
Mata yang mulai meredup masih samar melihat kepergian sang ibu. Pintu yang terbuka lalu tertutup kembali terlihat semakin buram. Namun, tiba-tiba saja ada tangan yang mengusap kepalanya. Ingin sekali melihat siapa yang menambah rasa kantuk semakin hebat, tapi tidak ada daya lagi.
"Tidurlah! Selamat datang di dunia ku....,"
Lucifer menghembuskan kabut hitamnya ke wajah Abil. Dimana kabut itu terserap membawa anak itu memasuki dunia lain. Tak ingin membuat kesalahan. Pangeran iblis bergegas menghilang menyambut adik iparnya di gerbang cahaya. Sinar putih yang di lingkaran sinar merah menyala terang itulah gerbang cahaya. Batas alam mimpi dan alam sadar.
Langkah mungilnya terlihat tak tentu arah. Kebingungan jelas dirasakan anak itu, membuat Lucifer menggunakan kekuatan angin untuk menyampaikan suara panggilannya. "Abiil, kemariilaah....,"
"Siapa itu? Ibu, kakak dimana kalian?" Abil hanya berjalan maju mundur ditempat yang sama.
"Abiiil masuklah ke dalam lubang cahaya!" Ucap Lucifer.
Suara yang memasuki gendang telinga tanpa wujudnya. Benar-benar membawa aroma melati yang sangat pekat. Abil mencoba melihat ke semua arah untuk mencari cahaya. Hingga beberapa saat kegelapan di sekelilingnya perlahan berubah menjadi cahaya. Bukan cahaya putih atau cahaya merah. Namun, cahaya biru yang menenangkan. Sayup-sayup terdengar suara yang familiar.
"Nak, pulanglah! Ibu disini, ayo pejamkan matamu lagi!" Ucap Ibu Sulastri lembut membimbing putranya untuk kembali ke dunia nyata.
"Ibu? Abil....,"
"Nak, pejamkan mata, dan ingatlah kamarmu. Bayangkan saja kamu terlelap! Ibu menunggu mu, anakku sayang." Ibu Sulastri tidak memberikan kesempatan pada Abil untuk mengeluh, semakin lama anaknya di alam bawah sadar. Maka semakin sulit untuk mengeluarkan karena membutuhkan orang yang paham agama.
Bimbingan sang ibu di lakukan. Perlahan memejamkan mata. Meskipun ada angin yang menerpa membawa kesegaran, Abil tetap berusaha menutup matanya. Suara bising di sekitarnya semakin terdengar jelas. Sangat jelas hingga telinga berdengung. Apapun yang terjadi tak menyurutkan niat untuk kembali ke dalam pelukan keluarga.
Abil masih berusaha untuk tenang dan membayangkan situasi kamarnya. Sementara di dunia nyata. Bella yang baru selesai bersiap berangkat kuliah menatap pantulan dirinya di dalam cermin. "Gak ada yang kurang 'kan?"
Bella memutar tubuhnya ke kanan lalu ke kiri, atasan memakai tanktop putih dibaluti dengan jaket levis hitam longgar lengan panjang. Dipadukan dengan celana jeans pensil plus sepatu boot resleting samping yang juga berwarna hitam. Cantik, manis dan imut, terlebih rambutnya tergerai dengan satu jepitan kupu-kupu favoritnya.
"Semangat, Bella. Ingat, semua demi ibu dan adikmu. Spirit!" Bella mengangkat kedua tangannya keatas memberikan semangat untuk dirinya sendiri.
Tangannya mulai diturunkan hingga sebuah pelukan dari belakang sedikit membuatnya terkejut. Meskipun hanya sesaat, karena wujud yang memeluk masih belum nampak. "Kenapa mengejutkan ku?"
__ADS_1
Lucifer menampakkan wujudnya dengan senyuman terbaik seraya menyusupkan kepalanya ke leher sang istri. "Istriku sangat manis. Sepertinya sudah siap pergi keluar rumah."
Bella hanya menganggukkan kepala menahan nafasnya, perasaan yang sama selalu ia rasakan. Detak jantungnya berdegup teramat cepat dengan rasa takut, cemas bercampur jadi satu. Lucifer mengabaikan semua yang dirasakan sang istri. "Bella, ikutlah denganku!"
Lingkaran tangan beralih menjadi genggaman tangan. Bella hanya menurut tanpa ada kata. Sang suami mengajaknya untuk duduk di tepi ranjang. Kini mata saling memandang. Ntah apa yang dipikirkan oleh suaminya, tapi tatapan mata teduh terpancar begitu menenangkan.
"Pejamkan matamu!" titah Lucifer.
Bella memejamkan mata seperti keinginan sang suami goib. Perasaan yang tenang dengan hembusan angin menerpa wajahnya. Sesaat terasa sesuatu yang lembut dan dingin menempel di keningnya. Rasa penasaran akan apa yang terjadi, membuat ia mengintip.
Aku dicium? Serius? ~batin Bella terperangkap.
Yah Lucifer masih dalam posisi mencium kening istri manusianya dengan mata terpejam juga. Ntah apa yang pangeran iblis dapatkan dari sebuah ciuman lama, tiba-tiba saja hawa panas dan dingin mengalir menjalar ke seluruh tubuh Bella. Sontak tubuhnya sedikit mengalami kejang-kejang.
Lucifer membuka matanya. Disaat bersamaan Bella kembali membaik. Seperti tak terjadi apapun. "Pergilah kuliah! Jangan lupa pamitan pada ibumu dulu."
"Boleh....,"
Ceklek!
"Sekarang tidak akan ada yang mendekati istriku. Kamu aman dengan perlindungan ku. Semoga waktu yang ku nanti segera tiba." ucap Lucifer merebahkan tubuhnya yang lelah.
Sementara Bella baru saja mengetuk pintu kamar ibunya, tapi tidak ada jawaban. "Apa ibu dikamar ade? Coba aja deh kesana."
Bella baru melangkah tiga langkah dan terhenti disaat sang ibu keluar dari kamar Abil. Tatapan mata keduanya bertemu. Hanya sesaat karena Ibu Sulastri langsung mengalihkan tatapan matanya ke arah meja makan.
"Ada apa, Bu? Apa Adee masih demam?" tanya Bella khawatir.
"Abil udah baikan, Ndu. Kamu mau berangkat kuliah 'kan?" tanya balik Ibu Sulastri.
__ADS_1
"Iya, Bu. Sebelum berangkat, Bella mau lihat keadaan Abil dulu." jawab gadis itu.
Ibu Sulastri menahan nafasnya, lalu menatap putrinya. "Ndu, berangkat aja, lihat udah jam setengah tujuh. Jangan lupa bawa bekalmu di atas meja."
"Huft, nggeh, Bu. Bella berangkat dulu, salam buat ade. Assalamu'alaikum, ibuku tersayang. Cup." Bella berpamitan dengan sebuah ciuman pipi kanan yang menjadi kebiasaannya sejak kecil.
"Wa'alaikumsalam."
Gadis itu berlari kecil menuju meja makan untuk mengambil kotak makan biru tua, lalu dimasukkan ke dalam ransel. Barulah langkahnya berjalan meninggalkan dalam rumah. Ibu Sulastri hanya mengamati setiap pergerakan Bella. Netra matanya tak lepas dari kabut putih yang menyelimuti raga sang putri.
Apalagi yang pangeran iblis lakukan? Abil baru saja kembali dari alam lain. Sekarang kabut itu? ~ batin Sulastri menatap nanar pintu utama yang baru saja tertutup, disaat bersamaan Lucifer mengirim jawaban melalui pesan singkat alam pikiran.
"Kabut itu hanya untuk perlindungan istriku. Aku tidak akan melukai putrimu, tapi nyawanya bisa melayang hanya karena permintaanmu." Ucap Lucifer melalui pesan singkatnya.
"Apa maksud, Tuaan?" tanya Sulastri tak paham dengan rasa takut akan kehilangan putrinya.
"Tidak perlu tahu. Aku membentengi Bella. Istriku aman selama bentengku bersamanya. Urus saja putramu! Aku juga ingin seorang teman." Jawab Lucifer menyudahi pembicaraan keduanya.
Ibu Sulastri menautkan kedua tangannya dengan harapan semoga putrinya selalu terlindungi, sedangkan Bella yang baru saja keluar dari dalam rumah benar-benar memiliki semangat yang tinggi. Tanpa gadis itu sadari ada mata merah nyalang yang menatap setiap langkah kakinya meninggalkan rumah.
Sosok wanita berambut panjang dengan gaun merah terang, terbang menghampiri Bella. Dimana gadis itu bersenandung kecil menyusuri jalan sekitar rumahnya untuk mencapai jalan utama. Udara pagi yang masih diselimuti kabut tipis benar-benar menjadi kesegaran dan healing. Setelah sebulan lebih terpenjara di dalam rumah. Akhirnya bisa menghirup udara bebas.
"Pagi, Bu." sapa Bella pada tetangganya.
Sosok penuh amarah yang tak sabar ingin melukai Bella terbang melesat berniat mencabik tubuh di depannya itu dengan kuku panjangnya. Namun, disaat jarak semakin mendekat. Tiba-tiba....,
Woossshh...
Bruuug!
__ADS_1
Tubuhnya yang melayang harus terhempas begitu saja. Kabut putih dengan cahaya merah sesaat bersinar. Lingkaran ilusi yang jelas siapa pemiliknya. Amarahnya semakin membludak menambah kilatan mata nyalang dengan rambut hitam menutupi wajah bagian depan.
"Tidak akan kulepaskan perebut kekasihku."