Jerat Karma Suami Goib Ku

Jerat Karma Suami Goib Ku
Bab 8: KAKAK DISANA? Lalu? - KULIAH


__ADS_3

"Bella, perkenalkan nama saya Farhan Sudirjo. Niat kedatangan kami sekeluarga ingin melamar....,"


"Hentikan! Siapa yang membuat rencana semua ini? Sebelum saya berbicara lancang. Silahkan tinggalkan rumah kami!"


Jduuar!


Pengusiran yang dilakukan Bella bukan hanya membuat wajah sang ibu merah padam karena malu, tapi ada amarah. Bagaimana bisa putrinya menolak lamaran dari Farhan begitu saja? Terlebih calon suami yang bersedia melamar langsung datang dengan seluruh anggota keluarga. Tak ingin menunjukkan emosi yang berlebihan, Ibu Sulastri menghampiri putrinya. Kemudian menepuk pundak remaja itu.


"Ndu, bisa kita bicara sebentar?" bisik ibu Sulastri.


"Maaf, tapi keputusan saya sudah bulat. Terimakasih atas waktu kalian. Silahkan pergi! Pintu masih terbuka lebar." Bella menunjuk ke arah pintu mempersilahkan semua tamu meninggalkan rumahnya.


Siapa yang menyadari senyuman tipis dibalik wajah polos remaja itu? Tidak ada kata yang keluar dari pihak mempelai pria. Bukankah aneh? Setelah mendapatkan penolakan, kenapa tidak ada protes atau memberikan pertanyaan tentang sikap Bella? Ibu Sulastri berpikir, calon menantu yang gagal terlalu shock sehingga tidak mampu lagi berargumen.


Setelah kepergian rombongan mempelai pria. Kini ibu Sulastri memilih meninggalkan ruang tamu, dan mengunci diri di dalam kamar. Ia hanya ingin memiliki waktu sendiri. Sementara Abil menatap sang kakak yang sibuk menikmati kue brownis pelangi di depannya. Hingga tatapan mata keduanya saling bertemu. Tak berselang lama. Suara langkah kaki yang mendekat, membuat Bella menyeringai kemudian menghilang menjadi bayangan.


"Dee, kemana ibu?" tanya seseorang dari arah belakang.


Abil berbalik menatap remaja cantik dengan balutan gaun brokat hitam menenteng sekeranjang buah apel ranum di tangan kanannya. "Kakak disana? Lalu....,"


"Lalu? Kamu kenapa sih, dee? Kok jadi pucet gitu? Ibu kemana, dan kenapa pintu dibuka lebar? Apa habis ada tamu? Kok aku gak denger." racau Bella tanpa jeda, membuat Abil terdiam mencerna semua yang terjadi.


Shuuut! Ini rahasia kita. Adik iparku yang baik, diam ya! ~ Ucap Lucifer memasuki pikiran Abil.


Sontak tubuh mungilnya bergetar menahan rasa takut yang tiba-tiba saja merinding dengan perkataan yang masuk ke dalam pikiran. Terlebih dengan mata kepalanya sendiri melihat sosok bayangan itu masih menatap tajam mengawasi setiap tindakannya. Bella yang melihat sang adik seperti orang bingung bergegas menghampiri Abil.

__ADS_1


Keranjang buah apel di letakkan di atas lantai. Lalu memberikan pelukan seorang kakak, "Dee? Apa yang terjadi? Apa kamu sakit?"


"Kenapa dingin sekali tubuhmu? Ibu!" Bella berusaha memberikan kehangatan agar adiknya tidak merasakan kedinginan, seruan nya terdengar hingga kamar sang ibu.


Ceklek!


Netra Sulastri langsung terpaku. Ketika melihat putrinya tengah memeluk Abil dengan wajah khawatir. "Ndu, apa yang terjadi?"


Langkah kaki terburu-buru menyingkat waktu. Tanpa menunda-nunda, Ibu Sulastri menggendong Abil membawa putranya ke dalam kamar. Bella membantu sang ibu dengan menyiapkan makanan dan obat penurun demam untuk adiknya.


Satu jam kemudian,


"Bu, mau ganti lagi air kompres an nya?" tanya Bella memeriksa air di baskom sudah dingin.


Bella bangun dari tempat duduknya, lalu menghampiri meja rias di kamar ibu nya. Deretan make up lawas yang memang jarang digunakan, dan juga beberapa jenis tasbih dengan berbagai ukuran tersimpan di kotak kaca. Setelah melihat seksama akhirnya sebuah amplop yang ternyata terselip di antara tumpukan majalah lokal terlihat. Amplop di ambil, lalu disodorkan.


"Amplop ini, Bu?" tanya Bella menunjukkan apa yang ia temukan.


"Bukalah! Itu untukmu, Ndu." Jawab Ibu Sulastri.


Bella membolak-balikan amplop dengan wajah bingung. Hingga sebuah logo di sudut amplop membuat ia tersenyum ceria. "Wah ini kan dari Universitas incaran ku, Bu. Kapan sampainya?"


"Tadi pagi, ibu temukan di depan pintu. Ndu, gapailah cita-citamu. Cuma kamu dan Abil harapan ibu kelak." Sulastri menatap putrinya tulus dengan harapan besar.


Amplop dibuka membuat senyuman manis Bella semakin mengembang sempurna. Namun, sesaat ingatannya terganggu akan kenyataan hidupnya saat ini. Bahkan setelah menikahi Lucifer. Jangankan pergi melihat jalan raya, langkah kaki hanya diizinkan menjelajahi rumah. Ntah apa alasan dari larangan sang suami goib. Apapun itu, mana mungkin sekarang ia bisa melanjutkan niat hati untuk kuliah?

__ADS_1


"Ndu? Ada apa?" tanya Ibu Sulastri membuyarkan lamunan Bella. "Lanjutkan pendidikanmu! Jika bukan demi ibu dan adikmu, setidaknya lakukan ini demi masa depanmu, Ndu. Ibu mohon,"


Sorot mata yang berkaca-kaca dengan suara lirih sang ibu sungguh menyiksa hati Bella. Selama ini ia hanya bisa melanggar peraturan. Tidak mungkin sekali lagi mengecewakan permintaan kecil yang tujuannya saja demi masa depan.


"Iya, Bu. Bella akan kuliah." Jawab Bella menghampiri Ibu Sulastri, keduanya saling berpelukan memberikan semangat dan juga kekuatan.


Aku akan meminta izin padanya. Apapun syaratnya akan ku lakukan. Semua hanya demi ibu dan adikku. Maafkan Bella, Bu. Andai sikap keras kepala ku tidak dipelihara. Mungkin saat ini hidup kita baik-baik saja. ~batin Bella memejamkan matanya seraya mengeratkan pelukan.


Ibu tahu, kehidupanmu semakin berat Nak. Semoga dengan keputusan kuliah, kamu menemukan pasangan yang mampu menjadi imam dan menjagamu.~batin Ibu Sulastri.


Tiga puluh menit berlalu, Bella yang berdiri di depan jendela menatap burung di atas pohon hanya termenung. Berandai-andai bisa terbang bebas. Sudah pasti dirinya tidak akan menolak. Hingga sebuah sentuhan dengan hembusan aroma melati menyebar menyeruak masuk indra penciuman nya.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Lucifer seperti makhluk terpolos sedunia.


"Aku ingin kuliah." Jawab Bella menahan rasa dingin yang memeluk tubuhnya.


Lucifer melepaskan kedua tangannya dari perut sang istri, lalu memegang pundak kanan Bella agar berbalik menghadap dirinya. "Katakan dengan menatap mataku!"


Gleek!


Tatapan mata keduanya saling memandang satu sama lain. Tidak ada mantra ataupun kekuatan diantara keduanya. Tatapan mata murni dari manusia dan pangeran iblis.


"Katakan!" titah Lucifer.


"Izinkan aku kuliah."

__ADS_1


__ADS_2