Jerat Karma Suami Goib Ku

Jerat Karma Suami Goib Ku
Bab 88: KERJASAMA


__ADS_3

Sementara Azam harus menarik nafas dalam, karena begitu kedua kakinya menginjak ke alam gaib. Para makhluk yang menjadi penghuni rumah perjanjian sudah menghadangnya seperti kawanan begal. Akan tetapi, iman yang dia punya menjadi keyakinan. Jika Yang Maha Esa akan menjadi pelindung ketika hati dan pikirannya pasrah lillahi Ta'ala.


"Bismillahirrahmanirrahim, majulah!"


Wuusshh!


Ngiuung....


Sraak!


Fiuuuh...

__ADS_1


Serangan demi serangan dari berbagai arah, membuat Azam harus bergerak cepat dan waspada. Tangan yang menerjang melayangkan bogem mentah dihindari dengan berputar seraya menyodok punggung makhluk itu. Dari arah berlawanan ada kepala yang melesat dengan mulut menganga. Sontak saja, pria itu merunduk membuat si makhluk kepala menerkam rekannya sendiri.


Pertarungan Azam mengalahkan para makhluk cukup sengit hingga beberapa cakaran menggores punggung pria itu, bahkan aroma anyir darah segar bercampur aroma busuk dari para makhluk. Perlahan pertempuran itu diselimuti kabut putih yang ntah dari mana asalnya.


Sementara di istana. Simbah akhirnya mengalah dan mau mendengarkan penjelasan dari Romo. Wanita patuh baya itu, duduk di bawah lantai dengan nafas ngos-ngosan. Kekuatan yang seimbang, membuat keduanya harus mengakhiri peperangan yang berasal dari sebab masa lalu.


"Apa kamu sudah bisa percaya padaku?" tanya Romo sekali lagi dengan tatapan mata tenang terpatri pada wajah sepuh Simbah.


Simbah tidak memiliki jalan lain. Semua sudah menjadi taruhan antara hidup dan mati. Apalagi, saat ini, dirinya masih belum bisa mencari jalan untuk membawa Bella pulang ke alam manusia. Benar, yang tersisa hanya mencoba mencari kebenaran di sisa waktu masa lalu.


Romo mendongak menatap atap istana yang usang, "Ini memang salahku. Tidak seharusnya menjadikan manusia sebagai wadah jiwa iblis putraku. Disaat pertama kali, aku melihat Luci yang menjadi seorang pemuda tampan dengan keberanian luar biasa. Hati seorang ayah berkata, dia pemuda yang tepat untuk menjadi penerusku."

__ADS_1


"Aku memang mendekati Luci dengan wujud seekor kucing, tapi kamu selalu menatapku begitu tajam. Kegigihan ku membawa pemuda itu ke jalan yang kuinginkan tidaklah mudah. Hasil dari penyatuan terlihat jelas saat ini. Dimana Luci kehilangan semua ingatan manusianya."


Simbah mengingat semuanya dengan sangat jelas. Putra yang menjadi alasan semangat hidupnya harus pergi bersama keegoisan. Pemuda yang dimasa itu tengah menempuh pendidikan di bangku kuliah. Justru menjadi pengikut sebuah sekte atas dorongan dari bisikan raja iblis sendiri.


"Aku sudah ikhlas atas kepergian putraku. Apapun yang menjadi takdir keluargaku, sudah pasti rencana Allah. Dibalik semua itu, akan ada kehidupan baru dengan kebahagiaan yang nyata. Aku disini untuk melakukan kewajiban ku. Menunaikan janjiku pada Diana agar menyelematkan Bella." tegas Simbah menjelaskan posisinya secara jujur tanpa ada tipu muslihat.


Romo menghela nafas, rasanya begitu sesak karena satu keegoisan sebagai ayah dan raja para makhluk. Seorang ibu kehilangan putra yang teramat dicintainya. Dimana seorang pemuda dengan kehidupan sederhana harus menjadi wadah jiwa sang pangeran iblis. Pada dasarnya. Lucifer bukan seutuhnya iblis karena raga itu memang nyata.


Cerita masih terus berlanjut, tetapi keduanya lupa. Jika di luar istana terjadi banyak keributan. Angin yang bergemuruh dengan petir yang menyambar. Satu sisi pertarungan antara Azam dengan para makhluk dari rumah perjanjian, sedangkan sisi lain Delisa dan Gael yang harus bertahan dengan melakukan perlawanan melawan klan kunti.


Kembali ke istana, setelah hampir lima belas menit menyampaikan keluh kesahnya. Romo mengulurkan tangannya dengan tatapan tak teralihkan sedikitpun dari tempat Simbah berada, "Ayo kita bekerjasama. Bawalah Bella menantu manusia ku, dan biarkan Lucifer tetap di istana. Aku akan menjamin keselamatan kalian di dunia manusia."

__ADS_1


"Keselamatan? Kamu memang mantan raja para makhluk, tapi Aku berserah diri hanya pada Allah. Aku akan melakukan segalanya demi menyelesaikan tugasku. Dulu, aku gagal menyelamatkan Luci ku. Sekarang, tidak akan kubiarkan seorang ibu berduka seperti diriku."


Pernyataan Simbah, mengakhiri perdebatan keduanya. Jabatan tangan menjadi awal kerjasama antara Simbah dan Romo. Di alam mana pun. Sebuah pepatah akan selalu berguna yaitu musuh dari musuh adalah kawan. Maka bertemanlah untuk mencapai tujuan yang diharapkan.


__ADS_2