
Satu dorongan dari Lucifer, membuat Azzam dan Bella terlempar keluar rumah melewati jendela kaca. Suara itu terdengar begitu keras serta pecahan kaca yang beterbangan. Senyuman tulus dari pangeran iblis. Menyadarkan Azzam, semua berakhir tanpa dendam.
Diantara serpihan kaca yang beterbangan. Azzam menarik tubuh Bella agar mendekat ke arahnya. Ia tak ingin gadis itu mengalami luka serius, ntah kenapa ada rasa ingin terus melindungi sang mantan istri pangeran iblis. Keduanya terlempar cukup jauh hingga tubuh terjatuh menghantam tanah berguling-guling dan terhenti karena menabrak batang kayu yang teronggok di halaman rumah.
Kondisi keduanya cukup parah. Dimana Bella harus terkena beberapa pecahan kaca yang menancap di punggungnya, meski wajah dan bagian depan tubuh terlindungi berkat pria yang memeluknya. Sementara Azzam sendiri, lukanya tak terhitung, tetapi tetap dalam keadaan sadar.
"Bangunlah! Pelan-pelan saja." bisik Azzam dengan sisa tenaga yang ia punya, suara lembut tanpa emosi membuat Bella tertegun. Apalagi tatapan mata pria yang ada di depannya begitu meneduhkan. "Turunkan pandanganmu karena melihat lawan jenis secara berlebihan termasuk zina mata."
Apakah itu nasehat, atau peringatan? Apa yang menolongnya adalah seorang ustadz? Jika iya, bagaimana bisa ada yang tahu tentang keluarganya yang sedang tertimpa musibah. Bella berusaha bangun, mencoba memberikan tumpuan kekuatan pada kedua tangannya agar mau diajak kerja sama. Namun, yang terjadi justru seluruh otot terasa begitu lemah tak berdaya.
__ADS_1
Sontak saja, tubuhnya kembali terantuk jatuh mencium dada Azzam yang tertutup bernoda merah. "Maaf, tapi ....,"
"Tunggu dulu. Aku akan membantumu." Azzam menyela, lalu dengan hati-hati mengubah posisi mereka. Kini ia di atas dengan tubuh Bella yang masih dalam pelukannya. Kemudian, secara bersamaan. Pria itu membawa Bella untuk bangun bersamanya.
Sadar atau tidak. Azzam terlalu dekat dengan Bella. Pria itu tidak pernah mendekati seorang wanita pun. Hatinya berdesir bukan karena cinta, tetapi karena berdosa. Namun, situasi tak menghentikan perikemanusiaan agar menolong gadis yang memang harus diselamatkan.
Sementara Pak Kyai mengulurkan tangannya membantu Azzam. Penglihatannya tajam hingga mampu melihat tubuh pemuda itu mengalami luka batin yang begitu dalam, meski fisik juga penuh noda merah. Tetap luka batin yang membuat Azzam kehilangan hampir seluruh energinya.
"Nak, luka mu harus mendapatkan perawatan yang tepat." kata Pak Kyai, namun Azzam hanya tersenyum seraya menggelengkan kepala. "Baiklah, ayo kita selesaikan pembersihan rumah ini."
__ADS_1
Azzam menoleh ke belakang, dimana Bella dan Abil berada. Hatinya terenyuh, tapi apa yang menjadi tugasnya harus dia selesaikan. "Mari, Pak Kyai. Semoga ini akan menjadi akhir dari seluruh kegelapan."
Pak Kyai menyerahkan tasbih miliknya kepada Azzam. Pria lanjut usia itu hanya akan membantu doa, sedangkan yang melakukan pembersihan adalah Azzam sendiri. Pemuda dengan pakaian yang kini dipenuhi noda merah berjalan menghampiri rumah perjanjian dengan langkah kakinya yang tidak seimbang. Lantunan doa terus menggerakkan mulut tanpa henti.
Apakah pemuda itu lupa. Jika di dalam sana masih ada manusia yang tersungkur tak sadarkan diri. Azzam terus saja berjalan maju, ditemani dzikir dari dalam hati seraya melepaskan tali tasbis yang ia pegang. "Bismillahirrahmanirrahim ....,"
Satu persatu butiran tasbih dilemparkannya ke berbagai arah. Kemudian Azzam memejamkan mata, sekali lagi membuka mata batinnya. Raga nya yang tersisa terpaku berdiri di depan rumah, tetapi jiwanya kembali keluar berjalan melangkah memasuki rumah perjanjian. Pak Kyai yang melihat itu semakin khusyuk melantunkan doa ditemani hembusan angin yang menerpa.
Sementara itu, Bella mulai bisa mengendalikan diri sendiri. Gadis yang kini merasakan tubuhnya seperti remukan roti. Rasa sakit tak bisa diabaikan, tapi ketika tidak menemukan keberadaan ibunya. Tanya itu tak lagi terbendung. Ditatapnya Abil dengan tatapan serius, "De, mana Ibu?"
__ADS_1