
"Putrimu tidak akan ku lukai, jika bukan kamu yang melanggar semua perjanjian....,"
Tok!
Tok!
Tok!
"Permisi!"
Suara dari luar menghentikan Lucifer yang langsung menghilang serta mengembalikan pusat kendali raga Sulastri.
"Permisi! Paket."
"Tunggu!" Jawab Sulastri bergegas ke depan untuk melihat siapa yang datang, meskipun jelas tadi mengatakan paket.
Hanya beberapa menit untuk mencapai pintu utama rumah. Ia tak lupa menetralkan ekspresi wajahnya agar lebih terkesan normal. Lalu membuka pintu melihat siapa yang datang. Tatapan mata langsung menelisik, seorang pria dengan pakaian seragam ekspedisi.
"Pagi, Bu. Apa benar ini rumah Ibu Sulastri?" tanya pria itu yang membawa sekotak kado di tangannya.
Ibu Sulastri mengangguk, "Benar, saya ibu Sulastri."
"Syukurlah, silahkan ibu terima paketnya." Pria itu menyodorkan paket yang langsung diterima penerimanya. "Kalau begitu saya permisi. Assalamu'alaikum."
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam," Jawab Sulastri.
Kotak kado sebesar kotak kue ulang tahun sedang dibolak-balik. Ntah apa siapa yang mengirimi paket. Setelah dilihat teliti, tetap saja tidak ada nama pengirimnya. Sementara pria yang mengantarkan paket sudah pergi menjauh mengendarai motor matic.
Ceklek!
Pintu ditutup, kemudian wanita itu berjalan menuju ruang tamu. Rasa penasaran akan sang pengirim paket sesaat diabaikan. Tangannya mulai membuka kertas kado biru laut, hingga setiap lapisan terkelupas menjadi sobekan kertas.
"Kardus?" gumam ibu Sulastri.
Kado yang aneh, kertas kado tersingkirkan berganti kardus yang harus di gunting. Berulang kali itu terjadi hingga lima kali. Barulah sebuah kotak peti mungil seukuran tempat gelang menjadi akhir dari usaha wanita paruh baya itu, tapi kenapa kotak itu memiliki ukiran yang sangat tak asing?
"Tunggu dulu, bukankah ini ukiran di kamar atas?" gumam Ibu Sulastri mengingat detail ukiran.
Ukiran sulur akar dengan daun helai yang tersebar. Jika diperhatikan, maka setiap sulur hanya mengitari lubang kunci peti. Artinya untuk mengetahui isi dari kado, harus menggunakan kunci. Masalahnya dimana kunci peti itu?
Dilema yang dirasakan Ibu Sulastri berbanding terbalik dengan keadaan putrinya. Dimana remaja itu berjalan menyusuri lorong kampus tanpa beban pikiran. Setiap kali ia di lingkungan kampus, maka seluruh dunia berubah. Kebebasan yang dirasakan tak bisa di pungkiri.
"Bella!" seru seseorang dari belakang, membuat si pemilik nama berbalik dengan rambut yang terbang mengikuti putaran tubuhnya.
Senyuman manis, mata berbinar dengan wajah imut begitu menggemaskan. Siapapun yang melihat itu terpaku karena ingin sekali rasanya mendekat lalu mencubit pipi sedikit menyembul chubby, sedangkan yang memanggil seorang remaja dengan penampilan tak kalah cantik. Meskipun berpakaian tomboy, dialah Diana teman sekelas Bella.
"Atur nafasmu!" Bella mengisyaratkan tangannya naik turun agar temannya mengikuti. "Katakan ada apa?"
__ADS_1
"Ada pengumuman terbaru. Aku seneng banget, kampus mengadakan camping dadakan. Ikut yuk!" curhat Diana mengayunkan lengan kanan Bella, membuat remaja itu terkekeh pelan.
"Apa semua mahasiswa diwajibkan ikut?" tanya Bella memastikan karena ia sadar hidupnya bukan miliknya lagi sekarang.
"Sepertinya iya, emang kenapa? Apa ibumu galak?" tanya balik Diana menatap Bella intens.
Bella tersenyum tipis, "Aku tidak suka di luar terlalu lama. Hanya itu saja, ayo masuk kelas!"
"Okay, deh. Apapun itu kamu harus ikut camping." balas Diana seraya menarik tangan Bella, keduanya berjalan bersama memasuki kelas.
Bagaimana caraku meminta izin pada suamiku? Setelah apa yang terjadi tadi pagi. Apalagi yang akan terjadi esok? Ya Allah, apakah kehidupanku selamanya menjadi lingkaran hitam? Kupasrahkan hidup dan matiku pada-Mu. Aku ikhlas menjalani kehidupan ku, semoga ini menjadi jalan terbaik.~batin Bella membuat kesadarannya melanglang buana meninggalkan kegiatan belajar yang tengah berlangsung.
...----------------...
MANUSIA dan jin merupakan dua makhluk yang berbeda. Jika manusia dikatakan sebagai makhluk kasar, maka jin merupakan makhluk halus, artinya tak kasat mata. Namun demikian, di antara keduanya terkadang terjalin hubungan yang begitu dekat. Sehingga, mereka bisa saja saling membantu, dengan menciptakan hubungan mutualisme, yakni saling menguntungkan.
Kedekatan manusia dengan jin boleh saja, tapi ingat pula bahwa ada juga hubungan terlarang antara mereka. Dan hubungan inilah yang harus kita hindari. Karena bila tidak maka akan berakibat sangat fatal.
Allah Subhanahu wa Ta’ala sudah mengingatkan:
وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِنَ الْإِنْسِ ۖ وَقَالَ أَوْلِيَاؤُهُمْ مِنَ الْإِنْسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَبَلَغْنَا أَجَلَنَا الَّذِي أَجَّلْتَ لَنَا ۚ قَالَ النَّارُ مَثْوَاكُمْ خَالِدِينَ فِيهَا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ
“Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpunkan mereka semuanya (manusia dan jin), (dan Allah berfirman), ‘Hai golongan jin (setan), sesungguhnya kamu telah banyak (menyesatkan) manusia.’ Lalu berkatalah kawan-kawan mereka dari golongan manusia, ‘Ya Rabb kami, sesungguhnya sebagian dari kami (manusia) telah mendapat kesenangan dari sebagian yang lain (jin) dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami.’ Allah berfirman, ‘Neraka itulah tempat tinggal kamu semua, sedang kamu semua kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain)’,” (QS. al An’am/6: 128).
__ADS_1
Di dalam tafsirnya, Ibnu Katsir rahimahullah juga mengutip perkataan al Hasan, “Arti sebagian jin dan manusia saling mendapat kesenangan satu sama lain, tidak lain ialah jin telah memerintahkan dan mempekerjakan manusia,” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir dengan diringkas, tentang Surah al An’am/6 ayat 128).
...----------------...