
"Nduk, ikuti suara Simbah! Jangan sampai tersesat, jangan tatap mata mereka dan jangan tunjukkan rasa tidak suka dan takut mu terhadap mereka. Fokus pada tujuanmu! Tugasmu mencari pita dengan tulisan leluhur Wagio Supardi."
Perintah Simbah, membuat Diana yang harus menjadi mediasi berdiri. Mata yang tertutup pita merah tak membuat gadis itu kesulitan berjalan. Langkahnya pasti dengan mata batin yang terbuka, ia menatap setiap sulur yang memiliki pita merah. Satu persatu ia baca tulisan di pita merah itu. Begitu banyak nama bertinta hitam, hingga akhirnya para makhluk mulai ikut mengganggu.
Ada yang sengaja menari di depan Diana. Ada yang mencolek lengan. Ada yang berusaha bermain parasut melesat kesana dan kemari. Tubuh gadis itu masih berusaha menahan diri agar tidak dikuasai rasa takut yang mulai melanda. Bimbingan sang nenek masih terus berlanjut, hingga akhirnya sebuah tulisan dengan tinta perak mengalihkan perhatiannya.
Tulisan perak dengan nama Wagio Supardi. Pita merah yang ada di belakang patung dimana neneknya memberikan persembahan. Diana berusaha untuk meraih dengan hati-hati agar tidak menginjak persembahan apapun, tetapi tiba-tiba ada sosok tinggi besar yang muncul begitu saja. Sontak tubuhnya terhubung ke belakang dan tersungkur mencium tanah.
__ADS_1
"Nduk, ayo bangun! Jangan tatap matanya, lewati sisi kiri, dan ambil pita itu!"
Suara Simbah yang lantang, membuat Diana mendapatkan kekuatan baru. Ia bangun, lalu menurunkan pandangannya agar tidak menatap makhluk genderuwo yang murka karena diganggu. Pita yang menjuntai di ujung sulur. Berusaha diraih. Akan tetapi sangat sulit untuk didapatkan. Meskipun mengikuti arahan sang nenek. Nyatanya makhluk itu mulai meniupi sulur menjadi bergoyang kesana kemari.
Diana menahan diri untuk tidak mengikuti arus rasa takut di hatinya, tapi cara si genderuwo mempermainkan dirinya. Sungguh membuat jiwanya meronta. Ingin sekali bisa memukul makhluk itu, tapi ia tak mau kena tulah. Simbah masih terus memberikan pengarahan agar ia bisa mengambil pita merah itu, disaat yang tepat ia bisa memegang pita itu.
Wuuussshhh...
__ADS_1
Angin berhembus kencang, tanpa sadar selepas pita merah bertinta perak berhasil diambil. Terpaan angin kencang membuat tubuh Ela terpental ke belakang. Wanita bercadar itu harus menerima amukan si genderuwo dalam sekali kibasan tangan. Sontak saja, Simbah menarik tangan Diana agar menjauhi tempat persembahan. Disaat bersamaan, justru bambu berisi tanah rumah Bella terjatuh ke tanah.
Ella yang melihat itu disela rasa sakitnya berusaha memberitahu, tapi tiba-tiba ada tangan yang membungkam bibirnya. Tak ingin membiarkan usaha mereka sia-sia. Ia gunakan tangan untuk membuat Sang nenek memahami bahasa isyarat nya. Namun, sungguh sayang. Keadaan yang semakin rumit. Diana yang gemetaran dan Simbah yang terkejut dengan keadaan saat itu, semakin menambah kekacauan.
Simbah berlari mengajak Diana yang menggenggam pita merah, wanita itu berusaha menolong Ela. Tanpa menyadari, kini bambu berisi tanah sudah beralih ke tangan si genderuwo. Saat ia berhasil menggenggam tangan sang cucu pertama, para makhluk yang menyekap mencegah Ella bangkit pergi beterbangan meninggalkan wanita bercadar itu.
Nafas ngos-ngosan Ela, membuat Simbah menatap cucunya merasa bersalah karena telah meninggalkannya begitu saja. "Nduk, kamu tidak apa-apa?"
__ADS_1
"Bambu...,"