Jerat Karma Suami Goib Ku

Jerat Karma Suami Goib Ku
Bab 6: SEBULAN-KESEMPATAN-KI JAMAL


__ADS_3

Satu tarikan tangan memindahkan tubuh Bella ke dalam pelukan dingin sang suami. Detak jantung semakin berdetak cepat. Hingga suara benda terjatuh mengalihkan tatapan matanya. Dimana vas bunga terpecah belah menjadi beberapa bagian di lantai. Lucifer melepaskan tubuh istrinya.


"Pergilah! Biar aku yang bereskan."


Bella mengerjapkan matanya. "Apa hantu bisa melakukan pekerjaan rumah?"


Pertanyaan Bella hanya dijawab dengan satu jentikan jari yang membuat pecahan vas bunga kembali utuh, lalu menghilang dan tiba-tiba saja sudah kembali ke tempat semula. Tentu saja bukannya senang, tapi remaja itu berlari masuk ke dalam kamar mandi dengan detak jantung yang berdetak tidak normal.


Braaak!


"Huft, bagaimana sekarang? Satu jentikan jari bisa mengembalikan vas, tidak mungkin aku nekat mengusir apalagi memberontak begitu saja. Ayolah, Bella berpikir." gumam Bella yang menyandarkan tubuhnya ke pintu agar sang suami goib tidak bisa masuk menyusulnya.


"Hentikan berpikir, istriku sayang. Cepatlah mandi! Jika tidak, jangan salahkan aku menghukum ibu mu." Lucifer memberikan jawaban melalui gema suaranya agar terdengar di dalam kamar mandi.


"Jangan! Aku akan mandi," cegah Bella bergegas melepaskan pakaiannya tanpa berpikir lagi.

__ADS_1


Kesibukan Bella membersihkan diri, membuat Lucifer berkeliling rumah menjadi bayangan. Keadaan rumah yang kacau balau dengan semua barang hancur, meja kursi tak tertata rapi sungguh mengganggu pemandangan matanya. Hingga ia memilih duduk bersila di atas tangga sisi kanan dengan posisi tangan menyangga dagu.


Alam menghancurkan tempat tinggal ku. Kenapa pernikahan ku menjadi bumerang? Apa salahnya memilih manusia sebagai pendampingku? Aku tahu dua alam terguncang, tapi tidak akan ku biarkan seorangpun mengusik duniaku. Tidak dengan dunia manusia, atau dunia ku sendiri. ~batin Lucifer seraya mengacungkan jari telunjuknya memperbaiki semua kehancuran tanpa harus bersusah payah.


Sepuluh menit kemudian setelah melihat rumah kembali seperti semula. Lucifer menghilang dari tempatnya berpindah ke kamar tirai hitam. Seluruh rumah adalah miliknya, tapi tempat special hanya ada satu dan tidak akan pernah berubah. Dari dalam kamar persembahan, semua isi pikiran dari penghuni rumah akan terdengar jelas. Termasuk pemikiran dari Sulastri yang siap berperang mencari seorang penolong demi putri tunggalnya.


"Bella adalah istriku. Siapapun yang menghalangi, tidak ada ampunan. Akan tetapi, aku biarkan wanita itu mendapatkan satu kesempatan demi cinta seorang ibu kepada putrinya."


Begitulah si iblis. Meskipun memiliki kekuatan besar, tetap saja tidak main hakim sendiri. Ia masih terikat pada alam manusia. Terlebih setelah menikah dengan Bella. Maka dua dunia tidak bisa menolak kehadirannya. Meskipun seperti itu, ada masa yang harus ditaati. Mencapai kesempurnaan bukanlah hal mudah. Termasuk menyatukan dua dimensi yang berbeda.


"Bella, sudah sebulan kita menikah. Apa kamu tidak ingin bertanya sesuatu padaku?" tanya Lucifer menatap mata sang istri yang tengah sibuk menikmati sarapan pagi di dalam kamar.


Bella berhenti menyendok, lalu menatap Lucifer. Hanya sesaat sebelum kembali melanjutkan menyantap sarapannya. Keheningan terjadi selama sepuluh menit. Begitu semua makanan berpindah ke perut. Barulah remaja itu menggeser kursi kayu yang ia duduki.


"Pernikahan. Aku tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Bagiku selama keselamatan ibu dan adikku terjamin. Aku rela menjadi istrimu selama dunia masih berputar. Ku harap ini sudah cukup jelas untukmu." Jelas Bella to the point.

__ADS_1


"Apa kamu tidak bisa mencoba memberikan kesempatan untuk hubungan kita? Selama paksaan di hatimu masih membelenggu. Bagaimana hubungan ini akan berlanjut?" Lucifer menatap Bella lebih lembut, membuat remaja itu tersentuh hatinya.


Aku tahu hatimu mulai mencintaiku setelah semua yang terjadi selama satu bulan terakhir. Sebentar lagi sebelum bulan purnama ketiga. Aku pastikan kamu menjadi milikku Bella. ~batin Lucifer menyunggingkan senyum manis yang menggoda iman.


Kegigihan Lucifer menjebak Bella dalam ilusi cinta. Sementara Ibu Sulastri siang dan malam selalu bepergian mencari jalan keluar. Tidak peduli panas dan hujan. Ia menyusuri jalan dari satu pelosok ke pelosok lain. Hanya demi menyelamatkan kehidupan putrinya. Disaat berteduh di bawah pohon rindang. Sejenak melepaskan penat.


"Kemana lagi aku harus mencari orang yang bisa membantuku? Sudah sebulan mencari ke beberapa tempat, tetap saja semua pintu tertutup untukku. Ya Allah, tolong tunjukkan jalan agar hamba bisa mengembalikan kehidupan normal Bella." Sulastri menatap langit yang cerah dengan harapan yang tersisa.


"Dia adalah pangeran yang perkasa. Kekuatan dan kekuasaan menjadi dasar dari keberadaannya. Jika kamu mencari sang penolong. Jangan lupakan sholat, teruslah berdzikir dan beramal baik. Carilah jodoh yang mampu menjadi imam dan menyelamatkan putri mu. Semoga Allah mengabulkan do'a seorang ibu."


Nasehat yang begitu menyejukkan memberikan harapan baru mengalihkan tatapan mata Sulastri. Dari samping pohon tempatnya berteduh seorang pria dengan kepala tertutup blangko jawa berdiri menggunakan tongkat kaki sebagai penopang tubuhnya.


"Maaf, kisanak siapa?" tanya Bu Sulastri penasaran seraya berjalan menghampiri pria paruh baya itu yang tersenyum simpul.


"Orang sini memanggilku Ki Jamal. Pulanglah, Bu! Tidak baik meninggalkan putri ibu bersama pangeran iblis itu sendirian. Jangan lupakan putra ibu juga, anak itu bisa menjadi sasaran empuk." Ki Jamal membalikkan badannya lalu berjalan meninggalkan ibu Sulastri yang masih termenung memikirkan semua ucapan pria itu.

__ADS_1


"Mencari jodoh?" Ibu Sulastri memikirkan satu tanda tanya itu, "Benar juga, sebaiknya aku coba saran Ki Jamal."


__ADS_2