Jerat Karma Suami Goib Ku

Jerat Karma Suami Goib Ku
Bab 12: ARUM - TAMAN - SANG PENABRAK


__ADS_3

Woossshh...


Bruuug!


Tubuhnya yang melayang harus terhempas begitu saja. Kabut putih dengan cahaya merah sesaat bersinar. Lingkaran ilusi yang jelas siapa pemiliknya. Amarahnya semakin membludak menambah kilatan mata nyalang dengan rambut hitam menutupi wajah bagian depan.


"Tidak akan kulepaskan perebut kekasihku."


Kemurkaan sosok tak kasat mata semakin membara. Setelah terhempas bukannya menyerah. Justru masih mengikuti Bella yang menaiki sebuah angkutan umum untuk pergi kuliah. Aura yang memancarkan kemarahan menyelimuti angkutan itu. Tangan dengan kuku panjang bersiap menghempaskan benda mati yang berjalan itu, tapi sekali lagi kabut putih dengan sinar merah bersinar lebih terang menghapus aura negatif begitu saja.


Kilatan petir hitam menyambar sosok tak kasat mata. Beruntung ia langsung menghindar, dan petir itu membentur sebuah pohon rindang. Pohon seketika berubah menjadi layu seakan bertahun-tahun tidak mendapatkan setetes air hujan. Angkutan umum yang meninggalkan tempat kejadian hanya mendengar bunyi dentuman. Seperti tidak terjadi apapun.


"Eeerrrrrgggghhhh, rupanya pujaanku melindungi istri manusianya. Bedeb@h! Lucifer hanya milik Arum. Siapapun penghalang hubungan kami, akan ku singkirkan." Geram Arum menghilang dari pertigaan perumahan Bella.


Aroma melati yang melekat pada tubuh Bella menjadi pelacak keberadaan gadis itu, dan memudahkan dirinya untuk menemukan sasarannya tanpa harus menguras energi. Begitu ia muncul tepat dengan langkah kaki gadis itu memasuki pelataran kampus. Suasana yang cukup ramai. Para mahasiswa lalu lalang sembari bercanda dengan kawan lama, atau sekedar berkenalan dengan teman baru.

__ADS_1


Makhluk yang masih terbang mengikuti Bella dari belakang dengan mata merah padam harus menjaga jarak agar tidak terlalu dekat. Pelindung yang semu semakin meningkat di kala begitu banyak orang di sekitar gadis itu, perasaan di hati Arum tidak bisa dikendalikan. Begitu ia melihat istri pujaan hatinya memasuki sebuah taman. Sebuah rencana jahat menghadirkan tawa mengerikan.


"Hihihihihihi, binasa!"


Bella memilih bangku terdekat agar bisa keluar dari taman tanpa harus berjalan terlalu jauh. "Disini saja, aku check semua ruangan melalui panduan buku dengan peta fakultas."


Tas di buka, lalu mengambil sebuah buku bersampul nama universitas Chandra Mukti. Fokusnya hanya membaca denah seraya menghafalkan beberapa tempat yang pasti ia kunjungi. Seperti perpustakaan, kantin, ruang musik dan ruang olahraga. Untuk ruangan kelas, sejak awal mendaftarkan diri dia sudah tahu karena dibawa keliling oleh guru pembimbingnya.


Arum yang melihat keseriusan Bella, memulai aksinya. Hembusan udara dingin ia tiupkan ke arah gadis itu, berulang kali hingga gadis yang tengah asik membaca mengalihkan perhatiannya. Cuaca yang panas, tapi hawa dingin menyeruak membuat Bella menoleh kesana kemari. Hawa yang sama seperti disaat Lucifer berada disekitarnya, tapi tidak ada sosok yang memiliki aroma bunga melati wangi, justru aroma anyir darah menusuk hidung.


"Daripada nanti muntah. Mending aku masuk aja, deh. Lagian bentar lagi pelajaran pertama dimulai." Bella membenarkan posisi ranselnya tanpa memasukkan bukunya yang kini beralih ia peluk.


Langkah Bella terburu-buru. Ntah kenapa hatinya gelisah seperti ada yang mengawasi setiap pergerakannya. "Apa mungkin, dia....,"


Niat hati ingin menyebut nama suami gaibnya tertunda karena bayangan penyiksaan yang ibunya alami tiba-tiba saja melintas. "Bella, semangat! Ingat fokus belajar demi masa depan keluarga. Demi ibu dan adik,"

__ADS_1


Gadis itu berjalan tanpa menengok ke kanan ataupun ke kiri. Langkah nya benar-benar lurus menuju ruangan kelas yang akan menjadi awal kehidupan. Jarak lorong menuju kelas masih lima meter, sebelum berbelok kanan lalu masuk ke kelas. Para mahasiswa lain pun sepertinya mulai bersiap-siap memulai tahun ajaran baru.


Tap!


Tap!


Tap!


Baru saja Bella melangkahkan kakinya untuk berbelok, tiba-tiba menabrak lengan seseorang yang datang dari arah berlawanan.


"Auuw...," desis Bella yang langsung memegang bahu kanannya sendiri.


"Maaf, Ukhti." ucap sang penabrak pergi berlalu begitu saja, membuat Bella mengerjapkan matanya berulang kali.


Seorang pria dengan pakaian super tertutup. Bahkan kepalanya saja masih dibalut peci putih, sedangkan di tangan kanan terlihat tasbih hitam terus bergerak memutar. Banyak mahasiswa yang menatap aneh kearah sang penabrak.

__ADS_1


Siapa sih, dia? Kenapa ke kampus pake pakaian seperti ke masjid? Sekarang jadi bahan pemandangan gratis 'kan?~ batin Bella yang memilih melupakan kejadian tadi dan masuk ke kelasnya.


__ADS_2