Jerat Karma Suami Goib Ku

Jerat Karma Suami Goib Ku
Bab 78: MAKHLUK RAMBUT PANJANG


__ADS_3

Panjang kali lebar yang Simbah katakan menjadi cambukan tanpa wujud. Ntah kenapa, tapi memang benar. Jika dia hanya selalu menjadi alasan Bella berkorban. Jika keras kepalanya tidak mau berhenti. Apa yang akan terjadi nanti? Tidak mungkin hidupnya bisa tenang. Jika terjadi sesuatu pada putri tercintanya.


"Aku memilih mengikuti apapun yang Simbah katakan. Aku akan mengikuti Ela untuk kembali ke dunia manusia. Simbah benar, Abil lebih membutuhkan ku," putus Ibu Sulastri, membuat Simbah memberikan isyarat pada sang cucu untuk bergegas pergi mengikuti suara lantunan Al-Quran yang semakin menjauh.


Simbah menatap nanar kepergian kedua wanita itu. Bukan karena takut ditinggal sendirian, tapi saat ini ada rasa takut dan berharap semoga keputusannya tepat. Setelah melihat kabut putih menutupi jarak pandang yang semakin menjauh. Simbah berbalik menatap jalanan dengan jejak para makhluk. Langkahnya pasti tanpa keraguan.


Meski orang yang dia lihat sudah menghilang. Ada serbuk cahaya ungu kemerahan yang tertinggal di udara. Simbah mengikuti kemana arah serbuk itu pergi. Hutan dengan sisa tulang belulang menjadi pemandangan yang biasa saja. Lagi pula, ini bukan perjalanan pertamanya ke alam gaib. Tindakan Simbah yang mencari orang beraura ungu kemerahan.


Justru menghadirkan rasa cemas dan takut di hati orang itu. Dimana langkah kaki nya semakin berjalan cepat menjauh dari Simbah. Akan tetapi, wilayah hutan yang dia pijak adalah milik makhluk klan rambut panjang. Makhluk yang bermata hitam tanpa mulut, tapi selalu menjerat mangsanya menggunakan rambutnya yang panjang.


Kriieet!


"Astagfirullah, apa yang kuinjak?" tanyanya pada diri sendiri seraya menundukkan pandangan, dan ternyata kaki kiri menginjak sebuah tulang sebesar lengan tangannya.


Niat hati ingin melangkah. Tiba-tiba saja, ada yang melilit kakinya. Lalu, sekali tarikan membuatnya terhuyung dan berakhir menggantung di atas salah satu pohon, "Astagfirullah, makhluk apa ini? Bagaimana caranya melarikan diri? Ya Allah, tolong hamba mu."

__ADS_1


Makhluk rambut panjang menatap mangsanya dengan tatapan tak terbaca. Warna hitam tanpa ekspresi, membuat Delisa susah menebak. Namun, dilihat dari panjang rambutnya. Sudah pasti, makhluk itu berusia ratusan tahun. Satu kisah dari sang nenek, masih jelas tersimpan di dalam otaknya. Di saat sibuk beradu mata dengan makhluk. Justru Simbah merapalkan mantra seraya melemparkan serbuk suci.


Serbuk suci itu mengenai rambut yang melilit tubuh Delisa dan begitu terlepas. Tubuh gadis itu terjun bebas ke atas. Tentu saja berpikir akan terluka parah. Namun, nasib baik menyertainya. Kemunculan sang kekasih sungguh tepat waktu. Tatapan mata saling beradu. Ada banyak pertanyaan, tapi tidak mungkin untuk ditanyakan.


"Maaf, Aku tidak bisa selalu melindungimu. Semua karena kakak ku...,"


Delisa menutup bibir Gael, "Turunkan aku, dulu. Sebelum kita meneruskan perbincangan. Lebih baik menangani makhluk di atas. Dia terlihat marah karena mangsanya diambil begitu saja."


"Seorang pangeran bisa memerintahkan rakyat mereka untuk tidak mengganggu tamu istimewa. Bukankah itu benar?" tanya Simbah, lebih tepatnya memberikan solusi dengan pertanyaan sederhana.


Akan tetapi dengan kekuatannya. Para makhluk rambut panjang terhempas begitu saja. Ntah apa yang dilakukan pangeran kedua karena yang dilihat hanya sibuk menggendong kekasih manusianya. Simbah tersenyum kecut. Kekuatan pangeran kedua hanya menggunakan perintah batin. Tentu saja, tidak perlu melakukan pergerakan apapun.


Sementara Delisa melongo. Bagaimana bisa, semua makhluk rambut panjang terkalahkan, bahkan tidak satupun dari ketiganya bergerak dari posisi saat ini, tapi Gael hanya membalas senyuman manis. Begitu juga dengan Simbah yang justru mengangkat kedua bahu. Berpura-pura tidak tahu apapun.


"Sebaiknya kita pergi dari hutan ini, kita akan cari tempat aman," tukas Gael menurunkan Delisa agar bisa berjalan sendiri, bukan karena lelah, tapi tidak enak bermesraan di depan ibu-ibu yang sudah lanjut usia.

__ADS_1


Kejap dulu. Kenapa othoor oleng ya. Seketika menengadah seraya menatap atap langit. Masih cerah di dunia si othoor. Udah lah. Lanjut halu, sono!


Delisa, Gael dan Simbah berjalan meninggalkan hutan milik klan makhluk rambut panjang. Ketika cahaya matahari bersinar cukup terang. Kenapa justru awan begitu mendung? Namun, himbauan angin memberikan kesegaran. Cuaca seperti apa yang ada di alam gaib? Sungguh membingungkan.


"Tiga hari setelah purnama ketika akan ada fase menuju perubahan. Banyak orang yang akan tersesat, dan beberapa orang yang beruntung akan kembali ke dunia manusia. Siklus ini, biasa disebut pertukaran makhluk hidup. Termasuk Bella, takdir yang menentukan. Apakah gadis itu akan terselamatkan atau harus menjadi pengorbanan."


Simbah menjeda ucapannya karena melihat sebuah pohon kecil dengan setangkai bunga mawar, tapi kelopak bunga itu memiliki lima warna. Merah darah, hitam, ungu kemerahan, putih dan transparan. Gael tahu, jika wanita tua yang memiliki aura putih sempurna mengetahui fungsi dari bunga panca warna.


"Silahkan ambil. Aku tahu, Simbah bisa menyelamatkan kekasihku dan kakak iparku. Jika bunga panca warna menjadi salah satu jalan. Maka, ambillah," Gael membiarkan Simbah mendekati bunga itu, tapi di saat tangan wanita itu terulur dan hampir menyentuh bunganya.


Wusss!


Braaak!


"Bunga ini milikku. Siapa yang memberikan izin untuk mengambil bunga ku? LANCANG SEKALI!"

__ADS_1


__ADS_2