
"Gael, kamu sudah datang?" tanya wanita itu merasakan sepasang tangan melingkar ke perut ramping nya.
Gael meniupkan hembusan nafasnya ke leher wanitanya, "Kenapa kamu tidak mau mendengarkan aku? Bukankah sudah ku peringatkan. Jangan mencampuri urusan pangeran iblis."
Wanita dengan rambut merah bergelombang melepaskan tangan tak kasat mata yang melingkar di perutnya. Kemudian berbalik, lalu menangkup wajah sang kekasih dengan tatapan penuh cinta.
"Siapa aku, Sayang?" tanya wanita itu manja.
Gael merengkuh pinggang wanitanya, membuat jarak semakin terkikis. "Delisa Anastasya cucu dari Simbah Widuri."
"Tepat. Aku Delisa Anastasya keturunan satu-satunya yang diharapkan bisa membantu sesama manusia. Oleh sebab itu, aku tidak takut memberikan pertolongan pada ibu Sulastri....,"
"Aku selalu mendukung semua keputusanmu, tapi kali ini, kamu menantang pangeran iblis. Sayang, aku tidak mau hal buruk terjadi padamu," Ucap Gael mengusap wajah Delisa.
Senyuman manis terkembang sempurna, "Pacarku tak kalah hebat dari pangeran iblis. Aku tahu, pangeran kedua juga bisa melindungi pujaan hatinya."
__ADS_1
Helaan nafas panjang yang bisa Gael lakukan. Keras kepala sang kekasih tak bisa tertandingi. Jangankan dirinya, wanita yang kini menyandarkan kepala di dadanya itu selalu memiliki jawaban. Meskipun pertanyaan tersulit sekalipun.
"Lupakan tentang apa yang ku lakukan. Kenapa kamu datang? Seingatku, kamu pamit pergi selama satu purnama," Delisa melepaskan pelukan, lalu berjalan menghampiri tempat ternyaman nya yang berukuran sedang, membuat Gael hanya mengekor seperti anak kecil.
"Aku merindukanmu. Apa tidak boleh menemui kekasihku sendiri?" tanya Gael seraya menyambar tangan Delisa, membuat wanita itu duduk di pangkuannya.
Delisa tersenyum tipis dengan alis terangkat menggoda, "Sayangku pangeran kedua. Sejak kapan kamu belajar berbohong?"
Pertanyaan Delisa menghadirkan kekehan kecil Gael. Pria itu semakin terlihat tampan dengan wajah tegas, hidung mancung, mata bulat sipit. Ketika tertawa ada lesung pipi di pipi kirinya. Sementara Delisa Anastasya adalah wanita berusia dua puluh tiga tahun dengan rambut merah bergelombang, kulit putih, tinggi semampai, hidung sedikit pesek, mata bulat, dan bibir kelopak mawar.
Delisa menepuk dada Gael, membuat pria itu semakin terkekeh. Ia senang bisa menggoda kekasihnya. Pertemuan yang selalu menjadi semangat baru. Apapun yang terjadi, baginya sang kekasih adalah obat dari segala obat. Senyuman, kemarahan dan juga rajukan selalu mewarnai kehidupan yang tak lagi memiliki raga.
Gael menghentikan tawanya, lalu menangkup wajah Delisa. Tatapan mata keduanya saling berbagi rasa. Semakin lama semakin dalam hingga tautan bibir tak bisa terelakkan. Pagutan lembut yang menyesatkan semakin menuntut. Beberapa saat hanya ada suara decakan.
"Jujurlah, Sayang. Aku tidak bisa membaca pikiranmu." bisik Delisa setelah melepaskan diri dari kenikmatan sesaat.
__ADS_1
Gael menyatukan keningnya dengan kening Delisa, lalu memejamkan mata. Helaan nafas panjang menghembuskan hawa dingin, membuat sang kekasih semakin merasakan dilema.
"Gael....,"
"Aku di jodohkan," Ucap Gael langsung mendapatkan tatapan tajam menelisik dari Delisa.
"Sayang, kamu bercanda 'kan?" tanya Delisa tak percaya.
Gael tersenyum lebar, "Iya, Sayangku. Aku hanya bercanda, sudah lupakan itu. Katakan padaku, apa yang akan kamu lakukan untuk membantu Sulastri?"
Aku tahu berita yang ku bawa pasti dianggap sebuah candaan. Aku bisa melakukan apapun hanya untuk melindungimu Delisa. Bagiku, kamu adalah rumah tempatku berpulang.~batin Gael menatap Delisa penuh cinta.
Pertanyaan Gael, membuat Delisa turun dari pangkuan sang kekasih. Lalu menatap pantulan dirinya ke dalam cermin yang ada di seberang tempat tidur di depan sana. Wajah asli yang selalu tertutup cadar, dan semua yang datang meminta bantuan. Pasti mengira dirinya adalah simbah Widuri.
"Aku hanya akan datang di saat kotak Putri Kejawi sudah terbuka. Pangeran iblis tidak boleh tahu. Jika aku sudah turun tangan." Jelas Delisa dengan pasti.
__ADS_1
Gael manggut-manggut paham apa maksud dari sang kekasih. Percakapan keduanya masih berlanjut. Sementara di dunia lain. Sebuah berita terkini menggemparkan beredar menjadi perbincangan para makhluk gaib. Bisik-bisik seakan menjadi virus yang langsung mencapai telinga Romo.
"Kumpulkan semua rakyatku!" titah Romo dengan kepalan tangan menahan emosinya.