
"Iya, KaCan. Diana paham." jawab Diana menundukkan kepalanya pasrah akan ultimatum sang kakak.
Kakak beradik itu, akhirnya turun untuk berkumpul di bawah dan disambut oleh Bella serta neneknya dengan senyuman.
"Hai, Bella. Apa kabarmu?" tanya Diana begitu senang.
Bella bangun, lalu menghampiri Diana dan langsung memeluk temannya itu dengan rasa rindu, "Aku, baik, bagaimana kabarmu?"
"Sudahlah. Kenapa, kamu begitu sedih? Aku baik-baik saja, dan hanya butuh istirahat sejenak." ucap Diana tak ingin membuat khawatir temannya.
"Oke, Aku tinggal ke belakang. Nenek dan aku akan memasak kembali dan kalian ngobrol saja." sambung Kak Ela menggandeng neneknya untuk meninggalkan kedua gadis untuk melakukan reuni.
"Ayo, kita duduk bersama dan nikmati cemilan ini. Oh, ya, bagaimana keadaan kampus." tanya Diana yang merindukan suasana perkuliahan.
Bella mengambil ponsel dan menunjukkan beberapa foto yang memang sudah dipajang di mading. Gadis itu sengaja mengambil foto hanya untuk dipamerkan kepada Diana. "Lihat ini, foto perkemahan kemarin. Memang sedikit, sih, tapi bisa buat kenang-kenangan."
"Coba kulihat." Diana menerima ponsel dari bella, gadis itu main scrolling beberapa foto yang terpampang di mading dan sengaja ia amati satu persatu setiap foto. Seketika ingatan masa perkemahan kembali datang membuatnya berpikir beberapa foto sebelum kejadian dan sisanya setelah kejadian.
__ADS_1
"Diana, boleh, Aku tanya sesuatu?" tanya Bella sedikit ragu pada temannya itu.
Diana berhenti bermain ponsel milik Bella, lalu mengalihkan perhatiannya ke temannya dengan serius, "Kamu mau bertanya apa? Katakan saja, aku akan menjawab dengan catatan memang itu memiliki jawaban."
"Kenapa kamu tidak berangkat selama seminggu ini? Apa kamu baik-baik saja atau ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku?" tanya Bella dengan serius, gadis itu benar-benar ingin mendapatkan jawaban atas apa yang kini menjadi pertanyaannya.
"Enggak kok, Aku cuman butuh istirahat aja karena kecapean." Jawab Diana tanpa ragu membuat Bella menghela nafas lega.
Kedua gadis itu kembali mengobrol dengan santai sembari membicarakan tentang apa yang selama satu minggu ini keduanya lakukan. Sementara Ela dan neneknya yang berada di dapur masih merasa cemas dan was-was. Kedua wanita beda usia itu saling pandang penuh arti.
"Nek, Aku harus gimana? Kita tahu seperti apa kehidupan Bella dan Diana masih dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk berdekatan dengan gadis itu. Jadi, apa sebaiknya, aku menjauhkan mereka berdua?" tanya Ela yang sebenarnya tak tega. Jika harus membuat adiknya sedih, tapi bagaimana lagi. Keadaan harus membuatnya tega.
(Itu kan berteman. Biarkan, sekarang kita berdoa pada Allah. Insya Allah semua masalah akan berakhir.)
Ela tak ingin lagi membantah sang nenek, ia menganggukkan kepala menyetujui nasehat Simbah. Kemudian kedua wanita beda usia itu kembali melanjutkan kesibukan untuk memasak makan siang bersama, sedangkan di sisi lain terdengar suara canda tawa kedua gadis yang kini tengah bertemu setelah satu minggu tidak bertemu.
Candaan dan tawa itu membuat suasana rumah kembali ceria, tapi di tempat lain hanya ada rasa rindu. Tepatnya di sebuah rumah dengan pintu merah dimana seorang wanita selalu saja terbatuk. "Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Kenapa rasanya sakit sekali di sini. Apa terjadi sesuatu pada dia?"
__ADS_1
Wanita itu berusaha mengambil kotak obat yang selama ini ia sembunyikan dan bergegas meminumnya, lalu meneguk air segelas. "Syukurlah, obatku masih ada. Aku pikir sudah habis, tapi ini tinggal yang terakhir. Aku harus kembali ke kota untuk membeli semua keperluan ku."
Wanita itu adalah Delisa Anastasya. Setelah pertemuannya dengan ibu Sulastri. Wanita itu sering sekali merasakan sakit seperti ada yang menusuk dadanya. Entah apa yang terjadi, tapi yang jelas ia dalam kondisi tidak baik. Tiba-tiba dirinya kembali terngiang ucapan sang kekasih. Bahwa kekuatan yang ia miliki masih belum cukup untuk menandingi pangeran iblis. Apa mungkin, saat ini tengah diberikan peringatan agar tidak mengganggu apapun yang telah dilakukan oleh pangeran itu. Jika benar begitu, ini tidak bisa dibiarkan.
"Sayang, Kamu kemana? Aku berulang kali memanggil namamu di setiap malamku, tapi tak sekalipun kamu kembali datang padaku. Apa kamu baik-baik saja di dunia sana? Aku merindukanmu, sangat merindukanmu. Cuma kamu tempatku bersandar dan mengeluhkan segala sesuatu dalam hidupku"
"Jika mungkin kembalilah! Aku sangat menginginkanmu di sisiku. Aku hanya ingin semua baik-baik saja dan di saat kamu ada bersamaku itulah yang aku harapkan. Cinta tidak harus untuk saling memiliki, tapi aku hanya ingin, kita menghadapi segalanya bersama baik suka maupun duka. Kuharap semua akan baik-baik saja, baik di duniaku ataupun di duniamu karena kita memang saling mencintai dengan dua dunia berbeda."
Suara panggilan Delisa sampai ke hati Gael. Di mana pangeran kedua merasa sedih tak bisa lagi untuk menghapus air mata kekasihnya. Saat ini, pria itu benar-benar dalam dilema. Apakah ia harus bertemu dengan sang kekasih di dunia manusia atau tetap tinggal di istana hingga hari pernikahannya.
"Maafkan, Aku. Aku tidak bisa menemuimu. Aku tahu, kamu akan sedih ketika melihat suasana hatiku tak baik. Biarkan aku menenangkan diri dulu, sayang. Aku akan datang menemuimu sebelum semua terlambat karena apapun yang kakak lakukan nanti. Aku tahu, dia melakukan demi kedua alam. Aku juga tidak bisa untuk melarang ataupun memprotes karena aku tahu benar. Semua itu harus dilakukan." Gael menghapus air matanya, ia benar-benar tak ingin menyakiti sang kekasih. Jika ia membela sang kakak.
Gael yang dilema tak bisa untuk menemui sang kekasih. Justru berbanding terbalik dengan Lucifer. Di mana pria itu tengah menatap intimidasi Ibu Sulastri yang kini ada di depannya. "Apa, kamu sudah bosan hidup?"
Satu pertanyaan yang cukup menyakiti telinga wanita paruh baya itu dan membuat Ibu Sulastri bergetar. "Ampun, Pangeran. Apa yang membuat Anda marah. Apakah hamba melakukan kesalahan?"
"Apa kamu tidak ingat dengan sejarah perjanjian yang ada di dalam rumah ini?" tanya Lucifer mengingatkan Ibu Sulastri agar tidak kembali berulah, tapi sepertinya wanita paruh baya itu tak pernah paham. Jika ia melakukan segala sesuatunya tanpa izin maka akibatnya akan fatal.
__ADS_1
"Maaf, Pangeran, tapi saya tidak melakukan apapun, bahkan saya masih di rumah dan saya tidak keluar. Jadi, apa yang membuat Anda marah. Apakah karena saya masih di sini atau karena saya masih tidak rela Anda menikah dengan Putri saya." Pernyataan Ibu Sulastri benar-benar mengejutkan membuat pangeran Lucifer benar-benar geram.
"Sekarang, pilihlah salah satu. Putrimu yang selamat atau putramu yang selamat?" Tanya Lucifer tanpa memberikan belas kasih, pria itu tak lagi memandang Ibu Sulastri sebagai orang tua, karena saat ini dia harus melakukan tugasnya sebagai seorang raja diri dunia lain.