Jerat Karma Suami Goib Ku

Jerat Karma Suami Goib Ku
Bab 72: ALUR TAKDIR


__ADS_3

Dimana pintu itu bisa digunakan untuk menyelamatkan jiwa-jiwa yang tersesat. Sekilas terdengar aneh, tapi ini ibarat pintu untuk menuju dua alam sekaligus. Hanya saja, tak semua orang bisa melihat keberadaan pintu gerbang cahaya. Jadi malam ini menjadi penentu. Apakah dua dunia tetap seimbang atau harus hidup berpisah.


Suara tabuhan gendang dengan nyanyian Jawa terdengar seirama menggema di seluruh penjuru alam gaib. Langit dengan kabut putih perlahan berubah menyatu dengan kegelapan. Dari jendela sebuah kamar di istana. Romo tengah menatap perubahan itu, "Purnama ketiga akan datang, tapi pernikahan putraku bersama istri manusianya menjadi ancaman terbesar. Aku tidak ingin jalan hidup yang pernah ku lalui, akan dilalui oleh Lucifer. Meski, tindakannya memang benar."


"Akan tetapi, tidak satupun makhluk di kerajaan ku mampu mengalahkan Lucifer. Gael juga harus menjadi tahanan istana. Memang keputusan ku salah karena menjodohkan pangeran kedua dengan Arum," Romo memalingkan wajah, ia beralih menatap kamarnya yang besar tetapi hampa, "Mau, tidak mau. Pernikahan akan tetap terjadi, kecuali ada yang sanggup menghentikannya."


Dilema yang dialami Romo tidak sepenuhnya salah. Pria paruh baya yang selama ini menjadi raja di masa lalu juga menikah dengan seorang manusia. Maka dari itu, Lucifer bukan iblis sembarang iblis. Meski kekuatan yang dimiliki sang putra hanya setengah di saat lahir. Putranya memiliki sebuah batu yang menjadi warisan leluhur. Malam ini, bukan hanya menjadi penyatuan, tapi juga menjadi arah angin yang berubah haluan.


Lamunan dengan kesadaran yang tersisa, membuat Romo memilih untuk menikmati alur takdir. Sementara Lucifer baru saja muncul di atas batu yang sama seraya tersenyum manis begitu melihat Bella yang di antar Nyai Sekar Abang. Penampilan seperti pengantin baru dengan rambut digelung tertutup kembang melati. Riasan wajah natural, tubuh mengenakan kebaya yang menjuntai panjang ke belakang.


"Calon istri Pangeran telah siap," ucap Nyai Sekar Abang dengan memindahkan tangan Bella ke tangan sang pangeran.

__ADS_1


Tanpa ada kata terimakasih, Pangeran Lucifer mengedipkan mata. Keduanya langsung menghilang dari sungai keramat. Kepergian kedua makhluk penting itu, membuat Nyai Sekar Abang merubah wujudnya. Dari seorang wanita cantik menjadi ular berkepala manusia. Wujud itu akan nampak ketika penjaga sungai keramat melakukan perjalanan.


Seluruh rakyat berbondong-bondong menuju tempat pemujaan. Dimana tempat itu berada di atas gua yang menjadi tempat Delisa melakukan ritual. Di atas sana ada sebuah pohon dengan bunga tiga warna. Warna putih yang melambangkan ilusi. Warna merah darah yang melambangkan petaka dan warna hitam yang melambangkan kesejahteraan.


Suara burung gagak tak berjiwa beterbangan menyatu dengan suara alunan tabuhan gendang. Para makhluk mulai berkumpul menempati pelataran yang luas. Disaat langit terbagi menjadi dua warna. Pangeran Lucifer dan Bella muncul di depan ayunan. Namun, ntah kenapa sepertinya istri sang pangeran menatap dengan tatapan mata kosong. Seakan tidak memiliki kehidupan di dalam raga manusianya.


Semua itu bukan tanpa sebab karena Pangeran Iblis sengaja menyegel jiwa Bella. Dia tahu, di saat puncak purnama ketiga. Para makhluk memiliki tingkat energi yang jauh lebih besar dari biasanya dan demi melindungi sang istri. Maka ia menghilangkan aura kehidupan yang dimiliki gadis itu. Perlahan langit mulai menggelap, hingga tak satu mata pun bisa melihat sekitarnya.


Sentuhan tangan Lucifer terasa begitu dingin, membuat Bella mengeratkan genggaman tangannya. Saat ini hanya Pangeran Iblis yang bisa melihat di dalam kegelapan, lalu tanpa menunda waktu. Pria itu merengkuh pinggang sang istri, kemudian membisikkan sebuah mantra pengikat raga. Hembusan angin menyebarkan aroma bunga yang berjatuhan dari pohon di belakang keduanya.


Sinar bulan Purnama Ketiga mulai menyorot dari atas langit menembus awan kegelapan. Disaat itulah, para makhluk melihat Pangeran Lucifer tengah meraup bibir sang istri manusia dengan pagutan mesra. Proses penyatuan telah dimulai dan lingkaran perisai perlahan menjadi bara api. Kobaran itu membumbung tinggi, membuat semua mata tak sanggup untuk melihat apa yang terjadi selanjutnya.

__ADS_1


Namun, tidak dengan Bella. Dimana gadis itu mulai merasakan hawa panas di sekujur tubuhnya. Lucifer memberikan sentuhan yang tidak mampu ia tolak. Penyatuan raga di bawah bulan purnama, membuat bunga-bunga yang ada di pohon berjatuhan semakin banyak. Tepat disaat bulan bersinar semakin terang. Disaat itulah sebuah batu delima merah keluar dari kening Pangeran Lucifer.


Apa yang terjadi selanjutnya? Hanya Lucifer dan Bella yang tahu, penyatuan itu seperti runtuhnya usia tua dan kembali muda. Seperti wilayah tandus yang tiba-tiba saja menjadi subur. Bara api seketika hilang tanpa jejak dan para makhluk sudah bisa melihat kembali. Di depan mereka, Pangeran Lucifer tengah duduk di ayunan sembari mengusap kepala Bella yang berbaring di pangkuannya.


"Sambutlah ratu baru kalian! Mulai detik ini, hanya dua perintah yang diterima di istana ku. Perintahku dan perintah istriku."


Pengumuman itu, menhub para makhluk menundukkan pandangan, lalu mulai duduk bersimpuh sebagai bentuk penghormatan, "Hidup Raja dan Ratu Iblis!"


"Hidup Raja dan Ratu Iblis!"


Seruan para rakyat seperti alunan lagu yang indah, tapi seketika ada bola-bola api yang terbang melesat mengepung Pangeran Lucifer. Pangeran pertama justru tersenyum tipis, "Malam ini memang harus di rayakan. Kenapa ganaspati ini begitu kecil?"

__ADS_1


Puluhan bola api yang mengepungnya hanya di tatap dan dalam satu kedipan mata langsung hilang tanpa sisa. Sontak para rakyat terkagum dengan kekuatan yang dimiliki Raja baru mereka. Sebelumnya, mereka masih memiliki keraguan. Akan tetapi, hari ini tidak perlu meragukan apapun lagi dari Pangeran Lucifer.


"Hidup Raja dan Ratu Iblis!"


__ADS_2