
"Biarlah pintu tertutup hingga tiga kali."
Begitulah kata Ela. Wanita bercadar yang menahan tangan Ibu Sulastri. Dimana benar saja. Pintu yang terbuka kembali tertutup karena tidak ada yang masuk. Beberapa detik berikutnya kembali terbuka, lalu tertutup lagi. Namun, ada yang berbeda. Saat pintu terbuka pertama kali hanya ada cahaya putih menyilaukan. Kemudian, di saat terbuka untuk kedua kali hanya ada cahaya semburat merah darah.
"Pintunya tidak terbuka lagi. Aku...,"
Rasa tidak sabar Ibu Sulastri terbungkam dengan pintu yang terbuka ketiga kalinya. Kali ini, dia tidak ingin ditahan dan tanpa permisi langsung melangkahkan kaki kanan masuk ke kamar itu. Ela yang berniat untuk menahan dan memberitahukan peraturan ritual berakhir menjadi kepasrahan. Bagaimana lagi? Sudah terlanjur.
Melihat itu, Simbah mengusap pundak sang cucu sulung, "Ayo, masuk! Jangan lupa masuk dengan kaki yang sama seperti Ibu Sulastri. Dia yang memulainya dan kita hanya bisa mengikuti. Pasti semua sudah digariskan. Diana, Abil, khusus kalian tetap masuk dengan langkah kaki kiri!"
KaCan kembali melantunkan doa, lalu ikut masuk bersama Simbah, sedangkan Diana menyusul di akhir bersama Abil. Tentu saja mengikuti apa yang diperintahkan oleh Simbah. Begitu mereka semua memasuki kamar bertirai hitam. Kamar yang seharusnya hanya sekilas kamar pada ukuran normal. Justru berubah begitu luas dan pemandangan yang menyambut hampir mengeluarkan semua isi perut.
Rasa eneg karena melihat potongan-potongan daging segar berlumuran darah yang tergeletak di beberapa pohon besar. Dupa yang menyala menghasilkan asap, hanya aroma itu yang sedikit menyamarkan aroma anyir. Mereka tidak masuk ke dimensi manusia, tapi memasuki dimensi alam gaib. Di antara kelima orang, hanya Diana dan Abil yang benar-benar masuk ke kamar tirai hitam.
Satu langkah saja yang salah karena ketidaksabaran dari Ibu Sulastri, membuat tiga orang harus masuk kedalam gerbang cahaya. Apapun yang akan mereka lihat, bukan hanya hati, tapi pikiran juga harus dipertahankan untuk waras. Meski para makhluk tidak akan menyadari keberadaan mereka. Tetap saja, banyak hal yang bisa disaksikan di depan mata.
__ADS_1
"Kita ada dimana? Semua ini apa?" Ibu Sulastri bertanya seraya memegangi perut dan menutup hidung agar bisa bertahan dari semua yang dia lihat.
KaCan berniat menjawab, tapi tatapan sang nenek menghentikan niatnya, "Kita masuk kedalam gerbang cahaya. Saat ini, kita berdiri di alam gaib. Dimana putrimu berada. Jadi, sebelum melanjutkan perjalanan. Aku tekankan untuk tidak gegabah. Disini, bukan hanya nyawa satu orang yang menjadi taruhan, tapi nyawa lima orang."
Wajah bingung dengan ekspresi aneh dari Ibu Sulastri, membuat KaCan menghela nafas panjang. Sepertinya perjalanan di dimensi alam gaib menjadi lebih berat dari biasanya. Yah, setidaknya ada Simbah dan Diana serta Abil masih aman karena di alam manusia. Seperti itu pemikiran Ela. Namun, wanita bercadar itu, tidak tahu. Jika di alam manusia, tidak jauh berbeda dari al gaib.
Apa yang dilakukan oleh ketiga orang di alam gaib. Diana bisa melihat dan mendengarkan, tapi itu hanya berlaku satu arah saja. Resiko yang diambil terlalu besar. Apapun itu, kini harus berjuang bersama. Hidup atau mati hanya milik Yang Maha Kuasa. Tanpa ketetapan hati, tentu hati dipenuhi rasa takut dan tidak bisa tenang untuk berpikir jernih.
Kamar bertirai hitam hanyalah sebuah ruangan yang berisi berbagai macam sesajen dengan tiga tampah. Setiap tampah memiliki isian yang berbeda-beda. Diana memperhatikan setiap isi sajen seraya tetap menggandeng tangan Abil. Satu hal yang tidak bisa dibiarkan adalah jiwa anak itu masih terancam bahaya. Saat ini, tanggung jawab pembersihan rumah hanya ada di pundaknya seorang.
"Kartun shinbi di Net, Ka."
Diana tersenyum simpul, lalu menurunkan posisinya agar bisa sejajar dengan Abil, hingga tatapan mata keduanya terpaut satu sama lain, "Kartun yang bagus. Ka Diana akan menjadi Koo Ha-ri dalam cerita ini. Apa Abil mau jadi shinbi atau jadi adik kakak yaitu Koo Doo-ri?"
"Mau jadi Doo-ri, tapi kenapa jadi bahas kartun, Ka? Abil tahu dan melihat semuanya. Diluar pintu banyak makhluk seperti di kartun shinbi. Apa mereka bisa jadi bola makhluk juga, Ka?"
__ADS_1
Bagaimana menjelaskan dua hal yang sama, tapi berbeda fakta pada anak sekecil Abil? Bingung. Jika memakai perumpamaan, bisa jadi nanti hanya ada salah paham. Akan tetapi, jika tidak mencoba menjelaskan. Sudah pasti pembersihan rumah tidak bisa dilakukan. Serba salah. Diana terdiam untuk memikirkan langkah yang tepat, hingga sebuah ide melintas di kepalanya.
"Kartun kesukaan Abil hampir mirip dengan makhluk di luar kamar. Hanya saja, di kartun Ha-ri dan Doo-ri bisa melakukan perlawanan dengan bantuan Shinbi, tapi Ka Diana dan Abil harus melakukan perlawanan dengan bambu yang kakak pegang," Diana mencoba menjelaskan, kemudian membimbing tangan anak itu untuk ikut menggenggam bambu kuning di ujung lain.
Abil hanya mengerjapkan mata, karena tak paham dengan apa yang coba dijelaskan Diana. Satu yang terlintas. Jika saat ini, para makhluk seperti menunggu untuk menikmati hidangan dengan suara yang begitu ribut dan memekakkan telinga. Padahal pintu ruangan itu ditutup. Melihat wajah polos dari adik Bella. Diana terhenyak menyadari sesuatu.
"Abil bisa melihat mereka bukan?"
...----------------...
...----------------...
Itu kartunnya 🤭 gk tahu tetiba kepikiran itu, 🏃♀️
__ADS_1
Happy Reading my readers 🔥❤🥰