Jerat Karma Suami Goib Ku

Jerat Karma Suami Goib Ku
Bab 51: KEPUTUSAN YANG KEKEH


__ADS_3

"Sekarang, pilihlah salah satu. Putrimu yang selamat atau putramu yang selamat?" Tanya Lucifer tanpa memberikan belas kasih, pria itu tak lagi memandang Ibu Sulastri sebagai orang tua, karena saat ini dia harus melakukan tugasnya sebagai seorang raja diri dunia lain.


"Maaf, Pangeran. Saya tidak akan pernah memilih karena bagi saya, baik Bella ataupun Abil. Kedua anakku tetap menjadi kehidupan saya. Bagaimana seorang ibu bisa memilih, keselamatan diantara kedua anaknya? Itu tidak akan pernah terjadi." jawab ibu Sulastri tegas.


Pangeran Lucifer tersenyum tipis. Ia mulai mengeluarkan aura kematiannya. Aroma yang berbau anyir dengan bunga kamboja dan juga melati. Semerbak itu menyebar ke seluruh rumah ada hawa aneh dingin panas menyusup ke pori-pori menyelimuti tubuh Sulastri. Bukan hanya itu saja, kini teringat sebesar biji jagung mulai menetes dari kening Ibu Sulastri. Wanita paruh baya itu benar-benar mulai ketakutan, tapi ia masih tetap pada keputusannya.


Lucifer bahkan tidak menurunkan auranya dan justru semakin menambah kekuatan untuk tersebar ke seluruh rumah. Kegelapan tak bisa lagi terelakkan. Di atas langit begitu mendung gelap gulita, hanya saja hujan masih enggan menyapa. Tatapan mata tajam dengan kuku mulai memanjang semakin menambah keseraman di dalam rumah itu. Ibu sustri bahkan harus menundukkan pandangan agar tak melihat perubahan wujud sang menantu. Wujud pria tampan menjadi seorang iblis yang selama ini ia puja.


Tanpa Ibu Sulastri sadari. Jika di sudut pojokan lemari ada Abil. Sang putra yang melihat semua itu. Bagaimana ibunya ketakutan di depan Lucifer dan anak kecil itu tiba-tiba berlari memeluk sang ibu. "Hentikan! Aku, tak ingin, kamu menyakiti Ibuku. Silahkan bawa aku sebagai ganti kakakku, tapi jangan sakiti ibu. Jika mungkin biarkan keluargaku hidup bahagia dan tenang."


"Nak, Pergilah dari sini! Kenapa kamu kemari? Bukankah ibu peringatan kamu untuk tetap di kamar." Ibu Sulastri berusaha menahan rasa takutnya demi Sang putra, wanita itu tak ingin putranya dibawa pergi oleh pangeran dan ia juga berulang kali mendorong tubuh Abil agar menjauh. Akan tetapi putranya masih tak ingin beranjak dari tempat itu dan justru semakin memeluk tubuh ibunya dengan erat.

__ADS_1


"Ibu adalah kehidupan Abil dan Kak Bella. Apapun yang terjadi adalah kewajiban kami menyelamatkan ibu. Seperti Kak Bella yang harus menikah dengan pangeran. Maka aku juga siap untuk dibawa pergi oleh pangeran. Jika memang, itu bisa menyelamatkan orang-orang yang Abil cintai." jelas anak itu begitu pasti.


Abil tak menyadari. Jika semua yang ia katakan, mungkin saja bisa dilakukan oleh pangeran. Ibu Sulastri yang mendengar keberanian dan kesiapan sang putra untuk berkorban, membuat hati wanita itu trenyuh. Namun, ia tak ingin kedua anaknya mengalami masalah lagi. Semua berawal dari para leluhur dan kini harus diakhiri.


"Seorang ibu selalu menyayangi anaknya. Lihatlah, kedua anakmu siap mengorbankan diri. Apa kamu tidak bisa mengorbankan diri untuk keselamatan kedua anakmu?" tanya Lucifer membalikkan keadaan.


"Pangeran, Aku siap berkorban. Apapun demi kedua anak, tapi aku tidak mungkin membiarkan putriku memiliki suami makhluk gaib dan anakku yang lain untuk kamu bawa ke alam mu. Seorang ibu tidak akan tega melukai anaknya, tapi juga tidak mungkin untuk membiarkan kehidupan kedua anakku dalam masalah." Jawab ibu Sulastri dengan suara bergetar.


"Nak, Kamu nggak papa? Kenapa kamu keluar dari kamar? Apa kamu tidak mendengarkan permintaan ibu." Ibu Sulastri menatap Abil begitu dalam, ia merasa sangat cemas. Takut-takut anaknya benar-benar dibawa oleh pangeran, sedangkan yang ditatap justru menggelengkan kepala seraya tersenyum.


"Ibu, sampai kapan, semua ini akan berlanjut? Abil tidak masalah harus ikut dengan pangeran. Lagi pula, dia iblis yang baik." Ucap Abil ingin menenangkan ibunya, tapi justru wanita paruh baya itu terkejut dengan penuturan sang anak.

__ADS_1


Wanita paruh baya itu memeriksa kening, leher dan juga seluruh tubuh Abil dengan seksama. "Kamu baik-baik saja. Tidak demam. Tidak ada bintik. Tidak ada juga luka fisik. Apa yang Abil tahu tentang masalah rumah ini? Jangan...,"


Ibu Sulastri menggantung ucapannya. Iya tak ingin melanjutkan, apa yang memang seharusnya Abil tak perlu tahu. Semua memang bermula dari silsilah keluarga para leluhur dan kini ia harus menanggung akibatnya. Akibat yang sungguh dirinya sendiri tidak pernah menyangka harus siap untuk kehilangan kedua anak sekaligus. Jika semua tidak diakhiri.


"Sekarang lebih baik, Abil kembali ke kamar dan istirahat. Ibu akan menyiapkan makanan untukmu dan ingat satu hal. Jangan bicarakan apapun dengan Kak Bella!Ibu tidak mau, kakakmu merasa cemas dan kembali melakukan pengorbanan." Ibu Sulastri mengusap kepala putranya, lalu ia beranjak meninggalkan ruang tamu. Di mana baru saja, ia mendapatkan ultimatum dan intimidasi dari sang menantu Iblis.


Kepergian Ibu Sulastri, membuat Abil berjalan meninggalkan ruang tamu. Anak itu bukan kembali ke kamar, tapi justru ke kamar kakaknya. Langkah kaki tak seirama. Seperti terpaksa harus masuk ke kamar itu. Aura panas masih mengelilingi tubuh Abil. Langkah demi Langkah semakin mengikis jarak hingga membuka pintu kamar sang kakak.


Abil masuk dan kembali menutup pintu, agar tak seorangpun melihat. Apa yang akan terjadi. Tatapan mata tenang dan wajah tampan menyambut anak itu dengan senyuman. Siapa lagi jika bukan sang kakak ipar. "Kemarilah! Aku ingin bermain denganmu, tapi ingat permainan ini hanya kita yang tahu."


Ajakan Lucifer dengan senyuman manis membuat Abil ikut tersenyum. Keduanya saling memandang tanpa berkedip. Senyuman yang semakin merekah hingga tiba-tiba saja tubuh anak kecil itu perlahan limbung dan jatuh tak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2