
"Milikku! Milikku!"
Gael langsung berguling di tanah agar bisa menyambar tubuh Delisa yang terlalu lemah. Tetapi sayang, di saat bersamaan. Bella menjentikkan jari, membuat tubuhnya melayang. Satu ayunan jari menghentakkan tubuh yang membentur pohon besar.
"Ukhuk!"
"Ukhuk!"
"Ukhuk!"
Suara batuk dengan muntahan darah segar keluar dari mulut pangeran kedua. Sangat dahsyatnya hempasan yang dilakukan Bella. Benar-benar menohok ke ulu hati. Rasanya nyeri dengan remas@n yang memeras jantung. Gael berusaha untuk bangkit.
Tatapan matanya terpatri pada tubuh Delisa yang kini menjadi mainan Bella. Tubuh wanitanya terombang-ambing melayang di udara. Meski istri kakaknya bisa mempermainkan tubuh Delisa. Tetap saja ada bentrokan kekuatan, diantara kedua permata hingga satu gerakan di sisa kesadaran menghentak tubuh keduanya.
Bella terpental jauh, tapi masih sanggup berdiri tegak. Namun, tidak dengan Delisa. Dimana wanita itu, seketika tak sadarkan diri setelah membentur tanah untuk kedua kalinya. Melihat itu, Gael mengerahkan kekuatannya melesat membawa pergi sang kekasih.
Seperti kilatan cahaya. Keduanya menghilang membuat Bella berteriak murka. Bunga panca warna yang menyisakan warna separuh dilemparkan begitu saja. Bunga itu, tidak menarik lagi baginya. Permata merah delima yang berdetak semakin merasuk menguasai tubuh gadis itu.
Sementara di dunia manusia. Makhluk yang menyamar menjadi Ibu Sulastri berhasil melepaskan diri dari tasbih milik Azam. Butiran tasbih yang berjatuhan, membuat makhluk itu mengubah wujudnya kembali menjadi manusia. Wajah yang dipilih masih sama yaitu wajah Ibu Sulastri.
Pasti ada yang berpikir. Kenapa makhluk itu menjadi ibu Sulastri. Mari kita kembali ke flashback di hari Bella menyerahkan diri menjadi pertukaran jiwa sang ibu. Gadis itu hanya memahami satu hal. Dimana demi mengembalikan kehidupan ibunya. Maka, dia harus menjadi istri Pangeran Iblis.
Nyatanya, disaat Lucifer melakukan pembantaian dengan menyiksa jiwa Ibu Sulastri dengan cambukan. Saat itu adalah akhir dari hidup ibunya. Raga yang kembali bernafas, bukan karena jiwa dikembalikan. Tetapi, pangeran iblis meniupkan jiwa makhluk lain agar tetap bisa memanfaatkan Bella.
Sikap dan sifat dari Ibu Sulastri masih sama seperti manusia pada umumnya. Hanya saja, tidak seorang pun menyadari. Jika, wanita paruh baya itu dalam kendalinya. Semua yang terjadi di dalam rumah itu. Seperti rancangan yang sempurna.
__ADS_1
Kebenaran akan sosok dari pengisi raga Ibu Sulastri hanya menjadi tanggung jawab Lucifer sang pangeran iblis. Kini makhluk itu, kembali menguasai tubuh manusianya. Berkat kekuatan yang dimilikinya. Ibu Sulastri bisa berpindah tempat dengan mengucapkan sebuah mantra.
Wanita itu, seketika sudah kembali berdiri di depan rumahnya. Rumah bertingkat dua yang beratap awan gelap. Padahal di atap rumah lain terlihat begitu cerah tanpa kegelapan. Langkahnya berjalan memasuki halaman rumah hingga pintu tak terkunci terbuka begitu saja.
Suasana teramat sepi. Tidak ada para makhluk ataupun manusia yang menempati rumah itu. Lalu, kemana perginya semua orang? Tatapan matanya menelusuri semua sudut rumah, hingga terhenti tepat di pintu kamar tirai hitam yang terbuka sedikit.
Sebagai makhluk dengan raga manusia. Ibu Sulastri berusaha untuk bersikap senormal mungkin dengan berjalan, bukannya berlari cepat dengan melesat. Beberapa menit berlalu, akhirnya langkah kaki terhenti tepat di depan kamar tirai hitam.
Pintu yang terbuka sedikit. Didorongnya hingga semakin terbuka lebar. Aneh, ketika seluruh sudut ruangan nampak. Tetap saja, tidak ada seorangpun yang berada di kamar itu. Meski masih banyak sesajen yang berserakan. Ibu Sulastri melangkah masuk untuk memeriksa, tetapi tetap tidak menemukan apapun.
"Ada aroma manusia, tapi kenapa tidak ada wujudnya? Apa mungkin, tubuh wanita tua ini mulai membusuk? Tidak. Aku masih betah menjadi manusia."
Ibu Sulastri kebingungan, dan tanpa berpikir panjang bersimpuh meraup sesajen bunga kembang tujuh rupa yang layu. Tanpa basa-basi, apalagi menengok kanan dan kiri. Bunga itu di lahapnya begitu saja.
"Eemppptt ....,"
Anak itu, tidak bisa menyembunyikan rasa shock. Ketika melihat cara makan Ibu Sulastri yang melahap sesajen basi. Apalagi kuku yang tiba-tiba memanjang semakin meraup bunga layu lebih banyak lagi.
Ya Allah. Selama ini, Ibu Sulastri bukanlah manusia, tetapi makhluk jadi-jadian. Itu berarti, Bella dan Abil hanya dimanfaatkan. ~batin Diana mencoba untuk menjaga emosi seraya memeluk tubuh Abil yang bergetar hebat melihat kelakuan sang ibu.
Kebenaran yang pahit, tetapi membuat Diana mengabungkan setiap peristiwa dengan seksama. Gadis itu, berpikir keras bagaimana untuk menyelesaikan masalah yang kini terpampang jelas di depannya. Namun, ketika melihat garis merah yang melingkar membentuk setengah lingkaran.
Dia sadar, jika pria yang menyelematkan mereka berdua memang ingin memberikan perlindungan. Sekarang yang harus dilakukan adalah menunggu semua kembali normal. Meski untuk itu, dia dan Abil harus menahan rasa haus dan lapar. Setidaknya sudah terbebas dari gangguan para makhluk yang akan menguras tenaga lebih banyak lagi.
Kini, hidup Diana dan Abil hanya sebatas di dalam pagar pembatas lingkaran merah. Ntah itu terbuat dari apa, tetapi hampir mirip seperti abu suci milik Simbah. Sementara itu, Ibu Sulastri palsu masih sibuk melahap bunga, bahkan tak sungkan meraih beberapa tulang belulang untuk dijil@t seperti seorang hewan.
__ADS_1
Perilaku itu, semakin menambah rasa takut Abil yang masih saja mengintip dari balik pelukan Diana. Tatapan matanya, tidak bisa berhenti dan terus saja mengikuti setiap gerakan wujud wanita yang mirip ibunya itu, hingga tiba-tiba saja. Salah satu mata wanita paruh baya itu, terjun bebas menggelinding ke arahnya.
Pemandangan yang menyeramkan tak terelakkan. Diana bahkan harus menahan nafasnya agar tidak mengeluarkan sepatah katapun. Tak lupa bergegas menyembunyikan Abil agar tidak terus menerus menatap wajah hancur Ibu Sulastri.
"Mataku, dimana? Tubuh ini terlalu cepat membusuk. Aku harus mencari bunga yang segar." ucapnya seraya menyusuri lantai agar menemukan bola matanya yang menggelinding di depan lingkaran merah yang dibuat oleh Azam.
Tangannya semakin mendekati bola matanya, di saat bersamaan. Abil tak sanggup lagi menahan gejolak di dalam perutnya. Keringat dingin membasahi punggung anak itu. Baru saja bibirnya akan bergumam, Diana langsung membungkamnya kembali.
"Akhirnya ketemu bola mataku."
.
.
.
.
*Yeay akhirnya bisa double up 🔥🌚
Jangan lupa jejaknya, ya.
Jangan baca sendirian juga.
Awas, nanti ....
__ADS_1
🏃♀️
Ingatlah, Godaan lebih banyak ketika iman di dalam diri kita tidak bisa membedakan mana hasrat dan mana kebutuhan. Percayalah, di dunia yang modern inii,, masih ada yang berbau hal mistis*.