
"Hidup Raja dan Ratu Iblis!"
Malam purnama ketiga berakhir seperti yang Lucifer inginkan. Namun, sebuah ketidaksengajaan telah melanggar aturan dari ritual yang seharusnya dilakukan. Dimana jiwa Bella terpisah dari raga gadis itu, dan itu membuat perpindahan batu merah delima ke tubuh sang istri manusia. Kini pangeran iblis hanya memiliki kekuatan dari ritual penyatuan, tapi kehilangan kekuatan yang sebenarnya.
Meski begitu, pangeran tidak merasa cemas atau dilema. Setelah malam ini, maka kehidupan Bella tidak harus dilindungi. Meski ada efek samping, dimana istri manusianya akan menjadi incaran para makhluk gaib. Bukan hanya itu saja, karena sekarang pintu gerbang cahaya kembali memiliki pintu satu sisi yang hanya bisa digunakan oleh makhluk tertentu dan orang-orang terpilih.
Seperti badai yang menerjang membawa kegelapan. Sinar mentari kembali menghangatkan ketika badai itu berlalu. Suara batuk yang terdengar pelan mengalihkan perhatian Ibu Sulastri. Wajah pucat wanita itu, seketika berubah menjadi lega. Dari tempatnya bersimpuh, ia melihat sang putra sudah kembali sadar dengan jiwa yang nyata. Sorot mata itu tidak lagi kosong.
"Abil!" panggil Ibu Sulastri langsung berlari menghampiri ranjang putranya, wanita itu merengkuh tubuh Abil seraya memberikan kecupan berulangkali di kening sang putra.
"Bu, Ka Bella mana?" tanya Abil, membuat ibu Sulastri terhentak kenyataan pahit.
Bagaimana caranya menjawab? Saat ini, bahkan tidak ada jejak kemana perginya sang putri. Apalagi keberadaan menantu makhluk gaib yang pasti menjadi dalang dari semua kekacauan itu. Sebagai seorang ibu, ia hanya bisa membenamkan kepala Abil ke dalam pelukan, "Kakakmu pasti kembali. Sekarang yang terpenting adalah Abil harus sehat kembali. Ibu tidak bisa kehilangan kalian berdua."
__ADS_1
Disaat keduanya mulai berusaha menerima kenyataan untuk tetap percaya dan bersabar. Tiba-tiba saja terdengar suara orang mengetuk pintu. Waktu yang menunjukkan pukul lima pagi, membuat Ibu Sulastri bersikap waspada. Meski feelingnya tidak mengatakan di luar sana ada bahaya. Tetap saja situasi mengharuskan dia untuk bersikap melindungi Abil.
Ibu Sulastri mengikat tangan Abil menggunakan kain yang dihubungkan ke tangan kirinya. Hal itu dilakukan agar tidak kecolongan lagi, lalu ia berjalan meninggalkan kamar sang putra. Beberapa saat langkah kaki menyusuri ruang tamu, kemudian berhenti tepat di depan pintu dengan tangan memegang gagang pintu, "Siapa diluar?"
"Assalamu'alaikum, Bu. Ini aku teman Bella. Tolong izinkan kami masuk," jawab dari luar, sontak saja membuat Ibu Sulastri memutar kunci, lalu membuka pintu sedikit untuk melihat siapa yang bertamu di pagi buta.
Di depan pintu ada tiga wanita dengan rentan usia yang berbeda-beda. Seorang nenek yang membawa tiga bambu kuning. Seorang wanita bercadar dan seorang gadis seusia putrinya. Namun, wajah ketiga orang itu terlihat asing. Meski begitu, tak ingin bersikap tidak sopan. Maka, ibu Sulastri mempersilahkan tamunya masuk ke dalam rumah. Setelah ke empat orang itu duduk di ruang tamu. Gadis yang datang mengambil sikap dengan duduk menghadap sang pemilik rumah.
"Maaf karena Diana harus kerumah ibu membawa seluruh keluarga, tapi ini sangat penting. Sebelum itu, ibu boleh membawa Abil untuk bergabung," kata Diana memulai perbincangan, "Saat ini, tidak baik meninggalkan anak itu sendirian."
Simbah memilih untuk mengamati setiap sudut ruangan rumah Ibu Sulastri, sedangkan Ela harus tetap melantunkan doa dan tidak bisa menyela apapun yang akan Diana katakan. Setelah proses yang keluarga itu lakukan. Akhirnya ada titik terang. Namun, untuk menyelesaikan perjanjian dari leluhur keluarga Bella. Banyak nyawa yang akan terancam dan juga pengorbanan harus dilakukan.
"Disini, tidak akan ada yang saling menyalahkan. Baik ibu, dan keluarga ku, kita akan saling membantu. Sebelum itu, bisakah ibu ceritakan awal mula dari perjanjian yang dilakukan leluhur. Meski kami tahu, tetap saja. Sebagai pewaris yang sah. Ibu Sulastri yang bisa membenarkan serta meluruskan setiap peristiwa. Silahkan dimulai," Diana mempersilahkan Ibu Sulastri, dimana wanita paruh baya itu menatap netra Abil yang terlihat ketakutan.
__ADS_1
Seakan tengah menimbang, apakah kejujuran akan membawa Bella kembali atau justru lebih baik diam. Andaikan diam, lalu sampai kapan perjanjian leluhurnya akan berakhir? Apakah akan ada penolong. Jika ada, mungkinkah keluarga yang bertamu di pagi buta menjadi sebuah harapan kebebasan keluarganya?
"Ibu Sulastri! Waktu kita tidak banyak. Tiga hari setelah purnama ketiga. Jika Bella tidak kembali ke dunia manusia. Maka tidak akan ada harapan lagi."
...----------------...
......................
...πCurhat dikitπ...
*Siang reader's tercinta. Dari semua karya ku, othoor cuma mau nyampein terimakasih sebanyak-banyaknya karena udah support dan berkat kalian. Aku semangat berkarya, tapi berhubung real life mulai sibuk. Maka, setiap karya yang on going, awal bulan akan tamat. Do'ain ya, moga bisa kejar deadline, dan fokus real life. π₯°
Miss you all, πππ£π£ moga gak kapok baca karya ku. ππππ€§
__ADS_1
Jangan lupa selalu semangat πβ*
......................