
Langkah demi langkah. Akhirnya ia berhenti dengan jarak satu meter lebih sedikit, lalu Bella mencoba mengangkat tangannya yang seperti beban puluhan kilo batu. Gadis itu merasa kesulitan untuk menyambut uluran tangan sang pangeran iblis. "Aku tidak bisa menggerakkan tanganku."
"Bismillahirrahmanirrahim."
Azzam menghentakkan kaki, membuat tanah berguncang. Tangan Bella yang hampir saja ditarik Lucifer terhempas kembali dengan tubuh melambung ke belakang. Gadis itu, kembali menjauh dari suami iblisnya, melihat itu. Azzam menyerang pangeran iblis dengan sisa kekuatannya.
Satu serangan terakhir. Dimana Azzam menghempaskan serbuk merah, tetapi kali ini serbuk itu justru mengenai tubuh Bella. Dia sengaja agar gadis itu tidak bisa melakukan apapun. Di saat bersamaan, Lucifer melesatkan cambuk menyambar punggung Azzam hingga terpental membentur anak tangga.
Azzam terbatuk hingga mengeluarkan darah membuat pria itu, tak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Ingin sekali bangkit, tapi itu tubuhnya terasa remuk. Diana yang melihat itu, langsung berlari mencoba menolong pria itu. Namun, justru mendapatkan penolakan.
Sementara Abil keluar dari tempat persembunyian, ia lari menghamburkan diri memeluk tubuh kakaknya yang terkunci seperti patung. Situasi rumah itu semakin tak berbentuk dengan lantai retak, barang-barang berhamburan rusak, serta lumpur yang mulai menutupi sebagian lantai.
Azzam kembali bangkit. Tatapan matanya tetap tengah meski bibir mengalirkan darah segar. Diana yang melangkah mundur membiarkan pria itu untuk bangun seorang diri. Dia tahu, jika Azzam menjaga pandangan. Kini, ingatan di bumi perkemahan telah kembali.
"Pak, apa yang bisa aku lakukan?" tanya Diana tak bisa menerima jika hanya berdiam diri. Seketika Azzam menoleh kearahnya, tetapi tidak memberi jawaban apapun. "Pak?"
"Jaga anak itu! Pergilah temui Pak Kyai yang ada di desa ini." Ucap Azzam dengan menahan rasa sesak yang seakan ada tangan mencengkam ulu hatinya.
Satu perintah, membuat Diana mengangguk, lalu berlari seraya melompati beberapa lantai yang tergenang lumpur. Gadis itu berusaha untuk mengajak Abil agar meninggalkan rumah. Namun, anak itu terus saja menolak, sedangkan Bella tidak bisa melakukan apapun.
__ADS_1
Azzam kembali berhadapan dengan Lucifer. Dimana keduanya saling menegaskan pandangan hingga tubuh keduanya saling mengeluarkan sinar dengan warna yang berbeda. Sinar putih dengan kilau kekuningan bercampur sinar kabur hitam kemerahan. Sinar itu membuat pemandangan Bella, Diana dan Abil samar.
Entah apa yang terjadi di tengah sinar itu, tetapi suara cambuk bersahut-sahutan dengan kilat cahaya biru. Sesekali terdengar suara erangan dan teriakan kesakitan. Setiap waktu semakin menipis. Diana tak ingin semua pengorbanan menjadi sia-sia. Tubuh Abil yang masih bisa di jangkau, membuat gadis itu langsung menggendong si anak, lalu berlari meninggalkan rumah.
Tidak peduli dengan sambaran petir yang menggelegar. Diana terus berlari menuju pintu utama rumah. Gadis itu berusaha untuk tetap melindungi Abil dengan sisa tenaganya. Kini, nyawa bukan lagi taruhan, tetapi menjadi persembahan.
Setelah berusaha, akhirnya tangannya mencapai knop pintu. Niat hati ingin menarik pintu agar terbuka. Tiba-tiba terdengar suara perintah yang memintanya untuk mendorong pintu ke arah berlawanan, jika ingin keluar ke dunia manusia. Tanpa ambil pusing. Diana mendorong pintu, sayangnya sesuatu membelit kaki.
"Pergilah! Cepat." Diana berseru, di sisa waktunya. Ia melihat kondisi Abil yang mengalami cedera di lengan dengan sisa kesadaran karena shock atas perbuatannya, hingga pintu itu kembali tertutup dengan sendirinya.
Suara yang begitu jelas memberikan kejutan jantung. Diana menatap ke arah bawah. Belitan sulur pohon semakin menariknya, tubuh yang tidak memiliki tenaga banyak terpelanting hingga jatuh membentur lantai. Suara jeritannya menyatu bersama gungangan tanah yang terus saja memberikan perlawanan.
Meski sekuat tenaga mencoba untuk melepaskan diri dari sulur yang mengikatnya. Tetap saja, Diana mulai kehilangan kesadarannya kembali. Suara cambuk menghilang, pemandangan mata mulai menjadi gelap tanpa menyisakan sekilas cahaya sekalipun.
__ADS_1
Sama hal nya di dunia manusia. Di dunia alam gaib, Gael juga harus merasakan rasa sakit yang luar biasa. Romo yang murka dengan perlawanannya, justru membuat seluruh rakyat melawannya. Jujur saja, dia tidak berniat memusnahkan seluruh alam gaib. Akan tetapi melihat seluruh kerajaan melakukan perlawanan.
Apalagi yang bisa dia lakukan? Batu permata mengikuti emosi dari si pemilik. Ketika Gael semakin melepaskan emosi. Maka semakin kuat juga energi yang mengalir ke dalam tubuhnya. Pangeran kedua melolong keras dengan suara erangan yang menakutkan, membuat para makhluk memundurkan langkah.
Namun, tidak dengan Romo. Mantan raja iblis menyeringai dengan kilatan amarah. Kedua tangannya siap melancarkan serangan, tetapi tiba-tiba....
Satu tebasan dari putranya menghentikan tatapan mata kejinya. Sesuatu terasa menembus bagian tengah perutnya. Ntah sebenarnya apa yang terjadi hingga cairan hitam kental mulai merembes meninggalkan raga yang rapuh. Sementara Gael yang berhasil melukai Romo hanya dengan tatapan pedang.
Tubuh Pangeran Kedua tersungkur bersamaan ambruknya tubuh Romo. Rakyat yang melihat itu, gemetaran. "Sembah, Tuan Raja!"
Seruan itu seperti tusukan jarum. Dia tidak ingin menjadi raja. Apalagi menjadi bagian dari ketidakadilan. Namun, jiwa Romo berubah menjadi abu akibat tatapan mata pedangnya. Apa itu mungkin? Apakah babak kisah dari mantan raja iblis telah berakhir? Secepat itu? Mungkinkah?
Robohnya Romo sebagai mantan penguasa. Juga menjadi akhir dari pertarungan Azzam dan Lucifer. Tidak ada angin ataupun hujan, rumah itu mulai roboh dengan sendirinya. Di saat seluruh tubuh penuh luka. Azzam masih sempat mengulurkan tangannya kepada sang teman.
Dimana Lucifer sudah tak berbentuk dengan seluruh kekuatan yang tersisa. Di sisa ingatan manusianya, ia menyambut tangan Azzam. Namun, tiba-tiba... Pangeran iblis mendorong tubuh manusia itu hingga terpental selasar bersama Bella. Ntah sengaja atau bagaimana.
__ADS_1
Satu dorongan dari Lucifer, membuat Azzam dan Bella terlempar keluar rumah melewati jendela kaca. Suara itu terdengar begitu keras serta pecahan kaca yang beterbangan. Senyuman tulus dari pangeran iblis. Menyadarkan Azzam, semua berakhir tanpa dendam.