Jerat Karma Suami Goib Ku

Jerat Karma Suami Goib Ku
Bab 59: SIMBAH


__ADS_3

"Wes, rapopo, Nduk. Makhluk gaib iku senenge menyesatkan, iso gawe dewe kesasar. Saiki, Simbah wae sek mandu," ujar Simbah dengan tenang, lalu wanita paruh baya itu mulai memberikan arahan kemana mobil itu harus bergerak.


(Sudah, tidak apa-apa, Nak. Makhluk gaib itu sangat suka menyesatkan, bisa membuat kita tersesat. Sekarang, Nenek saja yang memandu,)


Simbah menunjukkan arah jalan agar segera sampai di pohon beringin yang mereka tuju. Semua itu, demi mengejar waktu yang semakin mepet. Ternyata tidak begitu lama, akhirnya sampai tujuan. Itu semua karena arahan yang diberikan sang nenek. Beberapa waktu lalu, Ela dibuat tersesat oleh para makhluk. Kini, ia bisa melihat sebuah pohon beringin dengan cabang bengkok ke timur.


Pohon beringin itu ternyata tidak memiliki banyak daun, tetapi sulur panjang yang menggantung dengan potongan pita merah yang terikat di banyak sulur. Sekilas seperti tempat pemujaan. Apalagi ada berbagai jenis dupa yang menyala dan juga beberapa patung berbagai bentuk ditempatkan di bawah pohon itu. Simbah melepaskan sabuk pengaman, lalu menatap ke belakang dimana Diana berada.


"Ela, kamu jaga adikmu. Selama simbah ada di sana, maka pastikan pengikat mata pita merah Diana tidak terlepas. Selalu lantunkan do'a, dan jangan pernah berhenti. Meskipun ada banyak gangguannya," Jelas Simbah, membuat wanita bercadar mengangguk paham.

__ADS_1


"Diana, ulurkan tanganmu!" titah KaCan, dan langsung disambut sang adik.


Simbah keluar untuk meninggalkan kedua cucunya, lalu Diana berpindah kedepan. Mobil langsung dikunci kembali. Sebenarnya para makhluk tidak bisa menyerang karena di dalam mobil sudah dipagari sang nenek. Akan tetapi, tetap saja yang melindungi diri sendiri harus berdoa dengan tulus dan khusyuk. Apalagi saat ini, posisi sang adik seperti gadis penjara.


Diana tidak diperbolehkan melihat secara mata terbuka. Gadis itu hanya bisa melihat apa yang gaib, dan mendengarkan suara saja. Sampai pada waktunya nanti, dimana pita merah yang menutupi mata terlepas. Maka, gadis itu harus menahan diri dan menguatkan mental untuk menghadapi gangguan para makhluk yang tidak bosan menunjukkan eksistensi nya.


Meninggalkan Diana dan Ella. Kini simbah sudah berdiri di depan pohon beringin dengan membawa tiga butir kemenyan, sebungkus kembang tujuh rupa dan juga satu ikat pita merah yang berjodoh dengan pita sang cucu. Wanita paruh baya itu, memperhatikan setiap patung yang akan menjadi jalan keluar masalah keluarganya.


Setiap tindakan diiringi dengan rapalan doa yang sudah lama sekali tidak digunakan. Hembusan angin berhembus begitu kencang, membuat dedaunan berterbangan. Namun, Simbah tidak gentar apalagi takut. Wanita itu tetap meneruskan do'a yang semakin lama terasa sangat berat. Rasanya seperti ada yang menahan agar tidak bisa melanjutkan rapalan itu. Disaat bersamaan, Ella harus memeluk Diana karena sang adik mulai ketakutan.

__ADS_1


Semua yang terjadi di depan sana. Para makhluk yang mengganggu Simbah bisa terlihat begitu jelas. Tangan-tangan panjang yang mencoba mencabik, tatapan merah darah, aroma anyir bercampur kemenyan. Kelebatan para bayangan putih dengan suara tawa yang menyakitkan. Sontak saja, jiwa dan raga terguncang. Untuk pertama kalinya, ia melihat tanpa harus memusatkan diri pada alam sekitar.


Simbah yang terdiam di tempat, mengabaikan colekan di bahunya. Suara teriakan yang memekakkan, dan juga suara para makhluk yang berlarian memutari nya seperti tengah bermain cublak-cublak suweng. Satu hal yang dinanti, ketika rapalan nya berakhir. Kemenyan itu harus hilang dari hadapannya. Angin pun semakin tak terkendali dengan sulur yang bergoyang ke sana kemari, membuat suasana semakin menegangkan.


Dua Puluh menit kemudian.


Rapalan berakhir, bersamaan dengan hembusan angin yang mereda. Hanya sesaat. Tiba-tiba kemenyan yang menjadi persembahan menghilang lenyap begitu saja, membuat Simbah sedikit bernafas lega. Wanita itu bergegas kembali ke dalam mobil. Bukan untuk pergi meninggalkan tempat itu, tapi untuk menjemput kedua cucunya. Semua yang ia lakukan hanyalah permulaan karena masih ada tahap utama dan akhir yang melibatkan sang cucu.


"Ayo, turun, Nduk. Pegang tangan Simbah," ajak Simbah menggenggam tangan cucunya, ia membawa sang cucu keluar dari mobil.

__ADS_1


Ela juga menyusul dengan membawa sesuatu di kedua tangannya. Kini ketiganya duduk bersimpuh di depan pohon beringin dengan patung pria mahkota. Simbah mengulurkan tangan kiri nya, lalu disambut sang cucu pertama. Sementara Diana dibiarkan tanpa ada yang memegangi, gadis itu harus menjadi tempat mediasi untuk menunjukkan arah jalan kebenaran.


"Nduk, ikuti suara Simbah! Jangan sampai tersesat, jangan tatap mata mereka dan jangan tunjukkan rasa tidak suka dan takut mu terhadap mereka. Fokus pada tujuanmu! Tugasmu mencari pita dengan tulisan leluhur Wagio Supardi."


__ADS_2