
"Lakukan keinginanmu! Aku tidak akan mencegah, tapi PASTIKAN IBUMU TIDAK BERBUAT HAL YANG MELANGGAR JANJI PERNIKAHAN!"
Nyees. Rasanya sangat lega dan dingin. Yah, itulah yang Bella rasakan.
Hari yang terlalu berat di bulan kedua pernikahannya. Masa kuliah yang menjadi alasan satu-satunya untuk mengenal dunia luar, tak membuat Bella melupakan semua janji pernikahan yang menjadi kehidupannya sekarang.
Keesokan harinya, Bella sudah siap untuk kembali melakukan rutinitas hariannya.
"Bu, bisa kita bicara sebentar?" tanya Bella menahan tangan ibunya yang masih saja terdiam karena keputusannya kemarin, sedangkan Abil bersikap tenang memakan sarapan bubur ayam.
Ibu Sulastri berbalik, lalu menatap putrinya. "Apa putri ibu mau mengubah keputusannya?"
"Bukan itu, tapi Bella ingin meminta sesuatu pada ibu, dan juga Abil." Gadis itu bangun, kemudian merengkuh tubuh wanita paruh baya di depannya. "Tinggalkanlah rumah ini, dan biarkan aku tinggal berdua bersama suamiku."
Suara lembut, tapi menusuk. Bagaimana bisa putrinya sendiri meminta dirinya meninggalkan rumah leluhur. Bukan itu yang jadi masalah, tetapi meninggalkan putri yang kini memiliki suami mahkluk gaib. Apakah itu bisa dibenarkan? Apakah bisa menjadi solusi? Tidak! Jika ada yang harus keluar dari rumah leluhur, maka orang itu adalah kedua anaknya.
Ibu Sulastri melepaskan pelukan Bella. Kemudian menegakkan tubuh gadis itu agar menatap matanya. "Putriku sudah dewasa. Apa yang kamu pikirkan, Ndu? Ibu akan menuruti semua permintaanmu? Rumah ini rumah leluhur keluarga kita. Dia yang kini menjadi suamimu adalah pangeran iblis."
"Bu....,"
__ADS_1
"Sekarang dengarkan keputusan ibumu. Sampai nafas terakhir, ibu tidak akan berpaling dari kedua anakku! Kamu dan Abil adalah nyawa bagiku." Ibu Sulastri melepaskan kedua tangannya dari bahu Bella. "Ndu, terkadang apa yang kita anggap benar. Nyatanya itu salah."
"Bella dengarkan apa yang ibumu katakan. Sejarah mengenal setiap tetes darah leluhur. Begitu juga dengan ibumu, tanyakan padanya. Kenapa aku ada disini." Lucifer menyela perbincangan ibu dan anak, meskipun wujudnya berdiri di lantai dua.
Perubahan ekspresi wajah ibunya, membuat Bella menelisik. Apa maksud suaminya? Haruskah ia bertanya hal sama?
"....,"
"Ka, bisa antar aku hari ini?" tanya Abil menghentikan perdebatan yang ia sendiri tidak pahami, membuat Bella menghela nafas. "Ka, ayo. Nanti akun terlambat."
"Ayo! Kakak ambil tas dulu, kamu tunggu depan." Jawab Bella.
"Kami berangkat!" pamit Bella dan Abil serempak, membuat kesadaran Ibu Sulastri kembali.
Wanita paruh baya itu terdiam di tempat. Raganya terasa membeku. Hembusan angin dingin menyelimuti. Semua yang ia rasakan. Pasti ulah sang menantu yang tidak akan membiarkan apapun terjadi tanpa izinnya. Sekelebat bayangan hitam melesat, lalu kursi bergeser hingga perlahan wujud asli pangeran iblis terlihat duduk dengan tangan berpangku di atas lutut.
"Sulastri, apa kamu lupa sejarah leluhur mu? Haruskah ku ingatkan dari asal mula?" Ucap Lucifer memberikan tatapan mata merah penuh amarah, membuat tubuh wanita paruh baya itu bergetar menahan rasa takut yang selama ini ia sembunyikan.
Tuanku, maafkan....,~ batin Sulastri memelas.
__ADS_1
"Ingatlah. Semua berawal dari manusia seperti kalian, bukan dari bangsaku." Lucifer mengedipkan matanya, membuat wujudnya menjadi pria tampan. "Leluhur mu menolak memutuskan perjanjian, bukan atas paksaan. Jangan pernah permainan kebenaran, manusia selalu suka memberikan bukti palsu."
"Putrimu tidak akan ku lukai, jika bukan kamu yang melanggar semua perjanjian....,"
Tok!
Tok!
Tok!
...----------------...
***Kemomong, Perjanjian dengan Setan
Geertz menuliskan, perjanjian sukarela dengan iblis disebut dengan kemomong. Kemomong termasuk dalam ranah kejadian yang disebabkan oleh lelembut atau makhluk halus yang menyebabkan kesurupan.
Namun, kemomong tidak seperti kesurupan pada umumnya, yang mana makhluk halus merasuki tubuh manusia tanpa persetujuan karena niatnya sekadar mengganggu. Dalam buku Agama Jawa, kemomong disebut semacam perjanjian dengan setan***.
...----------------...
__ADS_1