Jerat Karma Suami Goib Ku

Jerat Karma Suami Goib Ku
Bab 104: Usaha Azzam untuk Bella


__ADS_3

Tatapan mata sendu terpatri pada bunga Desember yang membentuk bulatan dengan bentuk mungil manisnya. Namun, warna indah bunga itu terlihat begitu hambar. Semua yang terjadi dalam hidupnya seperti mimpi buruk yang tidak bisa dilupakan. Ingin sekali mencoba untuk berpura-pura amnesia, tapi tidak bisa. Tiba-tiba, ada tangan yang mengulurkan bunga mawar putih kearahnya.


"Warna putih. Selalu melambangkan kesucian. Bunga ini, untukmu."


Bella menerima bunga mawar itu, tetapi sekilas senyuman tak tampak hadir menghiasi wajah gadis itu. Apa arti kesucian? Dirinya saja, hanyalah mantan istri dari Pangeran Iblis. Emosi tidak lagi bisa dikendalikan. Takdir selalu membawa terbang ke angkasa, lalu terhempas bagaikan ombak lautan.


Jangan lagi bertanya tentang kehidupan normal. Setelah semua yang terjadi. Hidupnya menjadi hambar. Tidak ada bahagia, selain mencoba untuk menerima kenyataan. "Terima kasih."


"Bella, Allah tidak menyukai hamba-Nya yang terus larut dalam kesedihan. Hidupmu masih teramat panjang. Masa depan membentang seluas samudera." Azzam duduk di sebelah Bella tanpa menoleh ke arah gadis itu dan dengan jarak tiga jengkal telapak tangan. "Aku sudah mengatur jadwal kuliahmu kembali. Jadi, nikmati tiga hari yang tersisa sebaik mungkin."


Semua yang Azzam katakan hanya di dengarkan tanpa memberikan jawaban atau persetujuan. Gadis itu terus menatap bunga mawar yang ada di depannya. Tidak sekalipun, dia bertanya kenapa pria yang duduk disebelahnya trus saja memberikan dukungan.

__ADS_1


Begitu juga dengan Azzam. Hatinya terus saja dilema. Setiap kali melihat linangan air mata dalam tangkuban doa Bella. Ia merasa sangat emosional. Semalam Romo memberikan nasehat untuk dia melakukan sholat malam meminta petunjuk Allah. Berserah diri pada Takdir Ilahi.


Hening. Kedua insan itu sibuk mengarungi alam pikiran dengan hati yang selalu meronta mengharapkan jawaban. Satu sisi, Bella masih menyalahkan dirinya karena akibat keras kepala dan rasa penasaran. Justru sang ibu menjadi korban.


Sementara Azzam, pria itu merasa memiliki kewajiban untuk terus menjaga dan mengayomi Bella dan Abil. Ntah kenapa seperti itu, tapi sejak membawa kedua anak itu ke dalam pondok pesantren. Ada rasa yang tidak mampu dijelaskan dengan kata, tetapi dia berusaha semaksimal mungkin untuk memulihkan mental kedua kakak beradik itu.


Bukan hanya itu saja karena Azzam bergerak cepat dengan mengatur urusan sekolah Abil dan Bella tanpa meminta izin. Tentu saja dibantu beberapa teman yang dia miliki. Kini, di dalam hati pria itu hanya ada satu harapan saja. Dimana kehidupan kakak beradik itu kembali normal.


Kembali ke tempat Azzam dan Bella duduk bersama. Dimana keduanya masih terdiam dengan tatapan mata saling membelakangi. Disaat bersamaan terdengar suara laungan adzan. Suara merdu itu dari arah barat pondok pesantren.


"Bang, apa kamu tidak siap-siapa? Bukankah hari ini, jadwal Abang untuk menjadi imam." Seorang santri yang kebetulan lewat menegur Azzam, membuat yang ditegur mengangguk.

__ADS_1


Pria itu beranjak dari tempatnya, "Bella, ikutlah berjamaah di masjid. Setelah sholat, ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam." Bella menjawab salam seraya menahan nafasnya. Suara langkah kaki yang semakin menjauh, membuat gadis itu ikut bangun, lalu meninggalkan taman untuk segera menunaikan ibadah yang selama sebulan mulai menjadi kebiasaannya.


Terlihat banyak anak santri yang hilir mudik dari tempat wudhu, dan juga masuk ke masjid. Seperti biasa, aturan pondok pesantren memberikan kenyamanan untuk semua orang yang tinggal bernaung di tempat itu. Baik santri putri atau santri putri diberikan tanggung jawab masing-masing.


Sholat berjamaah merupakan aturan wajib. Boleh tidak ikut, tapi hanya ketika sakit parah. Selain itu, semua santri wajib meramaikan masjid di setiap melakukan sholat lima waktu. Bukan hanya itu saja karena Azzam terus mengajarkan banyak keterampilan demi menjemput masa depan.


Tiga puluh menit berlalu. Sholat berjamaah yang berlanjut dengan membacakan doa khusus berakhir. Para santri mulai membubarkan diri, dan hanya beberapa anak yang masih terus saja stay sekedar untuk melakukan perenungan tentang hari ini, hingga Abi mengambil mic. Lalu diberikan pada putranya. Tatapan mata kedua pria beda usia itu seperti bahasa isyarat.


"Assalamu'alaikum, semua adikku yang tercinta. Pada hari ini, Abang akan menyampaikan sesuatu yang sangat penting, tapi sebelum itu. Saudari Bella majulah." Azzam tetap menjaga pandangannya, ia tahu cara menjaga kehormatan seorang wanita. Sontak saja, beberapa santriwati yang masih duduk memberikan jalan agar Bella maju ke barusan depan.

__ADS_1


Abi tersenyum, ketika melihat putranya gugup. "Nak, bacalah do'a sebelum memulai sesuatu yang baik. Niat manusia harus dimulai dengan menyebut nama Allah. Niscaya, kehidupan yang menjadi pilihan hatimu. InsyaAllah berkah."


__ADS_2