Jerat Karma Suami Goib Ku

Jerat Karma Suami Goib Ku
Bab 44: RAPAT DADAKAN


__ADS_3

Hembusan angin menelusup menyapa dengan sensasi panas dingin. Alunan lagu itu terdengar begitu menyayat hati. Namun, tiba-tiba ada suara adzan. Suara merdu dari arah utara. Dimana corong mushola berbunyi.


Allaahu Akbar, Allaahu Akbar


Asyhadu allaa illaaha illallaah.


Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah.


Hayya 'alashshalaah


Hayya 'alalfalaah.


Allaahu Akbar, Allaahu Akbar


Laa ilaaha illallaah


Artinya :


Allah Maha Besar, Allah Maha Besar


Aku menyaksikan bahwa tiada Tuhan selain Allah

__ADS_1


Aku menyaksikan bahwa nabi Muhammad itu adalah utusan Allah


Marilah Sholat


Marilah menuju kepada kejayaan


Allah Maha Besar, Allah Maha Besar


Tiada Tuhan selain Allah


Lantunan adzan semakin menguasai alam menghapus nyanyian mahasiswi itu, tapi di saat adzan berhenti dengan hawa yang lebih menenangkan. Justru gadis yang tadi bernyanyi langsung jatuh tak sadarkan diri alias pingsan di tempat. Untung saja mahasiswa yang bertugas memetik gitar tanpa menunggu diminta bergegas menolong dan para mahasiswa juga sibuk kasak kusuk.


Yah, pria itu awalnya berniat untuk tadarus di mushola. Akan tetapi gangguan dari makhluk gaib kembali menyerang, dan sebagai tamu spesial di perkemahan tahun ini. Ia tak mau lepas tanggung jawab. Baginya keselamatan seluruh peserta beserta para pengawas adalah hal paling utama.


Pak Ahmad yang ada di tempat api unggun memilih membubarkan para mahasiswa untuk kembali ke tenda masing-masing. Kemudian ia meminta seluruh dosen untuk melakukan rapat dadakan. Sepuluh dosen dengan anggota 4 wanita dan 6 pria berkumpul bersama di tenda ransum.


"Assalamu'alaikum, ada apa ini?" tanya Bu Elma yang baru saja masuk, lalu duduk di sebelah dosen rambut sebahu.


"Wa'alaikumsalam," jawab semuanya serempak.


Bu Cintya menggelengkan kepalanya, "pak Ahmad, sebenarnya kita kumpul mau membahas apa?"

__ADS_1


Pria dengan sweater hijau lumut menghela nafas sejenak. Kacamata bening berulang kali ia benarkan. Sementara dosen yang lain memilih diam menyimak agar tidak salah memberikan pendapat. Apalagi belum tahu titik permasalahannya.


Pak Ahmad mengubah posisi duduk menjadi lebih tegak, "Saya ingin meminta vote dari kalian. Apakah camping akan dilanjutkan, atau lebih baik dihentikan? Setelah semua yang terjadi. Sejak kita menginjakkan kaki di bumi perkemahan. Saya rasa, akan lebih baik untuk menunda acara."


"Apa ini ndak terburu-buru, Pak?" tanya Pak Muhsin seraya menyandarkan tubuhnya ke belakang.


"Bener, Pak. Semua baik-baik saja, loh." sambung Pak Lutfi.


Bu Hilda mencerna semua yang sudah terjadi, hingga ia menyadari sesuatu. "Pak, bukankah satu orang bisa menjaga kita semua?"


"Siapa maksud, Bu Hilda?" Bu Cintya bertanya menatap wanita yang duduk di ujung kanan.


"Jika maksud Bu Hilda adalah Mas Azam. Saya minta maaf, tapi beliau hanya menemani kita dan meskipun...," jelas Pak Ahmad, tetapi tak jadi melanjutkan karena ia tak ingin membongkar identitas pria muda yang lebih memilih untuk istirahat di mushola.


Bu Elma beserta dosen lainnya menunggu penjelasan Pak Ahmad. Akan tetapi pria itu justru terdiam beberapa saat, hingga kedatangan seorang mahasiswa dengan langkah tergesa-gesa berhenti di depan tenda. Nafasnya ngos-ngosan seperti baru di kejar hantu saja.


"Pak, Bu, ituu...," lapor mahasiswa itu dengan nafas memburu.


Semua dosen meninggalkan kursi masing-masing, lalu mengerubungi si mahasiswa. Tatapan tanda tanya dan cemas jelas terlihat, tapi justru menambah kegugupan anak itu.


"Leo, ada apa?" tanya Pak Lutfi sebagai wali kelas mahasiswa itu.

__ADS_1


__ADS_2