
"Abi, izinkan pernikahan kami menjadi malam ini." tegas Azzam serius, Abi mengangguk karena ia tahu dan memahami bagaimana keputusan sang putra. "Do'akan Azzam untuk menyelesaikan fase terakhir memutuskan hubungan dua alam."
"Abi selalu merestui langkahmu, Nak. Berjuanglah, malam ini, setelah ba'da magrib. Kalian akan menikah, dan sepanjang malam akan dilakukan pengajian. Kita harus berjuang bersama-sama, Nak. Bismillah."
Seperti yang Abi katakan. Persiapan pernikahan dipercepat, tidak ada lagi pesta. Melainkan hanya akan ada ijab kabul yang sederhana. Bella hampir membatalkan pernikahan, tetapi setelah dijelaskan oleh Simbah. Akhirnya gadis itu menurut, kini seluruh penghuni pondok pesantren sudah berkumpul di rumah Allah.
Setelah sholat berjamaah, tak seorangpun beranjak dari tempatnya. Mereka menunggu mempelai wanita untuk memasuki rumah Allah. Namun, ternyata Azzam meminta agar pernikahan dilakukan terlebih dahulu dengan ijab kabul. Setelah itu, barulah Bella boleh menemuinya.
Pak penghulu telah bersiap dengan duduk di depan Azzam yang dibatasi sebuah meja kecil. Dimana di atasnya terdapat Al-Quran yang akan menjadi mahar untuk pernikahan Azzam dan Bella. Pria dengan penampilan rapi memakai peci mengulurkan tangannya, disambut hangat oleh putra pondok pesantren.
"Mari kita mulai. Saudara Azzam, apakah sudah siap?" tanya Pak penghulu tanpa basa-basi.
"InsyaAllah. Bismillah, saya siap." Jawab Azzam mantap.
Pak penghulu mulai membacakan doa sebelum proses akad nikah dimulai. Setelah syarat dan ketentuan dilakukan. Pria itu kembali mengulurkan tangan, "Saya nikahkan dan kawinkan saudara Azzam Bin Abi ....,"
Angin yang berhembus kencang membuat acara itu seketika berubah menjadi ketegangan. Para santri yang menengok ke sana kemari mulai ketakutan, sedangkan Azzam masih tetap tenang. Dia tahu, jika badai datang dengan penolakan. Akan tetapi, pernikahan harus berlangsung malam ini juga.
"Saya terima nikah dan kawinnya saudara Arabella Binti ...,"
Hembusan angin tak lagi sekedar menyapa hingga lampu gantung bergoyang. Lalu padam. Suara jeritan memenuhi rumah Allah. Alam berguncang, tetapi Azzam dengan lantang melanjutkan ijab kabul. Seketika seluruh lampu kembali menyala.
"Bagaimana semuanya? Sah."
"SAH...,"
Seperti hujan yang membasahi bumi. Suara itu menggema memberikan ketenangan jiwa. Kini, pernikahan telah dilangsungkan. Azzam telah sah menjadi suami Bella dengan saksi dan syarat untuk menikah. Setelah penghulu membacakan doa terakhir. Bella datang memasuki rumah Allah ditemani Simbah dan Diana.
__ADS_1
Abi terpana akan apa yang terpatri di hari tuanya. Sang menantu begitu anggun, hingga pangling menatapnya. Bella memakai kebaya putih peninggalan istrinya, namun gadis itu juga mengenakan hijab dengan warna senada. MasyaAllah, sungguh seperti bidadari surga.
"Nak, istrimu datang. Mulailah bacakan mahar pernikahan kalian." Ucap Abi menghentikan Azzam dari dzikir di dalam hatinya.
Seperti anak yang patuh. Azzam membuka Al-Quran, lalu menghirup nafas dalam-dalam. "Bismillahirrahmanirrahim,"
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa
اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ
(Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.
__ADS_1
وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ
Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.”
Suara merdu tanpa jeda melantunkan Surah Al Ikhlas tiga kali, pria itu juga membacakan arti dan maknanya. Sebagai pelengkap, Azzam menutup mahar dengan membaca Surat Al Fatihah. Seperti serbuk bius yang menyebar. Semua orang terpaku menikmati kedamaian hati yang dirasakan.
"Assalamu'alaikum, Mas Azzam." Bella mengucapkan salam penyambutan di hari pertemuan setelah pernikahan.
Gadis itu duduk di sebelah Azzam lalu meraih tangan pria yang kini berhak atas dirinya. Dikecupnya penuh rasa syukur bersambut mata memanas menahan bendungan yang siap membludak. Bukan hanya gadis itu. Nyatanya Azzam sendiri bisa merasakan bagaimana perasaan sang istri.
"Wa'alaikumsalam. Bangunlah, alhamdulillah kita sah menjadi suami istri. Bella, tempatmu bukan di bawah. Melainkan di dekat jantungku. Kamu adalah separuh jiwaku. Tegurlah aku, jika aku lalai akan tanggung jawab seorang suami."
Semakin banyak nasehat yang diberikan Azzam. Bella semakin terharu hingga air matanya tak mampu lagi tertahan. Rasanya seluruh kebahagiaan di dunia hanya tercipta untuknya. Setelah proses pernikahan diakhiri dengan tanda tangan buku nikah dan tukar cincin.
Abi memberikan waktu untuk para santri mendoakan pasangan baru itu, bahkan beberapa santri dengan antusias berlomba-lomba membacakan setiap surah dari Al-Quran sebagai hadiah yang tidak disangka-sangka. Pernikahan Azzam dan Bella disambut dengan lantunan ayat suci Al-Quran.
Seketika rumah Allah menjadi ramai dengan puji syukur atas nikmat yang mereka rasakan. Setelah beberapa waktu. Abi mengumumkan, jika malam ini akan diadakan pengajian hingga mencapai fajar tiba, sedangkan Azzam dan Bella diantar kembali ke rumah utama.
"Assalamu'alaikum." Laungan salam terdengar setiap kali langkah kaki bersiap memasuki rumahnya, Azzam merentangkan tangan dengan senyuman terus terpatri di wajahnya. "Masuklah. Ini rumah kita."
"Waalaikumsalam. Mari masuk bersama. Kita awali hidup baru dengan saling mendukung satu sama lain, Mas Azzam."
Kehidupan baru dengan awal baru. Tanpa gadis itu sadari. Jika pernikahan bukan hal terakhir yang akan memberi kebahagiaan. Azzam harus melakukan sesuatu agar semua berakhir tanpa mengambil korban lagi. Orang berpikir malam pertama adalah malam yang di nanti, tetapi pria itu tengah menyiapkan diri untuk pertempuran terakhir.
__ADS_1
Azzam langsung membawa Bella ke dalam kamarnya. Namun, pria itu mengajak sang istri untuk melakukan sholat berjamaah sebelum menunaikan tugas malam pertama. Untuk pertama kalinya, pasangan itu bersujud bersama.
Sholat isya berakhir dengan ucapan salam. Dilanjutkan doa keselamatan. Barulah, Azzam berbalik untuk melihat wajah istrinya yang terbalut mukena. Aura gadis itu semakin terpancar cerah. "Bella, apa kamu siap untuk melakukannya?"