
"Kowe sisih mburi! Aku sisih ngarep," Ki Wongso memberikan arahan, membuat Simbah berjalan ke belakang dimana ia akan menjadi penjaga cucunya dari belakang, "Siap?"
Simbah dan Ki Wongso tak henti-hentinya mengucapkan rapalan, membuat makhluk di dalam tubuh Diana tersenyum. Gadis itu mulai menggerakkan jemari tangannya, mengayun berkelok-kelok indah. Diiringi tubuh yang meliuk-liuk gemulai. Tarian adat Jawa mengikuti irama suara rapalan.
Pita merah melambai berputar berganti arah. Perlahan tapi pasti. Ki Wongso mendekati Diana, hingga saat tangannya siap meraih pita itu. Justru satu sibakan kaki menyerangnya. Gadis itu tersenyum menyeringai. Simbah yang melihat itu, semakin mempercepat rapalan mantra. Ia tidak mau, sang cucu terlalu lama dikendalikan makhluk gaib.
Ditengah usaha Ki Wongso dan Simbah untuk mengambil pita tapak tilas keluarga Sulastri dan pelepasan pita penutup mata Diana. Di rumah Bella terdengar suara jeritan murka. Siapa lagi jika bukan suara Pangeran Iblis. Lucifer tahu apa yang terjadi diluar sana, dan siapa saja yang mencoba untuk membantu keluarga sang istri. Namun, saat ini tidak ada yang bisa dirinya lakukan.
Sebelum hari terakhir bulan purnama tiba, maka ia hanya bisa menjadi penonton setia. Tidak peduli sejauh apa usaha para manusia, ia akan melakukan tindakan akhir di saat waktunya telah tiba. Terlebih lagi, kekuatannya seperti tersegel. Bisa saja menghancurkan, tapi harus siap menerima akibat yang tidak diperbaiki.
__ADS_1
Jeritan berulang kali terdengar menggema dari lantai atas, membuat gadis yang terkapar di lantai mulai membuka mata. Tatapan kosong dengan wajah pucat. Ntah berapa lama, ia terlelap karena lelah menangis. Kini tubuhnya terasa sudah membeku. Di sisa kekuatan, ia mencoba bangkit dari posisinya. Perlahan-lahan hingga harus mencari sandaran tangan untuk menahan berat badan yang tidak seberapa itu.
"Ibuu...,"
Bruuug!
Baru saja bisa bangkit. Tubuh gadis itu kembali jatuh tersungkur dengan kepala membentur tepi ranjang. Sisa cahaya meredup menghadirkan kegelapan. Kondisi yang terlalu lemah, tanpa ada asupan makanan ataupun minuman sejak kemarin. Jelas saja, ia tak sanggup untuk bangkit. Hati dan pikiran melayang hanya tentang keselamatan keluarga, tapi bagaimana ia akan memperbaiki situasi? Kondisinya saja, tak berbeda dari mayat hidup.
Suara itu, membuat jeritan Lucifer berhenti. Pangeran yang tengah murka. Tiba-tiba muncul begitu saja di depan Bella. Dimana kini, sang istri dalam kondisi memprihatinkan. Terduduk di depan ranjang dengan aroma darah dari belakang kepala, sudah pasti gadis itu terluka. Tak ingin membuat kehebohan di dunia gaib. Maka, ia menyalurkan energi agar kondisi sang istri membaik.
__ADS_1
Waktu berlalu, tidak ada hujan ataupun petir. Awan gelap di atas rumah ibu Sulastri telah lenyap tanpa meninggalkan jejak. Usapan lembut terasa hangat, sontak saja ia membuka mata dan melihat siapa yang menyentuh tangannya, "Nduk, ada apa?"
"Ibu, istirahat aja dikamar. Aku akan jagain Abil," kata Bella tersenyum hangat, membuat Ibu Sulastri merasa lebih baik.
"Apa kamu sudah makan? Maafin ibu, ya...,"
"Jangan minta maaf, Bu. Bella baik, dan ibu membutuhkan istirahat. Jangan lupa, sarapan ibu sudah tersedia di meja makan," Bella sengaja menyela ucapan sang ibu, ia tak ingin waktu singkatnya berubah menjadi malapetaka, "Bu, boleh peluk sebentar?"
Ibu Sulastri mengangguk, membiarkan putrinya menghamburkan diri memeluknya begitu erat. Ntah apa yang terjadi, tapi rasa sesak di hati dengan perasaan tidak enak menyergap begitu saja. Rasanya seperti, ini adalah pelukan terakhir. Pikiran buruk itu, segera ia tepis. Jangan sampai semua itu menjadi kenyataan, sedangkan Bella diam-diam mengambil gunting lipat yang sudah disiapkan.
__ADS_1
Maafin, Bella, Bu. Satu korban cukup untuk menyelamatkan kita semua, dibandingkan banyak korban hanya untuk menyelamatkan satu nyawa saja.~batin Bella dengan tatapan sendu ke arah gunting tajam ditangan kanannya.