapan matanya terpatri ke arah ranjang Abil.


Tanpa peduli kuah sop ayam yang ikut terguncang dan tumpah ke nampan. Kini yang terpenting hanyalah menyelamatkan putranya dari pengaruh iblis penunggu rumahnya. Abil yang melihat wajah takut dan cemas sang ibu menggelengkan kepala. Berharap ibunya tidak mendekat.


Shuuut! Diamlah adikku. Biarkan ibumu memberikan sedikit pengorbanan. ~Suara batin Lucifer yang memasuki kepala Abil, tentu saja dalam satu kedipan mata raga anak itu kembali tersegel.


Tidak akan ada orang yang melihat kabut hitam kemerahan menyelimuti tubuh Abil kecuali mereka yang memiliki kemampuan khusus. Ibu Sulastri meletakkan nampan di atas nakas, lalu merengkuh tubuh putranya yang benar-benar terasa dingin.


"Tuuan, toloong lepaskan putraku." pinta wanita paruh baya itu dengan linangan air mata.


Sebagai seorang ibu. Ia sangat pasrah. Bukan tanpa alasan. Setiap perbuatan yang dianggap pengkhianatan. Hukuman yang didapat tidak akan pernah bisa dibayangkan. Semua sudah terjadi selama bertahun-tahun. Dulu leluhur berusaha mengusir Pangeran iblis dari tempat tinggalnya. Akan tetapi justru menjadi tragedi mengerikan. Dimana pembantaian seluruh keluarga menjadi awal kepasrahan.

__ADS_1


"Aku tidak melakukan apapun. Jaga putramu." Ucap Lucifer langsung menghilang begitu saja, membuat Sulastri bergegas menyadarkan putranya dengan membaca Ayat kursi.


Beberapa menit berlalu. Perlahan tubuh Abil kembali menghangat. Helaan nafas lega dengan ucapan syukur. Pelukan dilepaskan dengan tatapan mata lega. "Abil baik-baik saja 'kan? Maafkan ibu terlambat....,"


"Abil baik, Bu. Makasih ibu dateng, tapi sekarang perutku lapar. Suapi, Bu?" pinta anak itu berusaha mengalihkan perhatian sang ibu.


Usapan lembut di kepala Abil terhenti. Kemudian, nampan berisi makanan berpindah ke pangkuan sang ibu. Suapan demi suapan membuat keduanya sibuk dalam keheningan.


Lima belas menit kemudian.


"Abil istirahat ya! Ibu taruh nampan dulu ke dapur, nanti balik lagi." ucap Ibu Sulastri setelah selesai memberikan makan dan obat untuk putranya, Abil mengangguk paham dengan rasa kantuk yang tiba-tiba menyerang.


Mata yang mulai meredup masih samar melihat kepergian sang ibu. Pintu yang terbuka lalu tertutup kembali terlihat semakin buram. Namun, tiba-tiba saja ada tangan yang mengusap kepalanya. Ingin sekali melihat siapa yang menambah rasa kantuk semakin hebat, tapi tidak ada daya lagi.


"Tidurlah! Selamat datang di dunia ku....,"


...----------------...


Visual Pemain Jerat Karma Suami Goib Ku 🙃


Arabella



Pangeran Iblis Lucifer Bramasta


__ADS_1


...----------------...


Visual lainnya menyusul 🏃‍♀️


__ADS_2