Jerat Karma Suami Goib Ku

Jerat Karma Suami Goib Ku
Bab 82: KELUARGA MANUSIA / KELUARGA IBLIS


__ADS_3

"Mundurlah! Dia adalah budak iblis. Raga itu hanya alat, tapi jiwa nya bukan manusia lagi."


Pernyataan dari pria sang penuntun jalan mengejutkan. Bagaimana mungkin? Ibu Sulastri adalah manusia, kenapa tiba-tiba saja ….


Wanita paruh baya itu berubah wujud. Wajahnya tiba-tiba saja menjadi keriput dengan mata merah yang membesar. Kuku hitam yang memanjang dengan cara jalan seperti robot. Sungguh mengerikan, tapi Azam terlihat tetap tenang. Pria itu tidak terpengaruh sedikit pun.


"Hiyaaa ....,"


Makhluk yang ntah apa namanya melompat menyerang Azam, tetapi pria itu hanya menampik dengan satu tangan, membuat si makhluk terpental. Bukannya menyerah, justru kembali menyerang berulang kali. Perkelahian tak terelakkan. Dimana keduanya menjadi baku hantam.


Langkah cepat dengan serangan kilat, membuat Azam harus waspada agar tidak terkena cakaran kuku hitam si makhluk. Sementara makhluk itu merasa tidak bisa mengalahkan pria yang memiliki ilmu cukup tinggi. Tiba-tiba siluet tubuh Ela nampak mengalihkan perhatiannya.


Satu gerakan seakan ingin menyerang Azam, membuat pria itu menghindar, tapi siapa sangka. Makhluk itu justru langsung mencakar tangan Ela yang terdiam ditempat. Meski reflek terhuyung ke belakang. Tetap saja, cakaran masih menusuk kulitnya.


"Auuw," rintih KaCan menahan tangan kirinya yang terkena cakaran, sensasi perih yang menyebarkan hawa panas.


Melihat itu, Azam melemparkan tasbih nya hingga masuk tepat melingkar ke leher si makhluk. Tanpa ingin menunda waktu, dia menghampiri Ela secara menyobek ujung koko nya, "Kemarikan tanganmu! Seharusnya, kamu tidak bermain dengan makhluk seperti mereka. Makhluk yang kamu bawa ini iblis. Bukan sembarang makhluk."

__ADS_1


"Maaf, tapi aku membantu keluarga manusia. Bukan keluarga iblis. Jika yang disini adalah iblis. Lalu, dimana ibu Sulastri berada?" Ela bertanya tanpa berani menatap Azam yang sibuk memberikan perban luka tangannya, meski dia memakai pakaian tertutup. Pria itu tidak kesulitan menemukan titik luka akibat cakaran.


Penjelasan Ela cukup dipahami. Lagi pula, bukan maksud dia untuk menilai seseorang. Saat ini, memang siapapun bisa dipermainkan para makhluk. Bukan karena purnama ketiga, tapi karena keimanan yang semakin merosot. Kenyataan pahit, tetapi inilah yang terjadi di dunia.


Para anak muda lebih banyak tidak mempercayai tahayul, sedangkan para orang tua masih meneladani banyak pepatah lama. Seringkali, nasehat dan peringatan diabaikan seperti rambu lalu lintas. Bukankah kehidupan ada hukum alam dan hukum karma? Kenapa masih dipertanyakan lagi.


Suara rintihan Ela terdengar begitu lirih. Berbanding terbalik dengan jeritan makhluk yang merasa terpenjara ketika tasbih milik Azam menjadi kalung di lehernya. Lihatlah kobaran api yang mulai membakar, hingga hembusan angin menyampaikan pesan.


"Apa kamu tahu dimana, rumah makhluk itu?" Tanya Azam yang dijawab anggukan kepala Ela, "Kita harus secepatnya ke rumah itu, saudariku membutuhkan bantuanku. Ayo!''


"Tunggu dulu, bagaimana dengan makhluk itu? Tidak mungkin dia ditinggalkan begitu saja." Ela mencegah Azam, tetapi pria itu tahu apa yang harus dilakukan terlebih dahulu.


"Ini, hujan. Bagaimana mungkin? Apakah kamu ....,"


Azam tak ingin memberikan tanggapan apapun. Pria itu masih menjaga batasan dan hanya melakukan kewajiban yang harus diselesaikan. Di saat rintik hujan mulai datang, kilatan bayangan putih menyambar tubuh keduanya. Rasanya seperti terhempas begitu saja, tetapi hanya sesaat.


"Ini rumah Bella, tapi kenapa kita diluar?" Tanya Ela semakin tak paham, awalnya di hutan, lalu pertempuran, cakaran dan kini berdiri di depan rumah tingkat dua.

__ADS_1


Azam memejamkan mata tak lupa terus berdzikir di dalam hati, pria itu memusatkan diri untuk mengetuk pintu rumah melalui mata batinnya. Jiwanya meninggalkan raga, berjalan menyusuri halaman rumah. Kemudian berhenti tepat di depan pintu kayu dengan gantungan tulang di atas sana.


Took!


Took!


Took!


"Kulonuwun, Saya Azam ingin berkunjung untuk menemui Nyai Ratu."


Kriiieeet!


Suara pintu kayu yang terbuka bersambut dengan suara berisik klonengan tulang-tulang yang terkena terpaan angin. Tidak ada yang memberikan sambutan. Meski begitu, Azam tetap melangkahkan kaki memasuki rumah. Mungkin Ela berpikir, mereka berdua ada di dunia manusia.


Akan tetapi, kenyataannya adalah mereka berdua ada ditengah dimensi. Bukan dunia manusia dan bukan juga dunia gaib. Tanpa sadar, wanita bercadar itu menjadi penjaga raga Azam yang saat ini jiwanya sudah masuk ke dalam rumah tingkat dua di depan sana.


Suasana rumah begitu gelap dengan cahaya merah menyorot dari lantai atas hingga jatuh ke tangga. Sebuah kursi besar dengan banyaknya tengkorak kepala bisa menjelaskan seberapa banyak persembahan yang telah diberikan.

__ADS_1


"Ilmu mu iku tinggi, mbok opo kowe, mertamu nang gubukku?"


(Ilmu kamu itu tinggi, mau apa kamu, bertamu ke rumahku?)


__ADS_2