Jerat Karma Suami Goib Ku

Jerat Karma Suami Goib Ku
Bab 46: PERTEMUAN DI ISTANA


__ADS_3

"Suamiku, siapa pria itu?" tanya sang gadis menunjuk ke arah sisi barat, dimana seorang pria paruh baya tengah menatap pemandangan di depan seorang diri.


"Aku akan kenalkan, ayo kesana." ajak sang suami tanpa melepaskan genggaman tangannya dari tangan sang istri.


Keduanya berjalan menghampiri pria paruh baya dengan langkah pasti. Langkah demi langkah mengikis jarak hingga disaat menyisakan dua langkah. Disaat itu orang yang didekati membalikkan tubuhnya. Senyuman ramah menyambut kedatangan sepasang suami istri yang memasuki istana untuk pertama kalinya.


"Selamat datang di istana ku, menantuku Arabella," sambut pria paruh baya itu seraya mengulurkan tangannya, dan disambut tatapan bingung dari Bella sendiri.


Lucifer tahu istrinya masih setengah sadar karena ia hanya membawa Bella ke alam mimpi. Pertemuan yang harus dilakukan sebelum bulan purnama ketiga. Esensial dari sang istri harus menyatu dengan alamnya. Tentu saja alam gaib dan ini untuk mempermudah segala sesuatu di masa depan nantinya.


"Sayang, panggil ayahku dengan Romo. Beliau yang menjadi pengganti ku memimpin kerajaan gaib dan ini istriku Arabella," kata Lucifer memperkenalkan keduanya dengan baik.


Penjelasan Lucifer membuat Bella manggut-manggut paham, lalu menerima uluran tangan sang ayah mertua memberikan salam hangat dengan kecupan di telapak tangan pria paruh baya itu. Kesopanan sang menantu menarik senyuman Romo. Ia sadar kenapa pangeran pertama lebih memilih bersama manusia daripada bersama sebangsa makhluk sejenis.

__ADS_1


Bella adalah gadis yang ramah, sopan dan menjaga pandangan. Akan tetapi aura gadis itu masih terlalu lemah. Siapapun yang menikah dengan makhluk dunia lain. Maka harus memiliki benteng pertahanan diri. Di luar sana tepatnya di dunia manusia. Makhluk gaib tidak memiliki aturan seperti di dalam alam gaib. Setiap makhluk diperbolehkan mengganggu manusia dan kini aroma tubuh sang menantu mulai tercampur dengan aroma putranya.


"Romo!" panggil Lucifer seraya mengibaskan tangannya agar ayahnya berhenti melamun.


Romo terkekeh ternyata dirinya justru sibuk mengagumi menantu manusianya, "Ayo, kita keliling bersama. Bagaimana?"


"Maaf, apa tidak merepotkan? Saya rasa istana ini sangat besar, mungkin saja seminggu cukup untuk berkeliling," ujar Bella begitu polos, tapi cukup masuk akal.


Lucifer melepaskan tangannya, lalu merengkuh pinggang sang istri agar berdekatan dengannya, "Sayang, istana ini istana gaib. Maka, kita bisa melakukan perjalanan dalam hitungan detik. Mau coba?"


"Pergilah! Romo rasa, kalian bisa berkeliling istana berdua saja. Luci, jangan lupa temui Romo sebelum kamu kembali." Romo memilih untuk pamit dan membiarkan pasutri itu untuk kembali menikmati kebersamaan.


Kepergian Romo, membuat Lucifer menatap Bella dengan tatapan tak biasa. Netra itu berubah menjadi coklat jernih. Jangan lupakan senyuman yang meluluhkan hati istrinya hingga semburat merah mewarnai pipi Bella.

__ADS_1


"Sayang, berhentilah menatapku seperti itu," ujar Bella menundukkan pandangannya, tapi Lucifer menyentuh dagunya tak membiarkan tatapan mata terputus.


Tatapan mata yang semakin dalam mengubah suasana menjadi lebih romantis. Perlahan keduanya saling mendekatkan wajah hingga sentuhan lembut bertautan menikmati lembutnya bibir. Suara decakan menghantarkan aliran aneh menyebar ke seluruh darah. Apalagi Lucifer semakin mengeratkan tubuh keduanya dalam pelukan.


Beberapa saat hanya ada kenikmatan. Nafas keduanya saling memburu, "Ayo, aku antar kamu pulang."


"Pulang?" tanya Bella menatap Lucifer dengan kekecewaan.


Untuk pertama kalinya ada rasa tak ingin jauh dari Lucifer. Rasa yang ntah datangnya dari mana tapi ia tahu benar. Rasa itu hanya untuk suaminya. Apalagi cara sang suami memperlakukannya begitu lembut.


Lucifer menganggukkan kepala, lalu merenggangkan pelukan, "Kamu harus pulang. Aku tidak bisa meninggalkanmu disini."


"Suamiku, bukankah ini istanamu? Apa ada yang melarang, jika aku tetap disini?" tanya Bella beruntun, membuat Lucifer membungkam bibir manis sang istri dengan bibirnya.

__ADS_1


Ciuman itu kembali terulang, tapi ada yang berbeda. Rasa kantuk tiba-tiba saja datang menyapa. Sekali lagi rasa berat membawa kegelapan di sekelilingnya, sedangkan Lucifer tersenyum tipis melihat Bella kembali memejamkan mata setelah pagutan dilepaskan.


"Semua hanya mimpi bagimu, tapi tidak untukku. Satu langkah lagi, kita akan bersatu. Kamulah yang bisa mengembalikan keseimbangan alam. Selamat tidur, istri manusia ku." bisik Lucifer sembari meniupkan energinya ke kening gadis itu untuk mengembalikan kesadaran Bella ke tubuhnya.


__ADS_2