Jerat Karma Suami Goib Ku

Jerat Karma Suami Goib Ku
Bab 19: WARAS?!


__ADS_3

"Romo mengizinkan mu! Umumkan pada rakyat kita pernikahanmu!"


"Terima kasih, Romo." Lucifer bangun dari posisinya, lalu berbalik menatap seluruh rakyat kerajaannya. "Aku PANGERAN LUCIFER BRAMASTA MENGUMUMKAN PERNIKAHANKU DENGAN SEORANG MANUSIA BERNAMA ARABELLA. PERCAYALAH ISTRIKU PANTAS MENJADI PUTRI RAJA KALIAN."


"Selamat, Pangeran. Selamat, Putri Arabella."


Sorak gembira rakyat dengan kumandang ucapan selamat, membuat Arum geram. Tanpa permisi ia pergi terbang meninggalkan istana, sedangkan Lucifer tersenyum penuh arti. Syukurlah dirinya tidak terlambat. Jika kunti merah itu berhasil menghasut seluruh rakyat. Apalagi menghasut ayahnya. Sudah pasti pernikahan yang baru seumur jagung kandas tanpa ada kata perpisahan.


Lucifer mengangkat tangan kanannya. Sontak rakyatnya terdiam. "Kembalilah! Disaat bulan purnama ketiga berakhir, istriku akan menyapa kalian."


Satu persatu rakyat mulai menghilang meninggalkan halaman istana. Kini yang tersisa hanya ayah dan putranya bersama hembusan angin yang semakin dingin. Sementara di dunia manusia, suara berisik terdengar dari luar rumah ibu Sulastri. Suara yang seperti bebek berkoak sibuk nyerocos memekakkan telinga siapapun yang mendengarkan.


"Bu, di luar berisik banget. Ada apa, ya?" tanya Abil yang sibuk mengaduk sop ayam di mangkuk.


Ibu Sulastri masih sibuk menyendok nasi dengan centong nasi. "Udah makan aja! Biar ibu yang periksa. Bella, jaga adikmu!"


"Apa gak sebaiknya di dalam aja, Bu? Itu suara Ibu Puput." Jawab Bella.

__ADS_1


"Ibu tahu, Ndu. Kalian makan, ya! Ibu keluar dulu." Ibu Sulastri meletakkan centong nasinya, lalu berjalan meninggalkan ruang makan.


"Ka!" panggil Abil.


Bella mengedipkan kedua matanya. "Dede makan! Jangan buat ibu cemas. Ayo! Kakak ada disini 'kan?"


"Kakak juga makan. Pasti lelah waktu yang kakak lewati" balas Abil, membuat kakaknya tersenyum manis.


Keduanya menurut perintah ibu mereka dan tetap diam ditempat sembari memakan sarapan pagi setelah insiden yang sangat mengusik hati dan pikiran, sedangkan Ibu Sulastri memutar knop pintu dan keluar dari dalam rumahnya. Hatinya was-was begitu melihat wujud ibu-ibu pakaian glamor, bibir semerah darah, jepitan rambut bunga yang besar sebagai pengikat rambut.


"Alhamdulillah baik. Ibu Puput baru kelihatan, dari mana saja?" tanya Ibu Sulastri dengan senyuman tulus.


"Wes, tho. Ibu Sulastri ndak perlu mengalihkan pembicaraan. Si neng Bella masih waras kan, Bu?" celetuk Ibu Puput, membuat kedua alis Ibu Sulastri bertautan tak paham.


"Maaf, maksudnya gimana ya?" tanya Ibu Sulastri benar-benar tidak paham.


Ibu Puput mencebikkan bibirnya yang merah merona cabe. "Ndak usah pura-pura gitu tho. Gadis sek nolak lamaran wong lanang bola-bali. Opo jenenge? Yo ora waras, tho?"

__ADS_1


Deg!


Astagfirullah. Sabar, Sulastri. Cobaan harus dihadapi.~batin Ibu Sulastri dengan menahan rasa sakit di hatinya.


"Maaf, ya, Bu. Apa urusan Anda dengan penolakan yang Bella lakukan? Apa itu merugikan keluarga....,"


"Ibu ini, ibu yang bagaimana? Moso anake nolak lamaran wong limo. Iseh wae dibela. Mbok yo, diruqyah....,"


Ibu Sulastri mengepalkan kedua tangannya. "HENTIKAN! SIAPA KAMU? BERANI SEKALI MENGATAKAN PUTRIKU TIDAK WARAS!"


Suara menggelegar Ibu Sulastri mengejutkan Ibu Puput yang langsung memegang dadanya sendiri. Bahkan Bella dan Abil langsung berhenti menyuap nasi. Baru kali ini keduanya mendengar sang ibu sangat marah besar.


"Dede tetap makan! Biar kakak yang keluar." pinta Bella langsung mendorong kursinya bergegas meninggalkan meja makan.


Langkah yang terburu-buru, membuat gadis itu mengikis jarak lebih cepat. Hingga begitu tangannya membuka pintu. Terlihat ibunya berdiri dengan tangan terangkat menunjuk seseorang. Semakin berjalan mendekati, kini terlihat jelas tanpa halangan.


"Ibu?!" panggil Bella.

__ADS_1


__ADS_2