Jerat Karma Suami Goib Ku

Jerat Karma Suami Goib Ku
Bab 49: BERKUNJUNG KE RUMAH DIANA


__ADS_3

Gael tahu, ketika janji keluar dari bibir seorang Lucifer. Maka pasti akan terjadi, tapi ia sadar posisinya sebagai pangeran kedua. "Aku bersyukur memiliki kakak sepertimu. Izinkan aku melakukan tugas seorang anak, tapi aku berjanji. Pernikahan kami, tidak akan terjadi di bulan purnama esok."


Pertemuan itu membuat sang kakak dan adik saling mengasihi, tapi Romo terlihat cemas memikirkan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Sekarang aku harus apa? Kedua anakku sudah bersatu, sedangkan disisi lain. Ada dia yang siap menghancurkan segalanya. Aku tahu, Luci hanya ingin menyelamatkan kedua alam dengan pernikahannya bersama sang istri manusianya. Akan tetapi, pernikahan Pangeran kedua harus segera dilangsungkan. Jika tidak, kemungkinan akan terjadi peperangan di alam gaib dan itu tidak akan pernah berakhir baik.


Lucifer memilih meninggalkan istana untuk kembali ke dunia manusia di mana istrinya tengah mengalami masalah. Iya tahu apa yang dipikirkan sang istri karena saat ini kedua mata batinnya telah terhubung. Akan tetapi, hanya dirinya yang tahu karena sang istri tidak akan tahu pernah tahu tentang isi hati dan pikirannya.


Sementara Pangeran kedua, memilih tetap di istana. Pria itu masih tak sanggup untuk menemui sang kekasih di dunia manusia. Baginya situasi saat ini sangat berat. Terlebih lagi, dia harus meninggalkan orang yang sangat dicintai tanpa memberikan kebahagiaan yang pernah ia janjikan.


Ketika semua orang sibuk melakukan aktivitas masing-masing. Bella yang baru saja selesai kuliah bergegas keluar dari kelas. Lalu, gadis itu menuju ruang TU dimana ia ingin bertanya alamat temannya. "Permisi, Bu. Saya ingin menanyakan alamat Diana. Apakah bisa, saya memperolehnya? Saya tidak tahu kenapa Diana tidak berangkat dan jika sakit. Saya ingin menjenguknya."


"Diana yang mengambil jurusan arsitektur itu, dari kelas 1A," tanya Bu dosen yang memang berjaga di TU.


Bella mengangguk mengiyakan apa yang dimaksud oleh bu dosen dan juga memberikan sebuah foto. Dimana foto itu ada dirinya dan juga Diana, "Ini foto teman saya waktu kemarin camping."


"Tunggu sebentar, biar Ibu periksa," Bu dosen memeriksa laporan pendaftaran yang memang ada di file komputer. Hanya membutuhkan waktu lima menit. Akhirnya menemukan data diri dari nama Diana, "Alamatnya ada di jalan xxx sekitar 300 m dari pemakaman umum Nusa Bhakti."


"Baik, Bu dosen. Terima kasih sudah memberitahu. Saya, permisi." Ucap Bella berpamitan, tak lupa ia menjabat tangan dosen lalu meninggalkan ruangan TU.


Ketika alamat sudah dikantongi. Bella bergegas ke parkiran motor. Gadis itu segera menaiki motornya, lalu mengendarai untuk menuju alamat yang sudah didapatkan. Perjalanan selama dua puluh lima menit itu terasa lebih lama. Banyak sekali yang tengah dirinya pikirkan. Apa yang ingin dibicarakan nanti? Kenapa, bagaimana dan banyak sekali pertanyaan lain yang ikut datang menyapa tanpa permisi.

__ADS_1


Di saat Bella sudah melewati banyak sekali perumahan. Akhirnya sampai juga di gang dimana alamat Diana berada. Gadis itu juga sudah melewati pemakaman umum yang ada di seberang jalan.


Tok!


Tok!


Tok!


Rumah yang dikelilingi dengan bambu kuning terlihat sangat menyegarkan dan juga sangat artistik. Bunyi suara ketukan pintu terdengar dari dalam rumah. Seketika seseorang berjalan mendekati pintu, lalu membukakan pintu. Tatapan matanya sedikit terkejut melihat siapa yang datang.


"Bella, kamu di sini?" Ella bertanya dengan nada sedikit ambigu, wanita itu masih belum memikirkan apa yang ia putuskan. Apakah dia harus mempertemukan adiknya dengan sang teman, atau justru lebih baik menjaga jarak dengan gadis yang kini ada di depan pintu rumahnya.


Ella mengangguk dan melebarkan pintu rumahnya, "Ayo masuk, Diana ada di kamar. Tunggu saja di dalam, aku akan ke atas dan panggilkan Diana."


Bella mengangguk paham ia memilih untuk duduk di ruang tamu dengan benar. Rumahnya nyaman sekali berbeda dengan rumahku yang terasa dingin bahkan terkadang panas Andai rumahku seperti ini apakah Takdirku juga akan berubah.


Banyak pikiran yang tiba-tiba saja menghampiri bela ada rasa iri seketika ia ingin hidupnya tenang damai dan mungkin sedikit untuk mengulang masa lalu agar hal yang kini ia jalani tidak terjadi. Namun semua itu hanya angan belaka karena kenyataannya saat ini dia sudah menikah dengan seseorang yang tidak bisa ia miliki orang yang tidak mungkin ada di dunia nyata


Di saat Bella sibuk memikirkan banyak hal tiba-tiba simbah datang. Wanita lanjut usia itu membawa nampan dengan cemilan dan juga minuman di atasnya. "Ayo, Nduk. Diminum dan dinikmati juga cemilane. Sik sabar, Nduk. Kabeh wong urip duwe ujian."

__ADS_1


(Ayo, Nak. Diminum dan dinikmati cemilannya. Yang sabar, Nak. Semua orang hidup memiliki ujian)


"Maaf, sebelumnya. Apa Mbah orang Jawa asli?" tanya Bella dengan sopan, dia juga mengambil segelas air, lalu meneguknya satu kali.


Simbah tersenyum mendengar ramah tamahnya teman Diana yang memang terlihat sangat polos. Di matanya, ia tahu jika gadis di tidak memiliki salah apapun. Akan tetapi, rasa penasaran yang berlebihan. Justru menjebak gadis itu menjadi istri makhluk gaib.


Bella yang ditatap Intens oleh si Mbah merasa sedikit gugup. Dia sendiri tidak tahu apa yang membuat simbah menatapnya begitu dalam. Apakah ada yang aneh dengan dirinya atau ada sesuatu tentang hidupnya yang tampak dari raut wajah, "Mbah, kenapa melihatku seperti itu? Apa, aku ada yang salah atau mungkin...,"


"Tidak ada apa-apa, Nduk. Kamu itu baik, polos, sopan tapi mungkin takdirmu kurang beruntung. Semoga semua masalahmu segera berakhir, ya, Nduk. Mbak doakan, kamu mendapatkan jodoh yang terbaik atas izin Allah." Doa harapan yang dipanjatkan simbah begitu tulus membuat Bella terharu hingga gadis itu menitikkan air mata.


"Amiin, Mbah." Bella mengaminkan doa si Mbah. "Terima kasih, Mbah atas doanya. Aku hanya berharap. Semoga keluargaku ada yang menjaga. Semoga semua akan baik-baik saja pada waktunya dan pengorbanan yang tengah kujalani tidak akan menjadi malapetaka untuk semua orang."


Tanpa ingin menutupi apapun. Gadis itu berbicara jujur pada si Mbah. Tanpa keduanya sadari. Dua wanita lain yang ada di atas tangga mendengarkan semua percakapan singkat itu. Yah, Ela dan Diana menyimak semua perbincangan yang terdengar begitu jelas tanpa ada filter.


"Kak, sebenarnya apa yang terjadi pada Bella? Kenapa dia harus melakukan pengorbanan ini?" tanya Diana melirik sang kakak yang masih mengenakan kain cadar menutupi wajahnya.


"Terkadang lebih baik cukup tahu, tanpa ikut campur. Aku, izinkan kamu bertemu Bella. Namun, bukan berarti. Aku melepaskan pengawasan ku pada adikku yang paling ku cintai." jelas Ela to the point agar Diana tidak bersikap sesuka hati.


"Iya, KaCan. Diana paham." jawab Diana menundukkan kepalanya pasrah akan ultimatum sang kakak.

__ADS_1


__ADS_2