
Akan tetapi, wadah dari pangeran iblis sendiri masih dalam hitungan beberapa tahun. Semua itu karena memang setiap beberapa ratus tahun wadah harus selalu berganti dan untuk melakukan semua itu adalah tugas dari Romo.
Azzam menuruni anak tangga terakhir. Lalu, ia mengulurkan tangannya menunjukkan sesuatu pada Lucifer, "Apa kamu ingat gelang ini? Aku tidak pernah melupakan janjiku dan hari ini aku ingin memenuhi janjiku. Apakah sekarang, kamu bisa melepaskan semua rasa dendammu itu? Lucifer temanku."
Gelang biji jali. Gelang yang bertahan lama karena terbuat dari bahan alami. Warna hitam yang mengkilap itu, sudah pasti Azzam menjaga dan merawatnya dengan baik. Namun, itu tidak mengubah jiwa iblis menjadi jiwa manusia, kembali. Masa lalu sudah tidak menjadi masa kini, meski ia ingin menyelesaikan kisah yang telah berlalu.
Lucifer menjentikkan jari. Seketika gelang itu terbang melayang dengan kobaran api yang membara. Abu yang berjatuhan, menyadarkan Azzam. Tidak ada gunanya untuk membujuk atau memberi nasehat pada pangeran iblis. Teman yang dulu keras kepala, juga menjadi iblis tak berhati.
"Janji? Aku tidak membutuhkan janji itu, lagi. Kekuatan yang ku miliki, jauh lebih berarti. Kamu hanya manusia rendahan." Lucifer menatap Azzam dengan tajam penuh murka, ia tahu niat hati teman mantan manusianya itu hanya untuk melenyapkan dirinya. "Jangan ganggu urusanku! Kamu tidak sebanding denganku."
"Baiklah, sepertinya aku salah menilai mu. Lucifer yang dulu, sudah tidak ada lagi. Sekarang, kita akan menyelesaikan ini. Tidak peduli siapa yang harus berkorban. Semua harus berakhir hari ini ....,"
__ADS_1
Lucifer mengibaskan tangan menghentakkan sekilas cahaya dengan tajamnya pedang. Cahaya itu menerjang ke arah Azzam, tetapi pemuda itu hanya menghindari tanpa memberikan perlawanan. Satu serangan telah dilancarkan oleh Pangeran Iblis.
Melihat itu. Lantunan doa mulai berkumandang dari mulutnya. Suara merdu menghembuskan kesegaran ditengah hawa yang membuat bulu kuduk merinding. Lucifer tidak tinggal diam. Setelah batu permata kembali menyatu ke dalam tubuhnya. Kekuatan tak terbatas hanya menjadi miliknya seorang.
Azzam semakin gencar membaca Ayat suci Al-Quran, hingga tubuh Lucifer mulai bereaksi. Setelah semua yang ia pelajari, pangeran iblis tidak akan tahu apa kelemahannya sebagai wadah jiwa iblis. Akan tetapi, ia tahu dan akan berusaha menyelesaikan semua yang sudah mendarah daging.
Tatapan mata keduanya saling memberikan perlawanan. Azzam setia menghujami pangeran iblis dengan tatapan tenang diiringi doa yang menyertakan nama dari Lucifer serta marga leluhurnya. Namun, pangeran iblis merasa tak tenang.
Azzam melangkahkan kakinya, satu langkah, demi langkah semakin mendekati Lucifer. Akan tetapi, temannya kini menjadi pangeran iblis yang memiliki segala tipu daya. Tak ayal, Lucifer memisahkan diri menjadi beberapa bagian, lalu mengepung manusia yang berusaha memusnahkan nya itu.
Suara tawanya menggelegar. Ia merasa sudah menang karena bisa menguasai keadaan. Namun, siapa sangka Azzam justru menghilangkan senyuman di wajahnya, lalu memejamkan mata. Satu helaan nafas melepaskan semua emosi yang masih membelenggu jiwanya. Seluruh pikiran tak lagi menjadi penghalang.
__ADS_1
"BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM ....," Azzam membuka mata batinnya, kini ia menyatu bersama alam menentukan jalan untuk kebenaran dan keadilan. "Hiyaa ....,"
Satu tarikan tepat mengenai sasaran. Sosok yang mengerikan, tetapi hanya sebuah bayangan. Pangeran iblis terus mengubah posisinya hingga Azzam mulai melakukan pembantaian dengan memberikan tendangan serta kibasan tangan. Para bayangan yang mulai kewalahan, membuat pangeran iblis semakin murka.
Pergerakan Azzam begitu cepat. Menendang, menghindar seraya membalas serangan. Lompatan, putaran hingga tubuh manusia itu seperti hembusan angin yang menerpa. Ringan seperti lembaran kertas yang berjatuhan.
Kilatan demi kilatan saling menyerang dengan seluruh kekuatan. Azzam berhasil menghancurkan para bayangan dan menyisakan sang pemilik kekuatan. Sebuah rapalan yang selama ini ia pelajari. Kini menjadi senandung nada dengan irama yang memabukkan.
Iringi dzikir di dalam hati. Lucifer yang tak pernah mendengar senandung itu, mulai merasakan reaksinya. Tubuhnya seperti mengikuti irama dengan gejolak dingin yang menjalar dari ujung kepala. Semakin berusaha untuk menikmati, justru rasa dingin itu semakin menjadi-jadi. Azzam tidak meninggalkan kesempatan itu untuk melepaskan sebuah benang hitam yang selama ini bersembunyi di balik lengan panjangnya.
Tiba-tiba, satu sambaran menghentikan lantunannya membuat Lucifer kembali sadar. Pangeran iblis merasa dipermainkan. Sontak saja, ia menerjang tubuh Azzam hingga keduanya berguling secara bersamaan. Berulang kali terkena benturan, membuat dua raga beda jiwa saling menyakiti.
__ADS_1
"Ggggrrrrrhhhhh....,"