
Semoga ini yang terbaik. Aku berharap dengan ini, kehidupan Bella menjadi lebih baik.~batin Diana seraya memeluk Sang Kakak sebagai ungkapan terima kasih memberikan ia jalan untuk membantu temannya.
Kebersamaan keluarga itu. Terasa begitu manis, tapi tidak dengan ketegangan di rumah yang tengah mereka bicarakan. Rumah itu, semakin hari. Justru semakin terasa mencekam, bahkan aura terlihat sangat tidak nyaman. Cuaca begitu cerah di luar sana, sedangkan di dalam rumah terasa begitu mendung gelap gulita.
Ibu Sulastri yang saat ini sibuk menjaga anak nomor dua. Tidak bisa berbuat apapun lagi. Wanita itu, kini sudah pasrah. Semua sudah berakhir. Setelah apa yang dilakukan Lucifer sang menantu iblis. Ia tidak bisa, melakukan penentangan lagi. Kini yang dilakukan, hanya meratapi nasib sang anak yang tak sadarkan diri dan entah kapan dirinya bisa membangunkan sang putra.
Disisi lain, ada Bella. Dimana Gadis itu, tengah berusaha membujuk suaminya. Memohon untuk mengembalikan kesadaran sang adik. Akan tetapi, usahanya tetap saja tak membuahkan hasil. Sudah banyak sekali air mata yang ia tumpahkan, tapi itu tidak mengubah apapun. Lucifer hanya tersenyum tipis dan menatap sang istri tanpa belas kasih.
__ADS_1
Bella menghela nafas panjang, lalu mengusap pipinya untuk menghentikan air mata yang terus saja mengalir tanpa henti. Bella bangun dari tempatnya bersimpuh. Kemudian menatap tajam Lucifer untuk pertama kalinya. Lucifer tidak terkejut dengan perubahan ekspresi sang istri. Ia tahu apa isi dari pikiran dan hati gadis itu. Apapun yang akan terjadi. Kemenangan hanya ditakdirkan untuk Pangeran seorang.
"Jika, kamu ingin, adikmu kulepaskan. Ikutlah bersamaku, tapi pastikan satu hal. Genggam tanganku, ketika hatimu merasa lega dan menerima untuk hidup bersamaku," Lucifer mengulurkan tangannya seraya menatap sang istri tenang.
"Kamu, bahkan tidak peduli dengan air mataku dan kamu ingin aku pergi bersamamu? TIDAK AKAN PERNAH!" Bella begitu tegas menantang keinginan sang suami dengan suara lantang.
Pernyataan sang suami iblis. Benar-benar membuat Bella kembali luruh ke lantai. Tubuhnya langsung lemas tak berdaya, bahkan air matapun tak sanggup lagi untuk menetes. Seketika rasa sesak di dada berubah menjadi cambukan yang tak ada wujudnya. Apakah benar yang dikatakan Lucifer? Jika, iya. Apa yang akan dirinya lakukan, demi mengembalikan kehidupan sang adik.
__ADS_1
Tidak! Pasti semua itu, tidak mungkin. Adikku, pasti akan bangun, tapi bagaimana jika tidak? Apakah ia sanggup Kehilangan? Bagaimana caranya untuk menjawab pertanyaan sang ibu.~batin Bella, gadis itu menatap lantai nanar dengan tatapan kosong.
Keterpurukan Bella, membuat Lucifer berduka. Namun, tidak ada pilihan lain. Istrinya sudah mulai berulah dengan berkunjung kerumah orang yang setengah mengetahui kebenaran asal mula rumah tempatnya berpijak. Bukan hanya itu saja, karena tindakan Sulastri yang semakin menjadi-jadi. Maka, ia mengambil jiwa Abil menjadi pilihan saat ini.
Lagipula, sebentar lagi akan terjadi bulan purnama ketiga. Sudah waktunya, ia membawa Bella ke alam gaib. Dimana penyatuan akan terjadi. Waktu yang selama ratusan tahun dinanti, tidak bisa diubah dan jika gagal. Maka pintu gerbang cahaya bisa menghilang selamanya. Jika ingin terbuka lagi, maka harus menunggu seribu tahun lagi. Disaat itu, belum tentu akan ada keturunan kesepuluh dari pemilik perjanjian dengan Pangeran Iblis.
"Keputusan ditanganmu, Istriku. Aku tidak akan memaksa, tapi ingatlah satu hal," Lucifer berbalik, lalu menurunkan tubuhnya agar sejajar dengan Bella, "Jiwa Abil ada di genggaman tanganmu."
__ADS_1