Jerat Karma Suami Goib Ku

Jerat Karma Suami Goib Ku
Bab 75: MEMULAI....


__ADS_3

Wuuussshh!


Bruuaaak!


Djuuuarr!


Suasana rumah begitu menyeramkan dengan jendela dan pintu yang terbuka, lalu terbanting menutup sendiri. Suara yang bersahut-sahutan dengan hembusan angin beraroma anyir, membuat Simbah waspada. Wanita paruh baya itu terlihat komat-kamit ntah membaca mantra atau lantunan doa, hingga beberapa saat ketegangan yang mencekam perlahan mulai mereda. Diana saja harus memejamkan mata untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi dengan mata batin.


"Ndu, waktunya tidak ada lagi. Sebaiknya kita mulai ritual pembersihan dari energi jahat di dalam rumah ini," Simbah mengulurkan satu bambu kuning ke cucu bungsunya, lalu satu bambu lagi ke Ela, sedangkan bambu yang terakhir diberikan pada Ibu Sulastri, "Ambillah, ibu adalah pemilik rumah. Jadi harus mengikuti ritual dan memberikan persembahan. Ayo!'

__ADS_1


"Bu, kita akan membuka kamar atas. Aku tahu, jika ibu akan melarang, tapi hanya kamar itu yang menjadi tempat pemujaan. Maka, mau, tidak mau harus diawali dari tempat persembahan. Apa bisa kita mulai?" tanya Diana setelah menjelaskan apa yang akan mereka lakukan, hal itu ia lakukan demi mempermudah jalannya pembersihan energi jahat.


Ibu Sulastri menatap bambu kuning yang tergenggam di tangan kanannya. Kebenaran yang masih menyisakan keraguan. Namun, saat ini fokusnya hanyalah untuk menyelamatkan sang putri. Apapun itu, pasti akan dia lakukan. Meski harus melanggar peraturan sekali lagi, "Mari. Abil, tetap di dekat ibu! Jangan lupa selalu berdoa di dalam hati, Nak."


Kelima orang itu berjalan meninggalkan ruang tamu. Setiap langkah yang diambil semakin menambah perlawanan dari para makhluk tak kasat mata. Yah, bagaimana isi di rumah itu, hanya Diana yang tahu. Akan tetapi, tidak satu makhluk pun bisa melukai mereka. Semua itu karena bambu kuning yang menjadi pelindung sesaat. Langkah demi langkah menapaki anak tangga. Di saat perjalanan mencapai titik pertengahan. Tiba-tiba, Diana memberikan perintah.


Gadis itu melihat makhluk penghisap jiwa. Dimana wujud yang setengah bayangan hitam dengan kaki kuda menuruni anak tangga. Agar tidak tertangkap. Maka, mereka harus menahan nafas. Mengingat semua tidak memahami bagaimana cara bertahan hidup di antara para makhluk. Diana melihat Abil melepaskan tangan. Sudah pasti anak itu tidak sanggup menahan nafas terlalu lama.


Makhluk penghisap jiwa bergerak mendekati Abil, tapi disaat hampir menemukan mangsa. Diana langsung menarik adik Bella ke dalam pelukannya. Sontak saja, jejak dari manusia menghilang dari pandangan si makhluk asral. Kini mereka kembali menaiki anak tangga. Rasa yang engap dengan aroma campur aduk. Tidak ada siapapun selain mereka berlima. Jika dilihat dari mata telanjang. Berbeda lagi, jika yang melihat dari mata batin.

__ADS_1


Diana berjalan di depan bersama Abil dan Ibu Sulastri, sedangkan KaCan berjalan bersama Simbah di belakang. Satu langkah menginjakkan lantai dua, tiba-tiba tempat berpijak bergetar. Suara terkejut dari Ibu Sulastri dan Abil menyita perhatian semua makhluk. Namun, Simbah langsung mengambil tindakan dengan mengetuk kan bambu kuning ke lantai seraya merapal mantra. Gempa yang hanya terjadi dirumah itu, akhirnya berhenti.


"Ayo lanjut, tapi saat kita semua masuk ke dalam kamar itu. Pastikan jangan bersuara. Apapun yang terjadi dan kita lihat. Tahan diri, kunci rapat bibir. Diana tukar posisimu dengan kakakmu!" titah Simbah mengubah formasi karena saat ini yang akan menjadi tameng Ela, dimana cucu sulung memiliki kemampuan untuk meningkatkan energi positif dan bisa menjadi selimut perisai mereka.


Diana tetap menggandeng tangan Abil, membuat anak itu terlihat lebih tenang. Ela dan Ibu Sulastri berjalan di depan, lalu Simbah di tengah dan yang terakhir tentu kalian tahu. Kamar tirai hitam di depan sana terlihat berbeda. Ada kilatan cahaya yang menembus pintu. Bagaimana itu bisa terjadi? Sungguh aneh karena selama ini lantai dua sangatlah suram dan terlihat gelap. Tatapan mata tak percaya dari Ibu Sulastri, membuat Ela mengusap lengan wanita yang ada disebelahnya itu.


Kelimanya berhenti di depan pintu tirai hitam. Niat hati ingin membuka dengan menggunakan kunci kamar, tapi tiba-tiba saja pintu terbuka dengan sendirinya. Apakah kedatangan mereka sudah disambut? Jika iya, apa itu berarti akan terjadi hal tidak terbayangkan di dalam sana? Pertanyaan yang mengusik pikiran menambah kegelisahan di hati. Baru saja ingin melangkahkan kaki untuk masuk. Lagi, dan lagi ada yang menahannya.


"Biarlah pintu tertutup hingga tiga kali."

__ADS_1


__ADS_2