Jerat Karma Suami Goib Ku

Jerat Karma Suami Goib Ku
Bab 86: AZAM MEMINTA PENJELASAN


__ADS_3

Diana berjalan mondar-mandir seraya menggigit kuku jari telunjuk tangan kanannya. Ekspresi khawatir semakin bertambah, "Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada Abil. Ini tugasku, tanggung jawabku. Sudahlah, lebih baik aku keluar."


Baru saja melangkahkan kaki. Tiba-tiba pintu terbuka, tetapi tubuh pria dewasa yang menyembul. Tanpa perlu mengamati. Sudah jelas, dia seorang manusia. Belum sempat memperhatikan dengan jelas. Pria itu memintanya untuk segera menutup pintu.


Diana berlari dan melakukan permintaan Azam. Setelah pintu ditutup, barulah langkahnya menghampiri pria yang ternyata menggendong Abil. Dimana anak kecil itu mengalami luka di bagian lengan kirinya. Apalagi pita merah yang digunakan untuk melindungi. Justru sudah tidak ada.


"Abil kenapa? Tunggu sebentar," Diana mengambil bambu kuning yang ada di ruangan itu, lalu menghentakkan ke lantai. Setelah beberapa kali, ada beberapa helai daun ntah apa namanya keluar dari bambu.


Gadis itu mengambil daunnya, lalu mengepalkan tangan agar bisa mengubah daun menjadi layu. Kemudian kembali mendekati Azam dan Abil. Daun yang berubah warna dan menjadi basah mengeluarkan sari dibubuhkan ke luka anak itu, sedangkan Azam memilih untuk mengamati.


"Semoga ini membantu. Kakak siapa? Tunggu dulu. Sepertinya, aku pernah melihat kakak, tapi dimana? Aku lupa." ucap Diana mencoba mengingat Azam, pria yang berpenampilan lebih alim.


Azam menundukkan pandangan matanya. Sebagai seorang ulama, dia tahu hukumnya untuk menjaga pandangan dari yang bukan muhrim. Tetapi meski begitu, memang benar. Jika keduanya pernah bertemu dan ingatannya jelas masih bisa mengingat semua peristiwa di bumi perkemahan.


Dimana gadis di depannya merupakan mahasiswa yang kesurupan dengan kerasukan salah satu kunti di bumi perkemahan, "Siapapun aku, disini kita harus bekerja sama. Apa kamu tahu, bahaya nya melibatkan anak sekecil ini? Jiwanya baru saja kembali dan luka ini. Bisa saja menjadi penyebab jiwanya melayang."


"Maaf, tapi aku tidak punya pilihan. Lihatlah disana!" Diana menunjuk ke arah lapisan waktu yang memperlihatkan dimensi alam gaib, hanya saja. Tetap yang terlihat hanya kabut hitam, seakan ada yang menutupi agar mereka tidak bisa melihat, "Aku terikat dengan pintu dimensi. Aku tidak bisa meninggalkan kamar ini, apa yang menjadi sisa pilihan ku? Katakan."

__ADS_1


Azam menghela nafas. Apapun yang dikatakan Diana memang benar adanya. Jika Abil yang ada di dalam kamar. Sudah pasti, dimensi bisa menarik anak itu untuk masuk ke alam gaib. Namun, tujuannya untuk menyelamatkan kedua manusia itu. Jadi, apapun resikonya. Dia harus membawa Diana dan Abil kembali ke dunia manusia.


"Sudah berapa lama kalian di sini?" tanya Azam mencoba menengahi dan mencari solusi agar tidak semakin lama menempati rumah sarang makhluk.


Diana melihat jam khusus yang dia kenakan. Jarum jam yang berputar berlawanan arah. Setelah menghitung beberapa detik, "Sekitar hampir satu hari satu malam. Jika tidak salah hitung, kenapa, Ka?"


Jawaban dari Diana, membuat Azam mengingat setiap waktu yang sudah dilewatinya. Pria itu, terlihat berpikir keras, tetapi di dalam hati tetap melantunkan dzikir agar tetap memiliki perlindungan diri. Lirikan mata tertuju pada pintu dimensi. Dimana dibalik kabut hitam, mata batinnya bisa melihat pertarungan yang tengah berlangsung.


"Katakan, berapa orang yang datang dan masuk ke dalam kamar ini secara bersamaan? Kenapa kalian terpisah? Jelaskan tanpa ada yang terlewat." Tukas Azam tanpa mengurangi kesopanan sebagai seorang muslim.


Diana tidak mengeluh ataupun merasa aneh dengan pertanyaan dari Azam. Hatinya berkata, jika pria yang memangku Abil memang dikirim Allah untuk menjadi penyelamat mereka semua. Tanpa menunda waktu, gadis itu menceritakan awal mula. Bukan dari ketukan pintu di pagi buta, tetapi dari kepergian keluarganya untuk mengambil sejumput tanah di rumah Bella.


Azam mencerna semua itu dengan kesabaran hingga rantai kejadian tergambar jelas di dalam benaknya. Kini, dia tahu. Keluarga gadis pemilik nama Diana beserta keluarga gadis itu merupakan keluarga dari salah satu leluhur yang memiliki silsilah orang pintar. Apalagi ketika menyebutkan nama Simbah.


"Semua ceritamu, sudah aku pahami. Sekarang, apa kamu ingin mata batin itu selalu terbuka atau justru, membuatmu merasa terganggu? Aku tahu, jika kamu masih belum terbiasa dengan keberadaan mereka." ujar Azam mencoba untuk memberikan pilihan pada Diana.


Diana menghela nafas, tatapan matanya tertuju pada dimensi alam gain. Jika menuruti kata hatinya. Sudah pasti memilih untuk tidak memiliki mata batin yang terbuka, tapi dia tidak seegois itu. "Aku rela, jika mata batin ku terbuka untuk selamanya. Sungguh, aku hanya ingin keluarga dan sahabat ku kembali. Itu lebih dari cukup bagiku."

__ADS_1


"Gadis yang baik. Ayo, kita selesaikan tanggung jawabmu. Aku hanya minta bantuan do'a dan jaga anak ini, sampai aku selesai melakukan pembersihan rumah. Apa kamu bisa?"


Diana mengangguk, lalu mengambil alih tubuh Abil. Kemudian membiarkan Azam mengambil bambu kuning yang tergeletak di lantai. Pria itu memperhatikan bambu, tapi tiba-tiba saja. Satu hentakan tangan, membelah bambu menjadi dua bagian. Tentu saja, membuat gadis itu terbelalak tak menyangka.


Azam mengulurkan setengah dari bambu ke Diana, dan tangan gemetar gadis itu menerimanya, "Jangan takut, bambu ini hanya sebagai alat bukan pelindung sebenarnya. Tanpa doa dan keyakinan hati. Maka, satu makhluk pun, tidak bisa dihancurkan. Paham?"


Diana mengangguk. Ntah apa yang harus dilakukannya karena saat ini. Otaknya tidak bisa bekerja dengan jernih. Hanya satu yang tersisa. Hatinya masih memiliki kepercayaan pada pria yang kini berjalan menuju pintu kayu. Langkah kaki yang semakin menjauh hingga tangannya bersiap memegang knop pintu.


"Jangan dibuka!" Seru Diana mencegah Azam, tetapi percuma karena pria itu sengaja membuka pintu secara perlahan.


Suara derit pintu mulai terdengar membangkitkan detakan jantung yang berlari marathon. Dag dig dug. Begitulah suara yang mengalun dan terdengar begitu jelas, bahkan Diana reflek menggenggam bambu di tangan kanannya semakin erat. Insting melindungi diri tersentak begitu saja.


.


.


.

__ADS_1


Nb: othoor akan coba up double, semoga tidak ada halangan. jangan lupa jejak kalian ya 🥰


__ADS_2