
"Kembalilah, ketika pintu itu terbuka. Sampaikan salam cinta ku pada Delisa. Aku tulus mencintainya, meskipun kami berbeda alam." pamit Gael, lalu memberikan kecupan kening terakhir sebagai perpisahan, pria itu tak lupa untuk mengusap wajah cantik sang kekasih. "Kehidupan mu harus lebih baik setelah ini, jika mungkin lupakan diriku dan temukan pasangan yang bisa menjadi sandaranmu."
Wuussshh....
Gael menghilang bersama hembusan angin. Pangeran itu tak ingin menunda apa yang menjadi tugasnya. Meski ia harus menjadi persembahan, semua akan dilakukan secara sadar dan ikhlas. Aneh, ketika iblis justru mengajarkan arti cinta sejati. Namun, kehidupan dua alam selalu saling berkesinambungan. Seperti itulah hukum alam yang berlaku.
Simbah membalurkan ramuan herbal dari tanaman yang ada disekitarnya. Wanita lanjut usia itu, seakan tidak pernah menyerah. Satu harapan di hatinya. Dimana ia berharap kedua cucunya dalam keadaan baik-baik saja. Ada perasaan yang datang menyerang memberikan rasa kehilangan.
Ntah perasaan itu untuk memberikan alarm apa, tetapi hatinya terasa tertusuk. Tiba-tiba seluruh pikiran hanya terus mengingat wajah sang cucu saat ketiganya menghabiskan waktu bersama. Dilema yang menghadirkan kegelisahan berkabut, membuat Simbah berusaha sekuat tenaga untuk memulihkan keadaan Delisa yang bisa dipastikan dalam keadaan tidak berdaya.
Kehilangan batu permata secara paksa. Maka itu berarti kehilangan inti dari kekuatan itu sendiri. Apalagi Delisa sudah mencoba menggunakan kekuatan itu sebelumnya. Sungguh takdir dan pilihan bukan untuk memberikan keuntungan, melainkan hanya untuk penebusan dosa yang ada di masa lalu.
Delisa tidak tahu, jika sang nenek telah melanggar beberapa aturan dua alam. Termasuk mengambil batu permata yang bukan menjadi hak wanita itu, akan tetapi dosa itu dilakukan untuk menghindari pertarungan yang dulu hampir terjadi. Sejatinya, pertarungan itu hanya tertunda saja, dan kini menjadi kenyataan.
Seharusnya, dia ikut melakukan hal yang sama yaitu mencegah. Namun, jika hari ini semua tidak usai. Bagaimana kedua alam akan membaik? Perang ini bukan demi kebaikan saja. Namun untuk menyudahi jiwa-jiwa yang berkelana dalam ketersesatan. Biarlah kedua alam menanggung akibatnya.
Kembali ke dunia manusia. Bella yang semakin khusyuk melantunkan bacaan Al-Quran semakin menyiksa jiwa Lucifer yang mulai mengalami pemberontakan. Azzam terus menyerang Pangeran Iblis, meski serangannya selalu mendapatkan perlawanan. Tiba-tiba dari kamar tirai atas, Diana dan Abil keluar.
__ADS_1
"Ka, Dia itu ....,"
Diana membungkam mulut Abil. Ia tak ingin kehadiran mereka berdua justru menambah masalah hingga sebuah bisikan dari arah belakang. Sontak mengejutkan keduanya. Abil berteriak, lalu berlari menjauh, tetapi Diana merasakan bahunya dicengkram begitu erat.
Rasanya seperti kuku yang sengaja ditusuk menembus kulit tipisnya. "Siapa kamu?" Benar saja, kuku hitam memanjang dengan warna hitam yang terlihat tajam semakin menyakitinya hingga warna merah mulai merembes membasahi kain yang menutupi tubuhnya. "Lepas!"
Ditengah usaha Diana untuk melepaskan diri dari Si makhluk. Gadis itu menyadari, jika saat ini mata batinnya tidak lagi terbuka. Namun, ia bisa merasakan. Jika disekitarnya begitu banyak makhluk yang berkumpul. Ntah apa yang terjadi hingga Abil datang kembali. Anak itu menciprati para makhluk menggunakan air suci yang selama ini selalu tersedia di beberapa bagian rumah.
Suara jeritan mengumandangkan panas, panas semakin terdengar begitu jelas. Melihat para makhluk yang kesakitan, Abil bergegas menarik tangan Diana. Keduanya berlari meninggalkan lantai untuk menuju lantai satu, sedangkan Azzam tidak bisa membantu karena Lucifer terus saja membuatnya kewalahan dengan penyerangan secara brutal.
Suara pecutan yang menggelegar menghantamkan diri membelah lantai di sisi kiri Pangeran iblis sendiri. Lucifer berjalan menghampiri Azzam yang masih berusaha untuk berdiri tegak karena rasa pusing yang mendera. Pandangan samar, meski suara langkah kaki itu terdengar begitu jelas mendekatinya.
Satu kibasan menerbangkan cambuk itu. Tiba-tiba, sebuah vas sedang melayang menghalangi cambuk menyentuh tubuh Azzam. Sontak saja Pangeran iblis menggeram murka mengubah wujudnya menjadi nyata. Wujud sang Pangeran iblis sendiri, bukan wajah Lucifer yang tampan.
Bella berhenti melantunkan bacaan ayat suci Al-Quran, tatapan matanya nyalang menatap ke arah suami iblisnya. Ntah apa yang merasuki raga gadis itu, tetapi kemarahan yang terpancar jelas penuh kebencian terhadap Lucifer. Bukannya menjauh dari perubahan sang suami iblis. Gadis itu justru berjalan semakin mendekat ke arah suaminya.
"Kamu ingin aku 'kan? Kenapa harus melukai orang lain. Aku disini, masih bernafas. Hentikan semua ini ...,"
__ADS_1
"Jangan teruskan!" Azzam mencoba mengingatkan Bella agar tidak memberikan janji, apalagi sumpah pada Pangeran Iblis. Satu kata saja, maka semua orang yang menjadi persembahan tidak akan bisa tenang mencapai alam berikutnya. Namun, Bella tidak ingin mendengarkan.
Gadis itu berusaha menahan hawa dingin yang menelusup membuat seluruh tubuhnya mati rasa, tapi sesuatu seakan siap menerobos keluar dari dalam hidungnya. Cairan yang tanpa permisi mulai mengalir dari lubang hidung, hingga menunjukkan warna merah kental kehitaman. Sekali lagi, ia mengalami mimisan.
Hembusan angin menyebarkan aroma melati yang begitu pekat menyamarkan seluruh aroma busuk yang mulai menguar di udara. Azzam yang merasakan perubahan arah angin, mengubah lantunan mantra menjadi doa diiringi dzikir. Ditatapnya gadis yang berjalan seperti robot. Sudah jelas tubuh itu menolak untuk mendekat ke arah Lucifer, tapi masih dipaksakan.
Sepertinya, gadis itu melakukan semuanya demi kehidupan orang lain. Termasuk adiknya sendiri yang membawa Diana untuk bersembunyi. Beras pasti, ketika nyawa menjadi taruhan. Meski begitu, masih ada jalan lain untuk menghentikan Lucifer, yah walaupun tidak semudah mengedipkan mata.
Langkah kaki yang meninggalkan jejak berlumpur. Azzam terkejut ketika melihat jejak dari si gadis. Darimana datangnya lumpur itu? Seketika dia mengamati sekitarnya. Siapa sangka, Lucifer mulai mempengaruhi tempat yang mereka pijak. Lumpur itu hanyalah pengalihan. Sementara dari arah jendela. Tiba-tiba sinar cahaya yang awalnya gelap berubah menjadi sinar kuning seperti matahari terbit.
"Hey, menjauhlah!" seru Azzam, tapi Bella tidak menggubris dan terus memaksakan langkah kakinya mendekat ke arah Lucifer.
Dimana Pangeran iblis tersenyum penuh kejanggalan menanti kedatangan Bella seraya mengulurkan tangan yang mengeluarkan asap hitam. Hembusan angin yang terus menerjang memberikan sinyal alam. Azzam memejamkan mata, lalunmemusatkan dirinya untuk melakukan langkah terakhirnya.
Langkah demi langkah. Akhirnya ia berhenti dengan jarak satu meter lebih sedikit, lalu Bella mencoba mengangkat tangannya yang seperti beban puluhan kilo batu. Gadis itu merasa kesulitan untuk menyambut uluran tangan sang pangeran iblis. "Aku tidak bisa menggerakkan tanganku."
"Bismillahirrahmanirrahim."
__ADS_1