Jerat Karma Suami Goib Ku

Jerat Karma Suami Goib Ku
Bab 111: Special Part


__ADS_3

Suara erangan yang menggema membelah kesunyian di tengah rimbunnya pepohonan. Tatapan mata memicing dengan gumaman bibir bergetar. "Mati. Mati. Mati."


Perjanjian itu telah berakhir, tapi hal lain yang lebih menakutkan sudah menanti. Kehidupan itu akan terus berputar sebagaimana mestinya. Seperti alam yang memiliki hukum karma. Maka, begitu juga dengan jalur takdir yang akan mempertemukan bersama takdir lainnya.


Kini, Azzam memulai hidup barunya bersama Bella menjadi sepasang suami istri. Mereka berdua, bekerja sama membangun dan mensejahterakan para penghuni pondok pesantren. Tentu dibantu oleh Abi dan juga pengurus lainnya.


Dibawah kepemimpinan baru. Tidak kekurangan pangan ataupun yang lainnya, bahkan pendidikan para santri juga terjamin. Semua itu karena Azzam juga memiliki sebuah usaha yang mapan. Waktu begitu cepat berlalu, hingga lima bulan telah terlewati.


Di suatu hari. Dikala mentari pagi menyambut pagi hari dengan hangatnya sinar harapan. Tiba-tiba terdengar suara orang gaduh dari luar rumah utama, membuat Azzam yang saat itu baru saja keluar dari kamar mandi. Langsung berlari keluar rumah.


"Ada apa ini?" tanya pria itu membuat para santri menyingkir, lalu memperlihatkan Bella yang tak sadarkan diri. Istrinya terkulai lemas di pangkuan salah satu santriwati. "Bella, apa yang terjadi padamu?"


"Kak Azzam, tadi ketika kami ingin ke kebun bersama-sama. Tiba-tiba saja, Ka Bella pingsan. Jadi kami tidak tahu harus bagaimana." Lapor salah satu santri yang memang melihat seluruh kejadian.


Azzam mengangguk paham, lalu mengambil alih tubuh Bella dari santriwati itu. Ia tidak ingin terjadi sesuatu pada sang istri dan bergegas membawa Bella masuk ke dalam mobil pribadinya. Tanpa memperdulikan penampilan yang hanya memakai sarung berteman kaos polos berwarna putih.


Mobil melaju meninggalkan pondok pesantren. Perjalanan menuju sebuah klinik terdekat hanya memakan waktu 20 menit. Pria itu dengan cekatan kembali menggendong Bella membawanya masuk ke dalam klinik dan tak lupa meminta bantuan pada seorang dokter yang bertugas di klinik tersebut.


Setelah menunggu beberapa saat. Dokter yang menangani istrinya keluar dari ruangan, lalu melambaikan tangannya untuk membiarkan ia masuk ke dalam ruangan itu. Ruangan empat kali lima meter dengan cat dinding putih kebiruan. Nampak Bella masih terbaring di atas brankar dengan mata terpejam.


"Silahkan duduk, Pak." ucap Sang dokter dengan ramah, "Saya sudah memberikan suntikan vitamin untuk pasien. Setidaknya, pasien akan istirahat selama dua jam."


"Bagaimana keadaan istri saya, Dokter. Semoga Bella baik-baik saja dan tidak ada hal yang serius." ucap Azzam mencoba untuk tetap positive thinking.


Dokter itu tersenyum seraya menuliskan sesuatu di laporan pemeriksaan pasien. Ia ingin memberikan waktu sejenak agar suami pasiennya memiliki ketenangan. ''Baiklah, Saya rasa, Bapak sudah mulai tenang. Saya ucapkan selamat kepada bapak ...,"


"Tunggu dulu, Dok. Selamat untuk apa? Hari ini, bukan ulang tahunku." Azzam menyela ucapan dokter itu.


Sang dokter tersenyum karena tingkah Azzam yang tidak sabaran. Dia tahu, jika pria itu merasa cemas dan khawatir akan kondisi istrinya, tetapi terlihat jelas cinta seorang suami yang begitu besar. Padahal, dia hanya ingin mengatakan hal penting. Sayangnya sudah diterobos begitu saja.

__ADS_1


Mungkin takut, jika berita yang disampaikan adalah berita tidak baik. "Maaf, Pak. Saya hanya ingin mengatakan. Jika istri anda, saat ini tengah mengandung tiga minggu. Maka dari itu, Saya ucapkan selamat Anda akan menjadi seorang ayah."


Seperti hembusan angin yang menerpa lembut, dingin, tetapi menyejukkan. Berita itu menghentakkan kesadarannya. Benarkah ia akan menjadi seorang ayah? Setelah beberapa waktu menunggu. Barulah menyadari ucapan dokter bukan hanya sebuah candaan. Azzam langsung melakukan sujud syukur.


Ia tidak peduli dengan lantai yang kotor atau apapun itu. Baginya kabar kehamilan Bella adalah rezeki dan keberkahan untuk keluarga barunya. Meskipun telah menjadi pemilik pondok pesantren. Ia tetap manusia biasa. Dimana terkadang, disaat beberapa orang menggunjing di belakangnya.


Ada rasa sakit yang menghantam. Rasa itu bukan untuk dirinya, melainkan untuk sang istri. Beberapa orang yang mengetahui kehidupan Bella. Sebelum menjadi istrinya. Mereka berpikir, jika sang istri tidak akan bisa memiliki anak. Semua itu hanya karena sebuah pemikiran tak berhati.



Mereka mengatakan, janda makhluk gaib. Nyatanya Allah Maha Adil. Setelah semua pertobatan yang ia ajarkan dan dilakukan secara bersama-sama. Allah memberikan mukjizat, dan Alhamdulillah keberkahan itu menjadi rizki yang membahagiakan.


Setiap cobaan akan selalu memiliki hasil dari usaha kita sendiri. Terkadang manusia menyerah, maka ia kalah dengan ujian yang tengah dihadapinya. Namun ketika seorang manusia berhasil menyelesaikan tantangan dari rintangan itu sendiri. Maka, insya Allah kehidupan akan semakin lebih baik.


Begitu juga dengan hubungan Azzam dan Bella. Keduanya yang baru saja merajut rumah tangga, bahkan masih seumur jagung tetapi menerapkan kerjasama dan hubungan didasari dengan prinsip kebenaran. Apa yang tidak mungkin, menjadi mungkin. Kebahagiaan itu akan datang, di saat badai telah menghilang.


"Assalamu'alaikum, Najwa Humaira. Bolehkah, Abi ikut mendengarkan syair indahmu, Nak."



Najwa Humaira. Gadis kecil dengan wajah mirip Bella, bahkan pahatan gadis itu seperti keluar dari cetakan yang sama. Senyuman berlesung pipi, dengan rona merah yang menggemaskan. Putri kecil yang kini menjadi pusat perhatian seluruh penghuni pondok pesantren. Ia tengah duduk ditemani beberapa main kesayangan.



"Abi, Bunda mana?" tanya Najwa seraya menyambut tangan yang terulur di depannya untuk ia kecup sepenuh hati.



Pertanyaan yang sama selama beberapa bulan terakhir dari putrinya. Sesak rasanya, ketika pulang mencoba menghantarkan kerinduan yang mendalam. Najwa Humaira selalu menanyakan keberadaan Bella. Bagaimana caranya menjelaskan tentang keadaan keluarga yang tengah tidak baik-baik saja.

__ADS_1



Direngkuhnya tubuh kecil yang selalu bahagia dengan kesederhanaan. Sejenak membenamkan kecupan hangat yang bersandar ke kening sang putri. "Najwa Humaira. Bunda ...,"


.


.


.


.


.


.


...πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸ–€πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ...


...Pagi READER'S tersayang😍...


...Karya Jerat Karma Suami Goib Ku...


...Telah mencapai Akhir...


...Stay tuned, untuk Part-part Ending...


...Happy Reading, Thank's for all SUPPORT...


...πŸ˜πŸ™πŸ™πŸ™πŸ˜...

__ADS_1


__ADS_2