
"Enyah KAU manusia rendahan." geram Romo semakin mencengkram leher Simbah.
Namun, di sisa kesadaran wanita paruh baya itu. Tiba-tiba saja ada bayangan yang melesat cepat, dan membawa Simbah pergi dengan melompati jendela kamar Lucifer. Sontak saja, sang mantan raja iblis berusaha mengejar dengan ikut melesat menjadi bayangan.
Ketika, kedua bayangan itu saling kejar mengejar. Delisa dan Gael baru saja sampai istana. Pria itu langsung membaringkan tubuh kekasihnya ke ranjang, lalu mencoba untuk memberikan energinya agar bisa membantu wanita itu kembali sadar. Namun, ternyata permata yang semakin meredup justru menyerap energinya.
Tak ingin membahayakan keadaan Delisa. Tindakannya dihentikan, dan yang bisa menunggu waktu agar keadaan sang kekasih kembali pulih. Sementara Lucifer kembali ke dunia manusia. Pangeran iblis memutuskan untuk memasuki rumah perjanjian melewati pintu dimensi yang selama ini menjadi portalnya.
Di saat kakinya menginjak lantai kamar tirai hitam. Tatapan matanya semakin memerah karena semua sesajen menjadi hancur berantakan. Meskipun aura dari makhluk peliharaan yang tercium begitu kental hingga menusuk hidung. Tanpa menunda, Lucifer berjalan meninggalkan kamar.
"Nyai Wungu!"
"Nyai Wungu!"
__ADS_1
Suara panggilan yang menggema, membuat Diana terlonjak kaget. Gadis itu terbangun dari tidur lelapnya. Tentu saja rasa kantuk dengan tubuh nyeri seperti diremukkan membutuhkan istirahat sejenak. Sayangnya, hidup tidak memberikan ketenangan. Ketika kesadaran kembali datang, rasa khawatir akan keberadaan keluarga memenuhi relung hatinya.
Ya Allah, kenapa semua semakin rumit. Tunjukkan jalan pada hamba agar bisa menolong semua orang. KaCan, Simbah, Bella, dan pria itu. Semoga kalian kembali tanpa kekurangan suatu apapun. Amiin.~ucap Diana dalam hati.
Doa harapannya seperti telepati. Dimana Simbah mulai bernafas normal kembali, meski tubuhnya terhuyung membuat kepalanya berputar seperti ratusan kupu yang bermain sorak gembira. Diantara hembusan angin dan sisa kesadaran. Wajah gadis yang memiliki dua netra mata berbeda tersenyum tipis menoleh ke arahnya.
Siapa sangka, gadis yang menolongnya adalah Bella. Apapun alasan dari si gadis. Simbah hanya bersyukur karena Bella masih memiliki sisi manusia untuk melakukan perbuatan baik. Akan tetapi, saat ini, dari balik hembusan angin. Romo masih mengejar mereka berdua.
"Nak, pelarian tidak akan menyelesaikan masalah. Berhentilah dimana ritual purnama ketiga berlangsung!" Simbah memberikan perintah, bukan itu, wanita paruh baya itu hanya menunjukkan jalan yang tepat.
Seketika dalam satu kedipan mata. Bella mengubah arah tujuannya. Gadis itu membawa Simbah ke tempat ritual, lalu melepaskan tangannya dari pinggang si nenek. Kemudian melangkah berjalan menuju ayunan yang melambai memanggil namanya. Langkah demi langkah membius si manusia setengah iblis.
"Bella! Hentikan langkahmu." Ucap Simbah sekuat tenaga karena lapisan perisai yang mulai membentuk awan akan menjadi penghalang besar. "Arabella, pulanglah, Nak. Adikmu membutuhkan mu. Kendalikan tubuhmu sendiri, Nak."
__ADS_1
Bebal seakan tuli. Bella masih saja berjalan. Jangankan menoleh kebelakang, gadis itu seperti memakai penutup telinga yang tebal hingga mengabaikan semua bujukan dari Simbah. Di saat bersamaan, Romo juga hadir di tempat itu. Pria paruh baya itu tersenyum puas karena menantu manusia nya sudah terpengaruhi kekuatan permata merah delima.
"Teruslah jalan, Menantu kesayangan ku. Tahta itu memang ditakdirkan untukmu. Majulah dan kuasai kekuatan yang mengalir di nadimu." Romo berusaha untuk mengobarkan api semangat untuk menguasai seluruh kekuatan batu permata merah delima, membuat Simbah kembali berteriak membujuk Bella.
Keduanya berlomba-lomba untuk memastikan harapan masing-masing tercapai. Akan tetapi, Bella masih berjalan tanpa memberi satu patah jawaban. Gadis itu terus menapaki setiap jengkal tanah dengan pemberontakan di dalam jiwanya, hingga langkah kaki terhenti di depan ayunan.
Tatapan matanya terpesona akan keindahan ayunan dengan tali bunga. Tetapi beberapa detik kemudian, bunga cantik itu, justru berubah menjadi kalajengking hitam besar dengan capit yang tajam. Sontak saja, langkahnya mundur menjauh. Seperti pengaruh yang memberikan efek sindrom.
Perubahan dari bunga menjadi kalajengking. Justru menjadikan Bella maju mundur menentukan pilihannya. Ketika ayunan dipenuhi bunga, hatinya terlonjak ingin segera berbaring diatas ayunan itu. Tetapi, ketika berubah menjadi kalajengking. Rasa takut seketika menyergap membelenggu sisa jiwa manusianya.
"Aaaarrrrgggghhhh!"
Erangan yang menyayat hati dengan tubuh Bella yang tersungkur ke tanah. Gadis itu mengalami pemberontakan dari dua kekuatan sekaligus. Ternyata, Simbah berusaha memberikan energi positif dengan mulut keriputnya yang tidak berhenti terus saja merapalkan lantunan doa. Meski disis lain, Romo juga tetap berusaha untuk menyerang wanita paruh baya yang menggagalkan rencananya.
__ADS_1
Pertarungan tak terelakkan, hingga satu ledakan besar menghempaskan keduanya. Ledakan itu berasal dari benturan kekuatan batu permata merah delima yang terus saja mendapatkan perlawanan dari jiwa Bella. Tidak seorangpun tahu, jika di sekitar mereka ada manusia lain. Manusia yang membawa setengah jiwa si gadis.