
Hitungan Bella terus berlanjut hingga Diana yang baru saja datang menatap kesana kemari mencari sosok penolong temannya itu, tapi nihil tak ada orang selain gadis dengan mata terpejam.
"Lima belas." Ucap Bella, lalu membuka mata.
"Dimana dia?" tanya Bella dengan kecewa.
"Siapa yang kamu cari, Bel?" tanya Diana mengalihkan perhatian Bella.
Bella menggelengkan kepalanya, "Pak Dosen yang membantuku. Aku mencarinya."
"Mungkin Pak Azam sudah kembali ke tenda, atau berkeliling lagi. Sudahlah, sekarang sebaiknya kita makan dulu. Ayo!" ajak Diana membantu Bella untuk berjalan.
Keduanya berjalan dengan pelan. Bella yang harus dipapah berusaha menyeimbangkan diri agar Diana tidak kesulitan membantunya. Langkah demi langkah keduanya menuju tenda. Kesibukan semua orang, membuat kedua gadis itu tidak menjadi pusat perhatian. Sejenak meninggalkan tempat bumi perkemahan.
Raut wajah cemas dengan tangan saling bertaut, dan tatapan mata berulang kali ke arah pintu merah di depannya. Wanita paruh baya itu berharap seseorang muncul dari balik pintu. Perjalanan yang ia tempuh cukup jauh, bahkan harus memakan waktu setengah hari. Suara burung gagak di siang hari yang bertengger di atas pohon benar-benar membuat suasana rumah itu menyeramkan.
Kriiieet!
__ADS_1
Pintu kayu merah yang sudah mulai lapuk perlahan terbuka. Sontak wanita paruh baya yang sudah menunggu selama satu jam bergegas bangun dari emperan rumah, lalu berlari kecil menghampiri pintu yang terbuka setengah. Langkah kakinya terhenti di depan pintu. Hembusan angin beraroma kemenyan, dan dupa menguar menyambut kedatangannya.
"Mlebet, Ndu. Aku wis ngenteni kowe. Mrenea, Ndu!" panggil seseorang dari dalam rumah.
(Masuklah, Nak. Aku telah menunggumu. Kemarilah, nak!)
Rasa ragu yang bercokol di dalam pikiran tak bisa menghentikan untuk melanjutkan niat hatinya. Namun, semua pertanyaan hanya akan mendapatkan jawaban. Jika ia bertanya langsung pada pemilik rumah yang saat ini sudah mempersilahkan masuk. Satu langkah memasuki rumah, hingga langkah satunya lagi berpindah. Tiba-tiba saja tanah bergetar.
"Gempa? Astagfirullah....," Wanita paruh baya itu ingin keluar untuk menyelamatkan diri, tetapi ntah apa yang terjadi pada kakinya.
Jangankan berlari, bahkan untuk bergerak atau mengubah posisinya saja tidak bisa. Rasanya seperti menyatu dengan tanah. Seperti lem dan prangko.
Seseorang yang masih duduk tenang di tengah kegelapan tersenyum masam dengan kunyahan daun sirih, "Kabeh amarga apa sing sampeyan gawa. Tutup mripatmu yo!"
(Semua itu karena apa yang kamu bawa. Tutup mata mu ya!)
"Nggeh, Mbah." Jawab wanita paruh baya.
__ADS_1
Disaat menutup mata, sayup-sayup terdengar kidung. Seketika bulu kuduk meremang dengan hawa dingin menusuk. Kidung yang penuh makna, perlahan kakinya terasa ringan. Seakan beban ribuan kilo batu baru saja terangkat.
"Mrenea, Ndu!" titah pemilik rumah dengan suara parau.
Setelah merasa lebih baik, dan tidak lagi memiliki keraguan. Akhirnya wanita paruh baya memutuskan meneruskan niat hatinya. Berkat kidung simbah, kakinya bisa berjalan normal kembali. Namun, suasana rumah yang minim perabotan dengan pencahayaan yang kurang. Semakin menambah kesan angker.
"Mbah, sebelumnya saya minta maaf." Wanita paruh baya menghentikan langkah kakinya, "Saya takut menginjak sesuatu yang tidak seharusnya karena terlalu gelap."
"Ndu, ndu. Kowe ke akeh kekarepane." Simbah menekan saklar yang ada di belakangnya tanpa perlu bantuan cahaya apapun.
(Nak, nak. Kamu punya banyak keinginan.)
Seketika ruangan menjadi terang benderang. Cahaya yang menyilaukan mata, membuat wanita paruh baya itu harus memejamkan mata sesaat hanya untuk menyesuaikan diri. Ketika matanya kembali terbuka. Ruangan di depannya benar-benar tidak bisa dibayangkan. Dipikirannya pasti rumah paranormal yang ia kunjungi penuh dengan sesajen dan barang-barang antik. Nyatanya salah besar.
Rumah berlantai marmer putih dengan tiga ruangan berbeda. Penyekat tirai kelambu merah maroon. Sebuah meja kayu dengan tinggi setengah meter tergeletak di depan seorang wanita bercadar yang tengah duduk bersila dengan memegang sebuah bola kristal.
"Wes urung? Nek uwes rampung lek ndeleng, mrenea!" Wanita bercadar dengan alis tebal melambaikan tangannya, membuat wanita paruh baya kikuk, dan menurut menghampiri si empu rumah.
__ADS_1
(Sudah belum? Jika sudah selesai melihat, kemari!)
"Mbah, kedatangan saya kemari mau....," Ucap wanita itu tetapi dihentikan sang wanita bercadar dengan isyarat jari di depan bibir.