
"Keputusan ditanganmu, Istriku. Aku tidak akan memaksa, tapi ingatlah satu hal," Lucifer berbalik, lalu menurunkan tubuhnya agar sejajar dengan Bella, "Jiwa Abil ada di genggaman tanganmu."
Lucifer mengucapkan apa yang ia inginkan. Kemudian, menghilang begitu saja. Pangeran iblis meninggalkan sang istri yang langsung tersungkur tak berdaya. Sementara, gadis itu, benar-benar tak memiliki sepatah katapun yang bisa keluar dari bibirnya, bahkan pikiran pun sudah tidak bekerja. Semua menjadi gelap gulita. Tidak ada harapan. Tidak ada cahaya dan tidak ada juga penolong.
Andai saja waktu bisa diputar kembali. Mungkin ia akan menjadi gadis baik, menurut dengan keinginan ibunya untuk tidak melanggar peraturan rumah. Ia merasa, semua ini hanya terjadi karena dirinya seorang. Rasa penasaran yang tak bisa dikendalikan. Begitu juga dengan keras kepala yang memang menjadi penyebab utama. Bahkan, ia tak sanggup, untuk menyalakan orang lain.
Semua akan menjadi lebih rumit. Kini, bukan hanya tentang dirinya, tapi juga tentang sang ibu, tentang sang adik, dan juga orang-orang di sekitarnya. Mungkin, selama ini tidak ada yang menyadari betapa kacau isi hati yang ia punya dan badai pikiran begitu membelenggu. Tidak ada, satu hal pun yang bisa menjadi alasan untuk tenang. Semua sudah menjadi satu tidak bisa terpisahkan.
Sebelum hari ini, ada kepercayaan. Jika suatu saat nanti, kehidupannya akan lebih baik. Meskipun, ia tetap menjadi seorang istri pangeran iblis. Setidaknya, memiliki suami yang pengertian dan juga memiliki kasih sayang. Namun sayang, semua itu hanya angan belaka. Kenyataan berkata lain karena suami tidak memiliki hati. Iya lupa, jika suaminya adalah makhluk gaib yang menjadi pangeran iblis. Bukan seorang pria yang memiliki raga dan jiwa seperti dirinya menjadi seorang manusia.
Perasaan dan pikiran yang menyatu dan berperang, membuat gadis itu terpuruk. Tidak ada lagi jalan cahaya yang bisa membawa segenggam harapan. Dimana cahaya itu untuk kembali menikmati hidup yang lebih baik. Dilema yang dirasakan Bella, juga dirasakan oleh Diana. Gadis yang tengah duduk bersama keluarga itu, tiba-tiba merasakan rasa sesak yang terasa menusuk di ulu hati.
"KaCan, dadaku sakit. Ntah kenapa, aku rasanya sangat sakit di sini. Apa semuanya baik-baik saja di sana?" Diana menunjuk dadanya sendiri sambil meringis menahan rasa sakit.
Simbah yang melihat itu, mengamati bagaimana perubahan aura sang cucu. Aura keunguan dari tubuh Diana kembali menguap dan berusaha untuk melepaskan diri. Ella yang melihat semua itu, hanya memperhatikan dengan diam. Wanita bercadar itu, tidak ingin menjawab apapun. Akan tetapi, terlihat jelas sekali betapa Diana memiliki kontak batin dengan Bella setelah tragedi di bumi perkemahan.
Sebagai seorang kakak. Ada rasa tak tega, tapi semua sudah terjadi. Mau, tidak mau. Kini keluarganya harus bertindak. Bukan hanya demi Bella karena semua ini juga menyangkut tentang sang adik. Setelah datang kerumah Bella, dan juga gangguan yang menimpa Diana. Sang nenek memberikan petuah agar berhati-hati dan menjaga setiap tindakan.
"Nduk, nanti malam, kita harus bertindak. Ini tidak bisa dibiarkan, lagi," ucap simbah, membuat keputusan yang hanya dijawab anggukan kepala oleh Ella, sedangkan Diana hanya bisa menyimak sembari menahan rasa sakit yang kini menyerangnya.
__ADS_1
Waktu berlalu begitu cepat. Malam pun tiba, Diana, Ella dan simbah meninggalkan rumah menggunakan mobil yang biasa mereka kendarai. Mobil itu meninggalkan rumah, tapi tidak seorangpun tahu. Jika kepergian mereka akan membuat badai yang siap menerpa banyak orang. Perjalanan yang cukup singkat karena Ella sengaja menggunakan kecepatan yang cukup tinggi agar sampai di rumah Bella pada waktu yang ditetapkan.
Mobil itu berhenti sekitar lima meter dari rumah Bella. Suasana perumahan yang masih hening, membuat keluarga itu diam di tempat. Mereka menunggu waktu yang masih belum di angka sebelas malam. Diana bahkan sudah terlelap sejenak karena gadis itu merasa sangat lelah. Tubuh yang tiba-tiba, seperti sangat lemah dan tidak memiliki tenaga.
Sementara Ella dan simbah masih tetap berjaga. Kedua wanita beda usia itu, serempak untuk melantunkan doa-doa di dalam mobil. Hingga pada waktunya, Ella melihat jam di pergelangan tangan dan sudah menunjukkan pukul 11.00 malam. Kemudian, ia membangunkan sang adik dengan pelan dan lembut.
"Diana, ayo bangun! Ini sudah waktunya. Kamu harus melakukannya seorang diri," Ucap Ella mengusap bahu sang adik, membuat gadis itu membuka mata lalu mengangguk paham.
Diana mempersiapkan diri. Tangannya dengan cepat mengambil sarung tangan, lalu ia kenakan. Tidak lupa juga mengambil bambu kuning yang telah disiapkan sang nenek. Barulah, gadis itu meninggalkan mobil dengan langkah kaki berjalan perlahan menuju rumah bella. Sang nenek yang ada di dalam mobil bersama kakaknya, masih berusaha untuk menjaga gadis di depan sana melalui lantunan doa yang mereka panjatkan.
Aura ungu yang dipancarkan oleh Diana terus saja masih keluar. Hanya membutuhkan beberapa waktu. Akhirnya, Diana sampai di halaman rumah Bella. Beruntung sekali, suasana begitu sepi senyap tidak ada satu orang pun yang lewat. Meskipun itu warga sekitar. Di saat, Diana bersiap untuk mengambil sejumput tanah.
Meskipun tatapan tajam itu murka. Tetap saja, sosok itu, tidak bisa melakukan apapun. Saat ini, dia masih dalam keadaan terpenjara. Meskipun bulan purnama ketiga akan segera hadir. Ada beberapa hal yang tidak bisa dilanggar. Di mana tiga hari sebelum malam bulan purnama, seorang pangeran iblis tidak diizinkan untuk menyerang seorang manusia pun. Jika berani melanggar, maka semua yang ia usahakan akan sia-sia.
Pangeran iblis hanya bisa menatap Diana yang sibuk melakukan sesuatu dibawah sana. Iya tak ingin membuat kesalahan dan semua usaha yang telah dilakukan menjadi sia-sia. Kini, hanya menjadikan satu kepastian. Dimana suatu saat nanti, ia akan membalaskan dendam. Apapun yang mengganggu dan mengusik tujuan seorang pangeran iblis. Suatu hari nanti, pasti mendapatkan hukuman.
Akhirnya, Diana kembali ke dalam mobil dengan membawa hasil. Ella menyalakan mesin mobil, lalu meninggalkan tempat itu. Wanita itu tak ingin semakin berlama-lama karena ia menyadari di atas sana ada yang menatap murka. Seperti yang dikatakan simbah. Tiga hari sebelum bulan purnama ketiga. Keseimbangan alam akan terganggu dan juga pintu dimensi alam gaib mulai terbuka lebar.
"Tenang, Ndu. Semua sudah ada yang ngatur. Setiap usaha itu, tidak pernah menghianati hasilnya. Yuk, kita lanjutkan perjalanan. Bismillahirrahmanirrahim," Sang nenek berusaha menenangkan kedua cucunya agar tidak terpengaruh oleh Aura yang memang tengah mengganggu mereka.
__ADS_1
...----------------...
Hay reader's, 🥰
Do'ain ya, biar bisa up double trus, 😅
UP 1 SETIAP JAM 12.00
UP 2 SETIAP JAM 19.00
BERHUBUNG LAGI IKUT LOMBA UPDATE TEAM DAN MASUK TEAM A, OTHOOR HARUS RAJIN UP, KALAU MAU ADA YANG KASIH VOTE, SENENGNYA 😭
4 KARYA SENGAJA MASUK EVENT ITU, JADI AKU USAHA UP DOUBLE SEMUA 😅
Rasanya yah kaya minum kopi campur soda. 🤧
Nikmat nya, Alhamdulillah 😁
...----------------...
__ADS_1