
Sorot mata sendu tak bisa dipungkiri. Ada penyesalan di hati setelah mengucapkan kalimat barusan. Bayangan wajah sang kekasih menari di pelupuk mata. Semakin lama, bayangan itu menyiksa batinnya.
"Romo, Gael permisi," pamit pangeran kedua langsung menghilang menjadi kabut bayangan hitam.
Lucifer menatap Arum dengan tatapan mematikan. Seketika menghadirkan senyuman licik di bibir kunti merah. Jelas keduanya memberikan aura permusuhan. Romo yang menyadari semua itu langsung berdehem agar putra dan calon menantunya kembali tenang. Sayang sekali, pangeran pertama memilih langsung menghilang kembali ke dunia manusia, dan meninggalkan istana tanpa permisi.
Kepergian sang putra, membuat Romo mengubah ekspresi wajahnya. Tatapan yang awalnya menyambut baik berubah menjadi tatapan sengit. Sontak saja Arum berubah wujud dengan gaun merah, rambut panjang berantakan serta mata merah menyala. Aura si mba kun merah dipenuhi amarah.
Tatapan mata saling beradu hingga sosok Gael tiba-tiba saja muncul di antara keduanya. Pria tampan itu tak ingin ada huru-hara di dalam istana. Terlebih jika sesuatu terjadi, pasti kakaknya akan kembali.
"Romo, tenanglah! Sebaiknya, Romo kembali ke kamar untuk beristirahat dan aku akan bicara bersama Arum," kata Gael menenangkan ayahnya agar suasana kembali kondusif.
Tatapan diantara ayah dan anak sekian detik itu, memberikan kepercayaan untuk menjadikan semua baik-baik saja. Bagaimana cara Gael membujuk Romo, membuat Arum berubah pikiran. Sebelumnya ia hanya ingin pangeran kedua sebagai wadah pelampiasan, tapi setelah melihat kelembutan yang pria itu miliki. Satu keputusan terlintas di dalam kepalanya.
Aku akan memiliki keduanya. Setelah menikah dengan pangeran kedua, maka pangeran pertama harus jatuh di tanganku. Keduanya hanya milik Arum ratu kunti merah.~batin Arum dengan senyuman bahagia membayangkan masa depan memiliki dua pria sekaligus.
Pangeran kedua tahu benar. Kenapa perjodohan itu berakhir jatuh ke tangannya. Semua karena pernikahan pangeran pertama dengan istri manusianya. Maka Arum murka, dan disisi lain. Makhluk satu itu kini sudah menjadi ratu kunti merah. Kekuatan tak bisa dianggap sebelah mata, meskipun jika pangeran pertama tahu. Pasti dengan mudah menghancurkan klan kunti merah.
Akan tetapi, Romo tak ingin alam dunia lain menjadi tempat peperangan. Bagi seorang raja, kedamaian rakyat adalah tanggung jawab di atas cinta terhadap keluarganya. Sebuah pengorbanan harus dilakukan dan karena itulah. Akhirnya ia menunjuk pangeran kedua menjadi suami pengganti ratu kunti merah.
Sementara di dunia manusia, suasana malam hari begitu dingin mencekam. Suara nyanyian lagu dengan petikan gitar para mahasiswa. Tetap saja tak mengurangi hawa yang menusuk dengan hembusan angin membuat bulu kuduk meremang. Para mahasiswa yang duduk melingkar masih setia menikmati secangkir kopi atau teh hangat.
"Bella, kamu merasa aneh, gak?" tanya Diana dengan tangannya memijat belakang leher yang terasa panas.
Bella menoleh melihat apa yang terjadi pada temannya itu, "Kamu kenapa? Kok pucat gitu? Tunggu disini! Aku izin ke Pak Ahmad, biar kamu bisa istirahat."
Bella yang baru ingin beranjak dari tempat duduknya. Justru ditahan Diana dengan tangan yang menggenggam tangannya dan juga gelengan kepala gadis itu pelan.
"Aku masih kuat, kok. Disini aja temenin, ya," ucap Diana memberikan tatapan memelas, membuat Bella mengangguk setuju.
Nyanyian merdu seorang mahasiswi dengan penampilan rambut dikepang menjadi satu, dan iringan gitar seorang mahasiswa yang memakai topi hitam. Benar-benar memberikan hiburan. Terlihat ada yang bercanda, ada yang hanya mendengarkan musik, dan ada juga yang iseng menepuk bahu teman sebelahnya.
__ADS_1
Namun, semua itu berlangsung singkat. Sebelum sang mahasiswi yang bernyanyi, tiba-tiba saja berhenti menyanyi. Lalu menundukkan wajahnya. Semua orang berpikir gadis itu tertidur karena kelelahan, tetapi di saat salah seorang mahasiswi lain ingin menegur. Justru suara nyanyian kembali terdengar.
Sayup-sayup hembusan angin menyebarkan alunan lagu yang mengubah suasana kembali tak nyaman. Hawa dingin yang menusuk, seketika membuat para mahasiswa saling memandang satu sama lain.
...*Setiap ku melihatmu...
...Ku terasa di hati...
...Kau punya segalanya...
...Yang aku impikan...
...Dan anganku tak henti...
...Sajak tentang bayangmu...
...Walau kutahu...
...Kau tak pernah anggapku ada...
...Ku tak bisa menggapaimu...
...Walau sudah letih aku...
...Tak mungkin lepas lagi...
...Kau hanya mimpi bagiku...
...Tak untuk jadi nyata...
...Dan sgala rasa buatmu...
__ADS_1
...Harus padam dan berakhir...
...Dan anganku tak henti...
...Sajak tentang bayangmu...
...Walau kutahu...
...Kau tak pernah anggapku ada...
...Ku tak bisa menggapaimu...
...Walau sudah letih aku...
...Tak mungkin lepas lagi...
...Kau hanya mimpi bagiku...
...Tak untuk jadi nyata...
...Dan sgala rasa buatmu...
...Harus padam dan berakhir...
...Kan selalu...
...Ku rasa...
...Hadirmu...
...Antara ada dan tiada*...
__ADS_1