Jerat Karma Suami Goib Ku

Jerat Karma Suami Goib Ku
Bab 74: Kisah ini bermula...


__ADS_3

"Ibu Sulastri! Waktu kita tidak banyak. Tiga hari setelah purnama ketiga. Jika Bella tidak kembali ke dunia manusia. Maka, tidak akan ada harapan lagi."


Pernyataan dari Diana menyentak lamunan nya. Jantung berdegup kencang dengan pikiran tak karuan. Rasa takut kehilangan Bella kembali menguasai hatinya. Rasa itu tak sebanding dengan rasa kehilangan suami saat beberapa tahun silam. Namun, ada yang menahan bibir untuk berkata jujur menceritakan kisah awal mula perjanjian yang dilakukan para leluhur.


Abil yang melihat sang ibu ketakutan berusaha untuk memberikan kekuatan dan semangat dengan memeluk erat tubuh wanita itu. Sentuhan hangat seorang anak perlahan menenangkan, membuat Ibu Sulastri menatap sang putra. Tatapan mata saling terpaut dengan kasih sayang keluarga. Perlahan terdengar suara helaan nafas.


"Kisah ini bermula dari leluhur ku yang bernama Wagio Supardi. Dulu, keluarga ku bukan orang yang dianggap, bahkan seperti keluarga buangan. Pada suatu hari, disaat Simbah mencari kayu bakar di hutan. Beliau tidak sengaja memotong sulur pohon beringin tua. Awalnya tidak terjadi apapun, hingga beberapa hari setelah itu. Istri beliau sakit-sakitan."


Semua orang yang ada di ruangan itu mencoba menjadi pendengar yang baik. Membiarkan Ibu Sulastri menatap ke luar jendela. Dimana di samping rumah hanya ada beberapa tanaman pot mini. Siapapun yang melihat ekspresi wanita itu. Pasti akan mengatakan, wajah muram dengan sorot mata sendu. Ntah seberapa besar rahasia yang terpendam, tapi wanita itu tetap bisa menjalani hidup senormal mungkin.


"Simbah berusaha mencari pertolongan, tapi tidak seorangpun mau menolong. Orang-orang hanya menganggap keluarga ku sebagai buangan. Singkat cerita, beliau mendapatkan sebuah mimpi. Yah, mimpi yang menunjukkan jalan untuk menyembuhkan istrinya. Rasa takut kehilangan dan ditambah kondisi yang semakin memburuk dari sang istri. Maka, Simbah bergegas menuju tempat yang pernah dia kunjungi saat di alam mimpi."


"Jalan itu, tak lain adalah jalan menuju pohon beringin tua yang pernah Simbah ambil sulurnya. Simbah sadar, sakit yang diderita istrinya adalah akibat dari perbuatannya sendiri. Hingga akhirnya, beliau bersimpuh memohon ampun dan meminta kesembuhan. Namun, sang penunggu memberikan syarat yang mengejutkan."


"Syarat itu cukup berat, tapi tidak beresiko. Kecuali bagi keturunan kesebelas. Yah, sang penunggu pohon adalah Pangeran Iblis yang saat itu tengah mencari pewaris darah murni. Simbah berpikir, beliau bisa mengakhiri perjanjian itu dengan melarang anak mereka menikah. Sayangnya, tidak bisa. Setiap keturunan memiliki ego yang tidak bisa dibantah. Termasuk aku sendiri."

__ADS_1


Ibu Sulastri menghirup nafas begitu dalam, lalu menghembuskan secara perlahan, kemudian memejamkan mata. Rasa sesak di dada semakin terasa, "Aku tidak tahu, bagaimana dan kapan semua terjadi. Akan tetapi, setelah melakukan pernikahan. Tiba-tiba saja, bapakku mengajak kami pulang ke rumah.Saat itu, aku menikah tanpa restu orang-tua. Siapa sangka, larangan menikah itu, ternyata untuk kebaikan diriku sendiri."


"Aku tidak menyesal telah melahirkan kedua anakku. Hanya saja, aku tidak tahu. Jika salah satu keturunan ku adalah keturunan kesebelas. Bapak sudah memintaku untuk tidak hamil, tapi Sang Pencipta memberikan pernikahan kami rezeki keturunan. Di malam kelahiran Bella, gerhana bulan merah menyelimuti langit. Di malam itu, keluarga kami berkumpul."


"Aku ingat nasehat terakhir bapak. Beliau mengatakan, agar aku tidak melupakan tugasku sebagai pewaris perjanjian dan mencoba untuk membuat peraturan rumah. Tentu agar putriku tidak bernasib sama. Selama ini, aku melarang Bella untuk melangkahkan kaki ke lantai dua dan itu berlaku untuk Abil juga. Hal itu, justru menambah rasa penasaran gadis kecilku."


"Kisah keluarga ku bukan tentang kekayaan, tapi hanya tentang satu kesalahan yang Simbah lakukan. Perjanjian ini, tidak meminta pengorbanan darah, apalagi nyawa manusia. Meski begitu, Pangeran Iblis hanya membutuhkan seorang pewaris dengan garis keturunan kesebelas dan itu jatuh pada Bella, putriku. Jika tentang rahasia lain dirumah ini, aku sendiri tidak tahu. Selain yang ku dengar dari bapak."


Keluarga Diana saling menatap satu sama lain. Kini kisah dari keluarga Wagio Supardi sudah lengkap. Satu kebenaran dari terungkap dari mulut Ibu Sulastri dan sisa kebenaran dari Ki Wongso. Hanya saja, saat ini, apakah waktunya tepat. Jika ingin memberitahu sisa kebenaran dari perjanjian itu? Waktu pun semakin berkurang, tapi jika tidak lengkap. Sudah pasti akan timbul kesalahpahaman.


Sulastri membuka mata, lalu menatap tak paham ke arah wanita beruban yang di panggil Simbah, "Apa yang kalian bicarakan? Aku tidak paham. Kebenaran yang mana? Perjanjian leluhur ku sudah ku ceritakan semuanya."


"Sebelumnya, Diana mau, ibu tetap tenang," Diana menuangkan air putih ke dalam gelas, kemudian mengambil sesuatu dari dalam saku celananya, "Ini adalah sepotong kain dari pengikat janji yang dilakukan leluhurnya ibu. Cerita dari ibu hanyalah separuh kebenaran, dan separuhnya lagi. Aku sendiri yang akan menceritakan. Saat ini juga."


Kain merah yang berasal dari pita merah. Yah, pita yang diambil dari sebuah pohon beringin dan pohon itulah asal muasal kisah ini bermula. Diana memasukkan potongan kain itu, lalu mengambil satu bunga plastik dari vas di atas meja. Tangkai yang panjang sepuluh senti digunakan untuk mengaduk isi gelas agar kain tenggelam menyatu bersama airnya.

__ADS_1


Warna putih air berubah menjadi merah seperti darah, tapi aroma yang tersebar justru berbau aroma bunga setaman. Aroma itu sangat mirip seperti bau sang menantu gaib. Disaat fokus mengamati apa yang di lakukan Diana. Tiba-tiba saja, angin berhembus kencang, bahkan jendela-jendela terbuka dengan sendirinya. Suara hantaman keras mengejutkan, membuat semua berjingkrak kaget.


Meski begitu, Diana tidak menghentikan kegiatannya dan terus mengaduk kain di dalam air yang ada di gelas hingga warna kain itu berubah menjadi hitam pekat. Barulah kain diangkat, "Kain ini adalah bukti dari keserakahan leluhur. Setengah kisah yang ibu ceritakan, memang benar adanya. Hanya saja, setengah lagi akan menghancurkan kepercayaan yang Anda miliki."


"Sang leluhur bukan hanya meminta kesembuhan untuk istrinya saja. Melainkan meminta kemakmuran dan juga kekuatan sakti. Beliau menjadi orang hebat dengan bantuan Pangeran Iblis, tapi untuk itu. Maka pengorbanan harus di lakukan. Mungkin, selama ini, Anda berpikir orang-orang yang meninggal di keluarga hanya karena kecelakaan yang wajar atau memang sudah usia tua."


"Bukan seperti itu kenyataannya. Kematian dari suami ibu Sulastri merupakan ganti rugi karena telah melanggar peraturan rumah. Sudah pasti, tidak akan Anda ketahui tentang itu. Dimana seminggu sebelum meninggal, suami ibu diam-diam memasuki kamar tirai hitam. Peraturan rumah ini bukan hanya satu, tapi ada tiga."


Diana melipat kain hitam menjadi berbentuk segitiga, "Peraturan pertama tentang nyawa ganti rugi dan itu terjadi terhadap suami ibu. Peraturan kedua tentang pertukaran jiwa dan itu terjadi pada ibu sendiri. Peraturan ketiga dan yang terakhir adalah...,"


Wuuussshh!


Bruuaaak!


Djuuuarr!

__ADS_1


__ADS_2