Jerat Karma Suami Goib Ku

Jerat Karma Suami Goib Ku
Bab 89: Menghisap Energi


__ADS_3

Pernyataan Simbah, mengakhiri perdebatan keduanya. Jabatan tangan menjadi awal kerjasama antara Simbah dan Romo. Di alam mana pun. Sebuah pepatah akan selalu berguna yaitu musuh dari musuh adalah kawan. Maka bertemanlah untuk mencapai tujuan yang diharapkan.


Meninggalkan istana. Di tempat Delisa dan Gael. Para kunti mulai kewalahan. Semua itu bukan karena kekuatan sang pangeran kedua, tetapi karena kalung permata yang melingkar di leher Delisa. Dimana wanita itu seperti dikendalikan oleh kekuatan besar menerjang para kunti dengan sekali kibasan tangan.


Wuushh...


Wuushh....


Kibasan yang memancarkan cahaya kilat keunguan seperti cambuk tak kasat mata. Gael saja harus berulang kali merunduk agar bisa menghindari tebasan kilat yang dilakukan kekasihnya. Pangeran kedua mengambil kesempatan itu untuk ikut melumpuhkan para kunti.


Akan tetapi, Arum yang geram karena semua rakyatnya hancur dan kehilangan banyak energi. Akhirnya mulai turun tangan dengan menggunakan kekuatannya sendiri. Kunti merah itu merentangkan kedua tangan dengan teriakan tak jelas, membuat kabut hitam keluar dari para kunti yang seperti tersedot jiwanya.


Semakin lama, kabut bertambah pekat. Tetapi belum sempat terkumpul semua. Energi itu berpindah ke arah lain. Awalnya tidak ada yang memperhatikan, hingga Arum menyadari kekuatan yang dia miliki semakin menurun, bahkan hampir menyisakan setengah.


Energi yang seperti hanya mampir sedetik, lalu pergi begitu saja. Entitas lain berusaha mengambil alih kekuatannya, hingga tak mampu memberikan perlawanan. Baru saja ingin mencari tahu, dalang dibalik peristiwa itu.


Di saat itulah, Bella muncul dari arah belakang dengan senyuman manis. Bunga yang di genggaman tangan semakin menghitam, tetapi perubahan wujud manusia itu sangatlah drastis. Wajah cantik imut, terlihat semakin dewasa seperti bertambah usia dua tahun.


"Kau! Lepaskan ....,"

__ADS_1


Suara yang merintih dengan siksaan yang nampak nyata, membuat Arum terkulai lemah. Di sisa energinya berusaha melawan, tetapi kekuatannya tidak seberapa. Namun, ketika Bella mengalihkan perhatian. Gadis itu tertarik energi dari kalung yang menjadi milik Delisa, sedangkan yang ditatap terkejut karena baru kali ini melihat manusia berjiwa iblis.


"Dia ....,"


Gael mengangguk paham apa maksud pertanyaan Delisa yang masih belum usai, "Bella, istri manusia kakakku. Saat ini, jiwanya hanya dari setengah manusia dan setengah dari permata merah delima. Lihat bunga panca warna ditangannya! Bunga itu semakin menambah rasa ingin memiliki kekuatan yang lebih dan lebih."


Gael berusaha menjelaskan secara singkat. Meski, dia sadar. Delisa pasti tahu tentang semua itu tanpa diberi tahu, sedangkan yang dibicarakan menjentikkan jari membuat Arum yang mulai kehabisan tenaga dan kekuatan terhempas terbang bersama hembusan angin yang menerjang. Di alam gaib, siapapun yang memiliki inti jiwa permata merah delima. Maka dia lah yang akan menjadi penguasa.


Sementara Bella, hanya manusia biasa dengan kepolosan tanpa ilmu agama yang memadai. Gadis itu seperti ulenan tanah liat yang dibakar dalam tunggu batu bara. Terbentuk tanpa dibentuk hingga mulai mengeras. Pada akhirnya, tidak bisa diubah, jika tidak segera dipisahkan dari batu permata merah delima itu sendiri.


Para kunti yang menjadi rakyat ikut lenyap berubah menjadi awan kegelapan yang membumbung ke atas langit. Menyatu dengan awan yang terdiam di tempat. Bella memejamkan mata sesaat seraya kembali berpijak di atas tanah.


Tangan kanannya terulur ke arah Delisa, "Berikan kalungmu! Aku mau itu."


Sementara Bella menatap Delisa dengan tatapan memelas. Ntah sejak kapan. Sikap memelas dari gadis itu bisa keluar. "Berikan kalungmu. Ayo tukar dengan bunga ini? Lihat, bunganya juga cantik."


"Kamu mau kalung ini 'kan?" Delisa bertanya sembari memegangi kalungnya, sontak saja Bella mengangguk. "Ayo, kita bertukar permata. Bagaimana?"


Gael terkejut dengan pemikiran Delisa. Saat ini, mereka di alam gaib. Sudah pasti tidak ada barter yang bisa dilakukan. Kenapa kekasihnya justru memberikan permintaan yang aneh. Bibirnya bergerak dan hanya bisa, mengucapkan satu kata, "Sayang!"

__ADS_1


"Jika kamu memberikan permata merah delima padaku. Aku akan berikan kalung ku padamu. Tidak ada kecurangan ....,"


"Gggrrrhhh!" Bella menggeram marah karena keinginannya tidak terpenuhi. Disini, dia yang berkuasa, tetapi justru dipermainkan. Sontak saja meniup sekuat tenaga ke arah Delisa dan Gael, membuat keduanya terhempas ke belakang seperti terkena terjangan badai dadakan.


"Milikku! Milikku!"


Gael langsung berguling di tanah agar bisa menyambar tubuh Delisa yang terlalu lemah. Tetapi sayang, di saat bersamaan. Bella menjentikkan jari, membuat tubuhnya melayang. Satu ayunan jari menghentakkan tubuhnya hingga membentur pohon besar.


.


.


.


...🌚🌚🌚🌚🍃🍃🍃🌚🌚🌚🌚...


*Sore reader's, semangat yuk.


Moga hari ini bisa update double.

__ADS_1


Jangan lupa mampir ke Istri Siri Tuan Bryant, ya.


Lagi crazy up, 🔥 loh. 🌚*


__ADS_2