
Aku ingin sekali lebih dekat denganmu, tapi kehidupan ku tidak normal. Aku akan berusaha menjadi temanmu. Sampai nanti, kebebasan ku tak lagi menjadi milikku.~batin Bella.
Bella menghampiri Diana seraya menepuk bahu kanan gadis tomboy itu, "Pagi, cantik. Maaf, ya. Aku telat."
"Uft, Bella. Aku seneng banget kamu datang, aku kira bakalan gagal ikut camping." Diana langsung memeluk temannya itu dengan erat, "Ayo, kita ke kelas bersama!"
Kebersamaan keduanya terlihat sangat adem seperti angin yang berhembus. Hari yang mempererat hubungan. Meskipun pada kenyataannya, ada rasa yang tersembunyi. Ada misteri di balik setiap keputusan. Waktu berlalu dengan cepat, menit berganti jam, jam berganti hari, dan hari baru kembali menyongsong.
Hari keberangkatan camping. Semua mahasiswa sudah siap dengan tas ransel di punggung masing-masing. Antrian panjang perlahan berkurang dengan para mahasiswa yang naik ke atas bus. Satu persatu menempati kursi duduk sesuai nomer absen.
"Bella, itu tempat duduk kita. Ayo!" Diana berjalan di depan diikuti Bella dari belakang, "Kamu suka di dekat jendela atau sisi yang ini?"
"Bisakah aku duduk di dekat jendela?" tanya Bella.
"Tentu saja, kamu duluan." Diana mempersilahkan Bella, duduk terlebih dahulu. "Apa disana ada air terjun? Deg-deg'an aku....,"
"Sabar, kita akan tahu nanti. Aku lupa baca acara kita selama camping." Ucap Bella mengalihkan perhatian Diana.
"Apa kamu serius?" Diana mencomot buku panduan yang hampir saja dibuka temannya itu, "Aku ada disini 'kan? Jadi aku saja yang jelaskan secara rinci."
__ADS_1
"Silahkan, aku siap menjadi pendengar setia." Jawab Bella dengan senyuman tipis.
Bug!
Kursi belakang kedua gadis itu dipukul seseorang.
"Eh copot, apaan sih?" Seru Diana, tapi ditahan Bella agar tidak mencari keributan.
"Loe yang kenapa. Tidur aja sono! Berisik banget dari tadi." bentak dari mahasiswa bertopi merah dengan gaya petakilan.
"....,"
"Bella....,"
"Aku bisa membaca panduan, kamu dengarkan musik aja pake headphone. Bus juga udah mau jalan." pinta Bella dengan tatapan lembut.
Disaat bersamaan dua dosen ikut masuk ke bus, tapi seseorang di barisan belakang menyita perhatian para mahasiswa. Seorang pria dengan pakaian sopan, wajah tampan berkharisma begitu mempesona. Bisik-bisik terdengar. Tetapi tak mengusik fokus Bella yang mulai tenggelam membaca panduan acara selama camping.
Perjalanan dari kampus menuju lokasi camping membutuhkan waktu kurang lebih satu jam setengah. Para mahasiswa memilih beristirahat, dan ada yang bersenandung riang. Ntah kenapa jika dipikirkan. Bukan seperti perjalanan yang menyenangkan, tetapi terlalu penuh keheningan. Tidak ada suara sorakan gembira dari para mahasiswa.
__ADS_1
Tujuan camping kali ini adalah Gunung Pancar terletak di Desa Karang Tengah, Babakan Madang, Bogor, Jawa Barat. Biasanya lokasi ini lebih familiar dengan sebutan Sentul . Lokasi Gunung Pancar dapat dicapai melalui Sentul City . Dengan ketinggian 300-800 mdpl , maka suhu di Gunung Pancar tidak terlalu berbeda dengan suhu di Kota Bogor , terutama Sentul yang berdekatan dengan Gunung Pancar . Gunung Pancar adalah pohon Pinus . Di sekitar hutan pinus Gunung Pancar juga tumbuh Rasamala , Puspa , Beringin , dan lainnya .
Awalnya semua baik, hingga bus memasuki sebuah gapura selamat datang di sebuah desa yang menjadi perbatasan wilayah. Desa yang asri dan terkenal dengan warganya yang ramah. Namun, tak seorang pun menyadari jika setelah mereka memasuki wilayah yang di anggap tempat penuh hiburan alam. Maka, perubahan atmosfer tak lagi sama.
Assalamu'alaikum. Izinkan kami semua berkemah. Sejenak mengajarkan cinta kasih kepada generasi bangsa akan keindahan alam. Bersyukur atas nikmat karunia Allah. Permisi.~batin seorang pria dengan pejaman mata melihat penyambutan makhluk tak kasat mata di sepanjang perjalanan yang hanya kurang lima belas menit dari tempat tujuan.
Bus semakin melaju pelan, hingga berhenti di tempat parkiran khusus. Terlihat bus rombongan satu dan dua sudah terparkir. Itu artinya mahasiswa senior sudah mencapai tempat tujuan lebih awal.
"Anak-anak, ayo turun satu persatu. Jangan lupa pasang nametag masing-masing." Ucap sang dosen yang berdiri di depan sana.
Bella memasukkan buku panduan, dan tidak lupa mengambil name tag atas namanya. Niat hati ingin memanggil temannya, justru harus menahan tawa. Wajah Diana tertutupi rambut dengan cemilan di tangan yang berhamburan. Satu goyangan bahu perlahan agar tidak mengejutkan dilakukan, tapi tetap saja tidak bangun.
"Assalamu'alaikum, Diana." Bella berbisik di telinga temannya begitu lembut.
Bukan Diana yang terbangun. Justru suara indah salam gadis itu mengalihkan perhatian pria yang baru saja berdiri dari kursinya. Suara yang lembut, tetapi terdengar merdu. Tatapan matanya tak sengaja melihat kearah dimana suara salam berasal.
Seorang gadis dengan penampilan sederhana. Hanya satu yang di sayang kan. Gadis itu masih membiarkan rambut indahnya terpampang dengan jelas.
"Astagfirullah, Ya Allah maafkan hamba yang telah melakukan zina mata." gumamnya memutuskan tatapannya, lalu bergegas meninggalkan tempat duduknya keluar dari bus.
__ADS_1