Jerat Karma Suami Goib Ku

Jerat Karma Suami Goib Ku
Bab 109: Tiga Prinsip


__ADS_3

"Bella, bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Azzam seraya berbalik menghadap istrinya, membuat netra gadis itu menatapnya dengan sorot mata kebahagiaan atau lebih tepatnya bersyukur.


"InsyaAllah ini yang terbaik, Mas." Jawab Bella menyunggingkan senyuman terbaiknya yang langsung disambut usapan kepala sang suami.



Setelah berhasil ujian malam pertama. Azzam meminta Bella untuk tetap dikamar. Bukan karena ingin mengurungnya. Melainkan dia ingin, istrinya terlindungi dari mara bahaya. Rumah baru yang berubah menjadi tempat satu-satunya yang teraman bagi Bella.



Perdebatan kecil sempat terjadi. Beberapa waktu yang lalu, sebelum Azzam meninggalkan rumah untuk melakukan pekerjaan pentingnya.



"De, kemarilah. Mas mau bicara denganmu serius." Pinta Azzam seraya menepuk tepi ranjang sebelah tempat duduknya, membuat gadis itu menurut menghampiri meski tatapan mata terus menunduk.



"Iya, Mas. Silakan." ucap Bella lirih hampir tak terdengar.


Ketika suami istri melakukan perbincangan. Maka, akan lebih baik untuk saling memandang menyelami tautan pandangan yang mendalam. Apakah kalian tahu, jika berbicara menatap lawan bicara di anggap menghargai. Beberapa memang dianggap lancang. Jadi sesuaikan saja. Ingat, bicara dengan yang lebih tua harus hormat.


Bukan tangan yang hormat seperti murid sekolah saat upacara, ya. Melainkan hormat dalam arti menjaga lisan dan pandangan. Tentu saja ada pengecualian, yaitu mereka yang terbelenggu rasa takut. Sesungguhnya, manusia diciptakan agar bisa saling mengajarkan banyak hal. Termasuk saling menghargai.



Azzam merengkuh dagu Bella, mensejajarkan tatapan mata. Lalu, "De, anggap ini sebagai permintaan atau kewajibanmu. Mas melarangmu selama seminggu ke depan untuk keluar dari kamar ini dan gunakan waktumu untuk terus memperbaiki diri."


__ADS_1


"Maaf, Mas. Bella beneran nggak paham." Celetuk Bella mengerjapkan mata polosnya.


Senyuman tersungging menghiasi bibir pria itu. Tidak ada kata, ia menarik tangannya, melepaskan dagu Bella. Kemudian mulai mengalihkan tangan melakukan sesuatu yang seharusnya. Dibukanya kancing baju koko yang dia kenakan.


Tindakan yang absurd dari suaminya, membuat Bella salah tingkah. Jujur saja, ia masih sungkan dan malu untuk melihat tubuh polos Azzam yang perlahan terpampang jelas di depan matanya. Semua rasa hanya hadir sekejap, hingga pria di depannya membalikkan tubuh. Kemudian memperlihatkan goresan panjang merah menghitam.



Luka itu. Bukankah hasil dari cambukan, tapi masih terlihat begitu baru. Tatapan membulat sempurna, tangannya gemetar mencoba untuk menyentuh punggung dengan cap cambuk yang pasti rasanya bukan lagi perih.



"Mas, ini ...," Bella tercekat tak mampu melanjutkan kalimatnya, hati berdesir dengan detak jantung berpacu cepat.



"Saat ini, kamu masih menyimpan sisa aura dari permata merah delima." Azzam kembali berbalik seraya meraih koko yang ia tanggalkan, "Bella, hubungan suami istri harus dilandasi dengan tiga prinsip."




"Mas, Aku tidak tahu, akan seperti apa masa depan nanti. Selama aku menjadi istrimu. Ajarkan aku arti hubungan. Apapun keputusanmu, maka itu tanggung jawabku sebagai seorang istri agar bisa mewujudkannya." Tegas Bella tanpa keraguan, namun Azzam menggelengkan kepala.



Seorang istri memang harus menjalankan kewajibannya tanpa diminta. Akan tetapi, bukan berarti tidak memiliki kebebasan untuk berpendapat. Pada zaman dulu, anak perempuan dianggap aib. Namun sekarang, anak perempuan menjadi kebanggaan.


"De, Aku memanglah imammu yang wajib untuk kamu patuhi, tetapi kamu memiliki kehidupan yang tidak seorangpun boleh mengatur. Bukan aku atau kamu karena yang ada hanya KITA." Balas Azzam tanpa diduga, pria itu langsung memenangkan hati sang istri yang tersenyum manis.

__ADS_1


Setelah mencapai puncak perbincangan. Azzam meninggalkan Bella seorang diri, pria itu bahkan mengendarai motor kesayangannya di jalanan utama raya. Namun, jelas sekali seperti tengah diburu waktu. Sementara di tengah hutan yang gelap, seorang wanita tua berjalan menyusuri jalan tanah yang basah.



Sebuah nampan tersunggi di atas kepalanya. Hembusan angin yang menerpa, sayup-sayup menghantarkan nyanyian kidung yang mengerikan. Semakin lama, semakin terdengar jelas, hingga langkah wanita itu berhenti di depan pohon beringin dengan sulur panjang menjuntai.



"Salam sembah, Pangeranku. Hamba membawakan persembahan untuk memulai ritual perjanjian." Kata wanita itu, lalu menurunkan nampan dengan hati-hati. Kemudian meletakkan sesajen persembahan di bawah patung batu sang pangeran.



Siklus sebuah perjanjian iblis. Satu pengikut terselamatkan, tetapi datang pengikut baru. Semua seperti roda waktu, akan terus berulang-ulang kembali ke posisi awal. Selama masih ada hati manusia yang merasa kekurangan, iri dan dendam. Maka para makhluk gaib menawarkan jalan keluar.



Alih-alih mendapatkan yang dimau. Justru hanya mendapatkan kebahagiaan sesaat, lalu berganti kemalangan seumur hidup bagi para pelakunya. Dari alam gaib dan alam manusia. Babak kehidupan, para jiwa yang sesat akan selalu sama. Namun, tidak dengan Azzam.



Pria itu baru saja sampai di sebuah desa. Jalanan berkerikil dan tangga di depan sana. Sungguh mengingatkannya pada Lucifer. Rindu di hati, namun luka di jiwa. Sekali lagi, kakinya berpijak di tanah larangan. Dulu masih banyak warga yang tinggal. Sayangnya semakin tahun, mereka memilih untuk pindah ke kota.



"Assalamu'alaikum, permisi. Saya datang hanya untuk mengembalikan kitab pada pemiliknya." Cumam pria itu dan tak henti melantunkan dzikir.



Langkah kaki yang pasti menyusuri setiap anak tangga. Gubuk yang dulu masih hidup. Kini sudah roboh bahkan menjadi tumpukan jerami, sedangkan kebun yang akan dituju. Perubahan begitu signifikan. Beberapa pohon terlihat begitu tumbuh subur hingga dedaunan yang rimbun seakan membentuk atap perlindungan.

__ADS_1



"Ya Allah, auranya begitu kuat sekali." Azzam memejamkan mata, lalu membuka mata batinnya. Di depan sana, begitu banyak makhluk yang tengah duduk bersimpuh seraya mengatupkan kedua tangan. Entah siapa yang mereka tunggu.


__ADS_2