Jerat Karma Suami Goib Ku

Jerat Karma Suami Goib Ku
Bab 64: TIGA PERSEMBAHAN


__ADS_3

Maafin, Bella, Bu. Satu korban cukup untuk menyelamatkan kita semua, dibandingkan banyak korban hanya untuk menyelamatkan satu nyawa saja.~batin Bella dengan tatapan sendu ke arah gunting tajam ditangan kanannya.


Gadis itu menggunting ujung rambut ibunya, lalu ia menyembunyikan kembali gunting serta rambut yang sudah didapatkan. Pelukan berakhir, Ibu Sulastri mengecup kening Bella lebih lama dari biasanya. Seorang ibu yang merasakan firasat aneh, dan rasanya tidak ingin pergi jauh dari sang putri.


"Bu, istirahat, ya. Lihat wajah ibu pucat, pasti sejak kemarin belum makan kan? Mau Bella temani?" tanya Bella mencoba untuk membuat ibunya keluar dari kamar sang adik, ia memang khawatir dengan keadaan sang ibu.


Ibu Sulastri mengecup kening Bella sekali lagi, lalu mengusap pipi putrinya, "Ndu, apa kamu menyembunyikan sesuatu dari ibu?"


Deg!


Pertanyaan itu, mengenai tepat sasaran. Bella berusaha tetap tenang. Padahal tangannya mulai gemetar. Bukan ini yang dia mau, tapi semua sudah terlanjur. Jika bukan sekarang ia bertindak, lalu kapan lagi? Selain itu, kondisi Abil semakin memburuk. Waktunya hanya tersisa sedikit. Jika goyah, maka bukan hanya adiknya yang meninggal. Pasti seluruh keluarga menerima karma juga.

__ADS_1


"Ibu ini, bicara apa? Bella hanya mau ibu istirahat, nanti kalau Abil sadar dan lihat wajah pucat ibu. Pasti aku yang dianggap tidak bisa jaga ibu, jangan berpikir buruk. InsyaAllah semua akan baik, Bu."


Penjelasan Bella, membuat ibu Sulastri menganggukkan kepala. Wanita itu berjalan meninggalkan kamar putranya, membiarkan Bella menjaga Abil. Gadis itu, bahkan membuntuti ibunya dan memastikan sang ibu benar-benar sudah menjauh dari kamar. Setelah merasa aman, barulah ia menutup pintu kamar dan menguncinya.


"Datanglah!" titah Bella dengan suara menahan rasa takutnya.


Seberkas cahaya turun dari atap kamar, lalu berubah wujud menjadi pria tampan. Lucifer mengulurkan tangan kanannya, membuat Bella memberikan rambut milik sang ibu. Satu persembahan telah diberikan. Sekarang tinggal satu persembahan lagi. Gadis itu berjalan menghampiri ranjang adiknya dan kali ini bukan rambut melainkan kuku Abil.


Bella memejamkan mata, sesaat ingin menenangkan diri. Kenangan indah bersama keluarga menjadi kekuatan yang mengalir memberikan semangat untuk siap bertempur. Kini, ia rela berkorban. Perlahan kelopak matanya terbuka, tatapan mata tenang dengan senyuman tipis. Gunting yang ada di tangan kanan terangkat, dan satu sayatan tergores mengenai pergelangan tangan kiri nya.


Darah merah itu menetes diatas potongan rambut Ibu Sulastri, lalu berganti diatas potongan kuku Abil. Sayatan tidak menyakitkan, apapun yang akan terjadi. Kini ia menjadi milik sang suami iblis. Inilah waktunya, ia berpisah dengan keluarga. Tatapan mata saling bertemu, membuat Lucifer tersenyum.

__ADS_1


Ketiga persembahan perlahan berubah menjadi kabut merah dengan kilatan cahaya putih dan hitam. Ada daya tarik menarik, di saat bersamaan Bella berjalan mendekati Lucifer. Gadis itu berpindah tempat dengan posisi memeluk sang suami. Kabut semakin membesar menyelimuti ruangan kamar Abil. Alam semesta bisa merasakan energi besar dari persembahan sederhana.


Suara petir menggelegar dengan kilatan petir menyambar. Cuaca yang berubah buruk dengan hembusan angin kencang. Orang-orang berpikir, semua itu hanya karena musim pancaroba. Namun, tidak bagi mereka yang bisa mengenali perbedaan gejala alam atau gejala mistis. Termasuk seorang pria yang baru saja selesai melakukan sholat Dhuha.


"Astaghfirullah, seharusnya tidak secepat ini. Aku masih tidak tahu, dimana dia berada dan ramalan ini sudah terjadi. Ya Allah, tunjukkan jalan kebenaran agar hamba bisa menyelamatkan orang-orang yang ada di dalam lingkaran perjanjian keramat."


Kegelisahan di hati pria itu diiringi dengan lantunan istighfar menjadi penenang, ia tak bisa memungkiri saat ini tengah dilema. Niat hati baru ingin mencari tahu, ternyata pertanda alam sudah ia dapatkan. Mau, tidak mau, sekarang ia harus bergerak cepat.


Alam bahkan turut berduka atas apa yang akan terjadi. Tidak peduli dengan tujuan perjanjian keramat itu baik atau jahat. Tidak seharusnya manusia ikut campur dengan dunia gaib. Terlebih lagi mencapai penyatuan yang bisa menjadi malapetaka dua alam.


"Aku harus menemuinya, yah, hanya orang itu yang bisa membantuku. Sudah waktunya aku bertindak dan semoga ini jalan yang Allah tunjukkan."

__ADS_1


__ADS_2