
Lemparan bola api tanpa jeda menyerang sang penabrak. Dimana pria itu masih dzikir dan berpegang teguh pada setiap doa dengan tasbih selalu bergerak. Setiap kali bola api mendekatinya, maka lenyap begitu saja.
Arum semakin murka karena merasa dipermainkan oleh pria yang tersenyum tipis dengan lantunan dzikir. Seluruh amarah disatukan menjadi bola api yang lebih besar dengan pijaran api kehitaman. Matanya melotot dengan rambut kusut yang mengembang menambah kengerian wujud aslinya. Lalu, satu dorongan menghempaskan bola api yang langsung melesat seperti kilat.
"BINASA!"
Sang Penabrak tidak mengalami kepanikan. Justru ia memfokuskan diri menyatu dengan alam. Alunan dzikir berganti ayat kursi. Khusyuk nya pria itu melantunkan doa, membuat mba kunti merah berteriak kesakitan. Suara jeritan yang melengking dengan asap hitam yang memudar. Bola api yang mendekat berbalik arah melesat menerjang tuannya.
Wuuussss!
Buaaam!
"EEERRGGGGGHHHHH....,"
Sosok murka Arum menghilang seiring kabut hitam yang semakin banyak. Tidak ada jejak selain aura negatif yang menyebar. Kepergian mba kunti merah. Tak membuat lantunan doa dihentikan. Hanya saja berganti dengan suara hati. "Alhamdulillah, sudah pergi. Sebaiknya aku bersihkan aura makhluk....,"
__ADS_1
"Assalamu'alaikum," Ucapan salam seseorang dari arah belakang menghentikan ucapan lirih sang penabrak, dan langsung berbalik melihat siapa yang datang.
"Wa'alaikumsalam, Pak Taufik." Jawab Sang penabrak.
Pak Taufik tersenyum lebar seraya melanjutkan perjalanannya menghampiri pria alim yang sengaja diundang ke kampus untuk kepentingan acara pelantikan mahasiswa baru seminggu lagi.
"Apa bapak memerlukan sesuatu?" tanya Sang penabrak lembut.
"Ini, milik Mas Azam, bukan?" tanya balik Pak Taufik dengan mengulurkan sebuah flashdisk putih, membuat Azam menerimanya dengan senyuman yang lebih manis.
Pak Taufik menganggukkan kepala. "Kalau begitu saya kembali ke kantor. Jangan lupa acara seminggu lagi, Mas Azam. Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab Azam membiarkan dosen yang menjabat sebagai pengurus penerimaan mahasiswa baru itu pergi meninggal dirinya.
"Bismillahirrahmanirrahim....,"
__ADS_1
Azam memulai lantunan doa yang diiringi dzikir di dalam hatinya. Ia memilih tetap di taman untuk membersihkan aura negatif yang menyebar. Meskipun si mba kunti sudah tidak ada, tetap saja tidak baik membiarkan orang lain terkena dampaknya. Di saat melakukan tugas yang biasa dia lakukan. Terlihat beberapa mahasiswa hanya menonton, dan berlalu begitu saja.
Pengusiran yang Azam lakukan berakhir dengan baik. Tanpa pria itu sadari jalan hidupnya mulai terarah pada takdir yang lain. Sementara sosok tak kasat mata yang harus merasakan panas membakar jiwa berpindah ke alam lain untuk memulihkan keadaannya.
"Alhamdulillah sekarang hanya ada kebaikan. Sebaiknya aku berkeliling kampus ini sebentar saja untuk memasuki makhluk itu tidak berkeliaran dan mengganggu manusia."
Azam meninggalkan taman dengan langkah kaki perlahan mengamati beberapa sudut kampus. Lantunan dzikir di dalam hati bersamaan tasbih yang terus berputar tidak sekalipun berhenti. Sosok-sosok makhluk tak kasat mata yang mendiami beberapa tempat bahkan harus menyingkir karena aura putih yang menyilaukan mereka. Jangankan mencoba melawan, untuk mendekati pria itu pun bisa dipastikan menghantarkan kematian kedua.
Waktu berlalu begitu cepat. Menit berganti jam. Hari berganti minggu, lalu berganti bulan. Tak terasa kini Bella memasuki kuliah minggu ketiga. Hari-hari nya masih sama, bangun pagi berpamitan pada keluarga untuk kuliah, dan pulang tepat waktu. Semua berjalan lancar, tidak ada ketegangan apalagi masalah apapun. Semua aman terkendali.
...----------------...
Visual Azam Fathurahman
__ADS_1
...----------------...