Jerat Karma Suami Goib Ku

Jerat Karma Suami Goib Ku
Bab 7: BIRO JODOH CINTA - LAMARAN?


__ADS_3

"Orang sini memanggilku Ki Jamal. Pulanglah, Bu! Tidak baik meninggalkan putri ibu bersama pangeran iblis itu sendirian. Jangan lupakan putra ibu juga, anak itu bisa menjadi sasaran empuk." Ki Jamal membalikkan badannya lalu berjalan meninggalkan ibu Sulastri yang masih termenung memikirkan semua ucapan pria itu.


"Mencari jodoh?" Ibu Sulastri memikirkan satu tanda tanya itu, "Benar juga, sebaiknya aku coba saran Ki Jamal."


Pertemuan tak sengaja dengan Ki Jamal membuat Ibu Sulastri memutuskan masa depan Bella akan dimulai sejak saat itu. Sebuah pemikiran yang matang sudah menjadi keputusannya. Tanpa menunda apapun, ia memilih kembali ke rumah. Akan tetapi sebelum pulang. Justru mampir ke sebuah tempat yang cukup terkenal di kota kelahirannya. Dimana sebuah ruko dengan pintu kaca bertuliskan *BIRO JODOH CINTA* berada.


"Apa yang kulakukan hanya demi putriku. Bismillah." ucap Sulastri memantapkan keputusannya, lalu melanjutkan langkah kakinya menapaki pelataran ruko.


Tangannya mendorong pintu kaca yang membuat suara lonceng di atas pintu berbunyi. Langkah kaki berpindah ke dalam ruko. Tatapan mata menelusuri seluruh ruangan yang terlihat serba putih dengan sebuah meja dan dua kursi di sudut sisi utara.


"Kemana si mbak yang biasa jaga ya? Tumben sepi bener nih tempat. Biasanya saat aku lewat terlihat rame." gumam Sulastri menjadi sedikit ragu akan keputusannya untuk mencarikan Bella jodoh lewat biro jodoh.


"Ekhem! Ibu cari siapa?" Tanya seorang wanita manis berhijab hitam yang keluar dari sebuah ruangan membuat Sulastri tersenyum tipis seraya menunjuk plang nama di kaca depan pintu. "Oo, mau daftar cari jodoh, tho. Mari silahkan duduk di sana!"


"Makasih, Mba." Jawab Sulastri berjalan mengikuti si mbak hijab yang duduk di kursi kerjanya.


Kini keduanya berhadap-hadapan. Si mbak hijab hitam meletakkan kedua tangannya di atas keyboard bersiap untuk mencatat client biro jodoh kali ini. "Tolong ibu jelaskan, siapa yang mau mencari jodoh dan ingin pasangan yang seperti apa."


"Saya ingin mencari jodoh untuk putri saya Bella. Pasangan yang saya harapkan hanya seorang pria yang mapan, mampu menjadi imam dan melindungi serta menerima putriku apa adanya." jelas Ibu Sulastri tanpa ragu, membuat si mbak hijab tersenyum mengangguk paham seraya mengetik sesuatu.


"Boleh tinggalkan foto putri ibu, dan juga Identitas serta alamat rumah. Tentu agar calon yang sesuai kriteria bisa melamar atau melakukan taaruf ditempat yang benar. Semoga ibu paham, takutnya nanti jadi persis lagu penyanyi alamat palsu." jelas Si mbak hijab terkekeh pelan, sontak Ibu Sulastri ikut terbawa suasana mendengar tingkah lucu pemilik biro jodoh.


Setelah tiga puluh menit melakukan sesi tanya jawab. Akhirnya kedua wanita itu bersalaman, seraya memberikan senyuman perpisahan. Langkah Ibu Sulastri meninggalkan biro jodoh dengan perasaan lega dan harapan tinggi. Hari menjadi berwarna setelah mendapatkan jalan untuk menyelamatkan sang putri.


Biro jodoh melakukan seleksi yang teliti. Setiap wawancara dilakukan demi mendapatkan pasangan yang tepat untuk para client. Sama halnya beberapa pria mendapatkan pilihan calon istri yang sesuai kriteria. Terlebih disaat melihat foto cantik alami seorang remaja yang bisa dipastikan masih sangat muda, banyak yang mengajukan diri sebagai pelamar. Seperti swayamwara dadakan, banyak yang mempertimbangkan untuk memiliki Bella sebagai calon menantu.

__ADS_1


Seminggu berlalu, tepatnya hari ini adalah hari minggu. Dimana banyak keluarga yang sibuk menghabiskan waktu bersama. Begitu juga dengan keluarga Sulastri. Dimana ketiga anggota keluarga itu tengah duduk bersama ditemani secangkir teh hangat dan biskuit.


Triiing!


Triiing!


Triiing!


Suara dering ponsel di atas meja mengalihkan obrolan ringan keluarga itu. Satu nama yang tertera, membuat Sulastri menyambar ponsel, lalu berdiri. Sontak Bella menatap sang Ibu dengan tanda tanya. "Bu, siapa yang telfon?"


"Bukan siapa-siapa, Ndu. Ini cuma temen pasar, ibu lupa udah pesen apel kesukaanmu. Mungkin mau ngabarin pesanan udah disiapin atau blum, lanjut dulu kalian ngobrolnya. Ibu keluar sebentar cari sinyal." Jawab Ibu Sulastri yang berhasil membohongi kedua anaknya.


Setelah melewati ruang makan dan ruang tamu, langkah kaki Sulastri bergegas keluar dari dalam rumah. Panggilan masih berlangsung karena pihak seberang seperti memahami situasinya yang tidak bisa ditoleransi.


Ceklek!


[Wa'alaikumsalam, Bu. Saya paham, saya hanya ingin memberikan kabar. Nanti sore akan ada pihak rombongan pria yang datang berniat melamar Bella. Tentu saya akan katakan iya, jika ibu menyetujuinya. Bagaimana?]~ jawab dari seberang.


Rasa bahagia yang terpancar di wajah Sulastri tak mampu di bohongi. "Alhamdulillah, silahkan setujui Mbak. Saya menerima dengan senang hati. Semoga ini jalan jodoh putriku. Ameen."


[Ameen, Bu. Kalau begitu saya konfirmasi pihak mempelai pria dulu. Assalamu'alaikum.]


"Wa'alaikumsalam," jawab Sulastri dengan menggenggam ponselnya erat.


Panggilan sudah berakhir. Waktu berlalu begitu cepat. Pagi berganti siang, dan siang berganti sore hari. Setelah berusaha menyiapkan berbagai jenis cemilan yang dibantu Bella. Meskipun dengan alibi ingin berbagi dengan tetangga. Setidaknya setiap jenis makanan berawal dari sentuhan tangan sang putri.

__ADS_1


"Ndu, pergi mandi sana! Sebentar lagi ashar. Jangan lupa sholat, trus balik lagi ke dapur!" titah sang ibu, yang di jawab anggukan kepala, lalu melepaskan celemek dan bergegas meninggalkan dapur.


Tiga puluh menit berlalu. Penampilan ibu Sulastri sudah rapi dengan pakaian muslimah ditemani Abil yang memakai koko putih duduk di sofa ruang tamu. Hingga suara deru mobil terdengar memasuki pelataran rumah, membuat wanita paruh baya itu berjalan tak sabar untuk membukakan pintu bagi calon menantunya.


Ceklek!


Begitu pintu terbuka, terlihat rombongan keluarga pihak pria yang memakai seragam batik dengan menenteng berbagai jenis bingkisan mulai melangkahkan kaki menuju pintu utama rumah tingkat dua itu.


"Assalamu'alaikum," ucap salam rombongan secara serempak begitu menyejukkan hati Ibu Sulastri yang mengulurkan tangan kearah dalam rumah.


"Wa'alaikumsalam, mari silahkan masuk." ajak Ibu Sulastri tanpa sungkan.


Satu persatu dari setiap anggota rombongan memasuki rumah Ibu Sulastri, lalu duduk berdempetan di sofa yang terbagi menjadi tiga tempat, dan disusul sang tuan rumah yang memilih duduk di kursi kayu dari ruang makan.


"Mohon dimaklumi keadaan rumah sangat sederhana." sambut Ibu Sulastri.


"Tidak apa-apa, Bu. Kami sekeluarga sengaja datang berkunjung untuk menyambung tali silaturahmi, semoga ibu berkenan menyambut uluran tangan kami." Jawab seorang pria yang memakai kacamata putih bulat. "Ini putra saya Farhan. Boleh panggilkan Bella? Supaya maksud dan tujuan kami disambut hangat mempelainya."


Ibu Sulastri mengangguk, lalu bangun berniat memanggil putrinya. Namun, Bella sudah keluar dari dalam kamar tanpa dipanggil. Tak ayal menerbitkan senyuman seraya melambaikan tangan. "Kemari, Ndu. Ini dia putri saya, Bella."


"Bu, kenapa banyak tamu?" tanya Bella bingung.


Bu Sulastri mengajak putrinya duduk disebelah Abil. Lalu memberikan senyuman hangat. "Mari kita mulai acaranya, tapi monggo disambi cemilannya. Semua buatan Bella."


"Terimakasih, Bu. Sebaiknya kita fokus ke tujuan utama terlebih dahulu. Farhan, ayo nak!" Orang tua pria itu mempersilahkan putranya untuk melakukan niat hatinya.

__ADS_1


"Bella, perkenalkan nama saya Farhan Sudirjo. Niat kedatangan kami sekeluarga ingin melamar....,"


"Hentikan! Siapa yang membuat rencana semua ini? Sebelum saya berbicara lancang. Silahkan tinggalkan rumah kami!"


__ADS_2