Jerat Karma Suami Goib Ku

Jerat Karma Suami Goib Ku
Bab 70: TIDAKAN DELISA - KETURUNAN KESEBELAS


__ADS_3

"Api, suci, bakar. Siapapun kamu, bisa ulangi lagi tidak? Aku tidak bisa mendengar dengan jelas."


Delisa berusaha untuk mengingat dengan jelas apa yang ia dengar. Akan tetapi suara itu benar-benar seperti sinyal putus nyambung dan tidak bisa diubah lagi. Meski begitu, ia tetap berusaha memutar ingatan dari setiap kata yang tersisa. Semua itu, pasti berhubungan dengan penghancuran para makhluk. Tak ingin berlama-lama, wanita itu melihat ke sekelilingnya.


Dari kedua puluh lima lilin. Ternyata hanya tersisa sebelas lilin yang masih menyala. Di sisi lain, ada beberapa jenis sesajen yang memang masih terlihat begitu baik dan belum hancur karena ulah para makhluk. Sesaat Delisa berpikir dengan tenang untuk mencari solusi yang terbaik. Tiba-tiba, sebuah ide melintas begitu saja dan membuat ia tersenyum.


Tidak peduli seberapa banyak kalian. Aku tetaplah manusia dan imanku masih kuat. Jika kalian bisa menggangguku dan tidak membiarkan aku untuk menemukan jalan pulang. Maka, bukan salahku. Jika membuat kalian untuk tersesat di alam kalian sendiri.~ batin Delisa, lalu berjalan mengambil beberapa lilin yang padam dan tidak lupa juga mengambil beberapa dupa yang masih utuh.


Setelah mendapatkan apa yang ia butuhkan, lalu dupa-dupa itu ia tancapkan membentuk simbol bintang, kemudian menyalakan satu lilin ke lilin lainnya yang membentuk lingkaran. Lilin itu berada di tengah simbol bintang. Posisi dari penghisap energi makhluk sudah benar. Setelah memastikan tindakannya benar. Barulah, Delisa kembali ke tempat duduknya semula.

__ADS_1


Wanita itu kembali ke posisi duduk bersila dengan kedua tangan menangkup di depan dada, lalu mulai memejamkan mata. Satu tarikan nafas diiringi rapalan mantra. Hembusan angin mulai terasa berubah arah dengan aroma yang manis. Rasa engap bercampur anyir perlahan mulai berkurang. Namun, berganti dengan suara rintihan dan jeritan para makhluk.


Lilin yang menyala menyambar dupa, hingga simbol bintang itu berubah menjadi lubang pintu berkabut hitam. Aroma dupa yang menyengat seperti aroma madu untuk para lebah. Begitu memikat dan tidak bisa ditolak. Jalan pintu penghancur para makhluk mulai terbuka, membuat Delisa harus menahan dirinya. Kekuatan yang besar menyeruak masuk ke dalam lingkaran abu suci.


Apa yang dilakukan Delisa sangatlah beresiko. Meski begitu, keselamatan hanya ada di dalam bahaya. Mau, tidak mau, maka harus memilih jalan yang terburuk. Kini, para makhluk mulai terpengaruh dengan mantra pengikat. Saat ini tidak bisa menghancurkan para makhluk karena ia sendiri masih di dalam lingkaran yang sama. Beberapa saat hanya bisa menunggu.


Penantian Delisa, sama seperti penantian Ibu Sulastri. Dimana wanita paruh baya itu, tengah dikuasai rasa dilema. Kotak peti Putri Kejawi sudah ada di depan mata dan kunci yang ia dapatkan dari kamar tirai hitam juga sudah di tangan. Ntah kenapa, tiba-tiba hatinya ragu. Beberapa pertanyaan menjadi alasan keraguan di hati. Meski begitu, ia tak bisa lagi menunggu.


Bagaimana nasib kedua anaknya nanti? Akankah Bella Dan Abil bisa kembali normal? Jika tidak, lalu untuk apa dirinya hidup. Semua misteri dengan karma turun temurun menjadi perenggut kebahagiaan keluarga. Saat ini, rantai perjanjian hampir mencapai batasnya. Kenapa seperti itu? Semua itu karena Bella memang menjadi keturunan kesebelas dari keluarga Wagio Supardi.

__ADS_1


Si kakek buyut yang memulai perjanjian. Dimana anak perempuan akan menjadi milik makhluk, tapi anak lelaki menjadi penerus perjanjian. Rantai itu seperti sulur di pohon beringin. Semakin tua usia pohon. Maka semakin banyak dan panjang setiap sulur yang menjuntai. Tidak akan ada yang menyangka keluarga sederhana memiliki rahasia segelap malam tanpa bintang.


Semua bermula hanya demi sebidang tanah dan rumah antik. Bukan demi kekayaan dan kemakmuran. Meski, perjanjian itu tidak menumbalkan darah manusia. Apalagi, mencari nyawa manusia sebagai persembahan. Tetap saja, kesetiaan dan syarat berat harus ditepati dan bagi siapapun yang melanggar. Maka harus siap menerima konsekuensi dari Pangeran Iblis.


Di antara syarat dari perjanjian itu adalah tak seorangpun anggota keluarga, apalagi orang luar untuk masuk ke dalam kamar tirai hitam. Dimana kamar itu, merupakan tempat suci bagi persemayaman sang Pangeran Iblis. Syarat kedua bagi anak perempuan yang terlahir di rumah itu. Dimana sebagai keturunan wanita, maka kewajiban menggantikan posisi para leluhur yang telah tiada.


Perjanjian itu tidak jatuh ke tangan keturunan pria. Melainkan jatuh ke tangan keturunan wanita. Maka, selama beberapa generasi, kisah dari satu orang tua menjadi memanjang karena menyatu dengan kisah anak-anak mereka. Sulastri sendiri adalah keturunan kesepuluh dari leluhurnya yang bernama Wagio Supardi. Jika ada yang bertanya, kenapa dulu ia tidak menikah dengan Pangeran Iblis. Maka, hanya ada satu jawaban.


Pangeran Iblis memberikan syarat terakhir. Dimana pada keturunan kesebelas. Putri yang terlahir dari rumah itu di malam purnama dan memiliki tanda lahir khusus. Anak itu akan menjadi istri manusianya. Inilah yang menjadikan Ibu Sulastri melarang keras sang putri tercinta Arabella agar tidak mendekati kamar tirai hitam. Apalagi sampai masuk. Namun, takdir berkata lain.

__ADS_1


Semua usahanya selama bertahun-tahun lenyap begitu saja dan itu karena rasa penasaran Bella. Bagaimana seorang ibu mengatakan, jika larangan yang ia berikan selama ini hanya demi kebaikan sang putri. Terlalu sulit untuk menjelaskan. Jika Bella adalah keturunan kesebelas. Kenyataan pahit yang selama ini mencoba dibenamkan ke dasar hati. Akhirnya tetap saja terkuak tanpa diminta.


"Aku tidak tahu, bagaimana caranya menyelamatkan kedua anakku, tapi kotak ini pasti memiliki sesuatu. Apapun itu, aku harus siap menanggung resikonya. Demi Bella dan Abil. Bismillahirrahmanirrahim,"


__ADS_2