Jerat Karma Suami Goib Ku

Jerat Karma Suami Goib Ku
Bab 84: BERTINDAK CEPAT


__ADS_3

"Selain istana. Tidak ada yang lebih aman lagi, apa kamu siap untuk melakukan pertempuran?" tanya Gael mencoba memastikan kondisi sang kekasih karena dia tahu, wanitanya terlalu banyak kehilangan energi.


Delisa menganggukkan pasrah. Apapun yang sudah menjadi suratan takdir, maka tidak seorangpun bisa merubahnya. Kalung liontin dengan permata ungu. Jujur saja, sejak kalung itu diberikan oleh neneknya. Tidak sekalipun terbersih. Jika ada kekuatan yang besar selalu melindungi dirinya.


Jika dipikirkan, mungkin pertemuannya bersama Pangeran iblis. Pasti merenggut nyawanya, dia sadar. Saat itu, Pangeran Lucifer tak hanya menggunakan kekuatan yang ala kadarnya. Apakah mungkin, kakak dari Gael tahu tentang permata itu? Bisa jadi.


Lamunan Delisa buyar, ketika usapan lembut tangan dingin mendarat di kedua pipinya. Siapa lagi, jika bukan ulah Gael, "Ayo ke istana, kita bisa mengakhiri semua ini bersama-sama. Bukankah, kita sudah berjanji untuk saling melindungi?"


"Aku akan selalu menepati janji ku. Maaf telah membawamu ke dunia ku, disaat seluruh alam gaib bergejolak ....,"


Delisa membungkam bibir Gael. Jujur saja, semua yang terjadi pasti memiliki alasan yang kuat. Tidak ada yang bisa mengubah itu. Apalagi, kini dia memiliki tugas untuk membawa kembali keturunan terakhir dari keluarga Wagio Supardi. Ntah, kekasihnya itu tahu, atau tidak tentang hal yang selama ini menjadi tujuan hidupnya.


Gael berniat membawa Delisa menggunakan kekuatannya, tetapi setiap kali mendekat. Tubuhnya mulai merasakan ada pagar pembatas yang menghalangi, "Kamu di depan, dan aku dibelakang. Permata itu menjadi penghalang. Aku tidak bisa memelukmu."


Delisa menurut, tetapi di saat ingin mengubah posisi. Tiba-tiba sekelebat bayangan hitam melesat ke arahnya. Gael yang melihat itu langsung mendorong tubuh kekasih nya hingga terkejut dan terhuyung ke belakang. Sementara bayangan masih terus saja mencoba menyerang.

__ADS_1


"Gael, awas di belakang mu!" Seru Delisa membuat Gael menghentakkan kaki, para bayangan yang menyerang dari arah berlawanan mulai menampakan diri dengan wujud yang tak begitu menyeramkan.


Delisa memutar bola mata jengah. Bagaimana bisa, disaat situasi serumit ini. Justru para kunti sibuk bermain serang menyerang dengan main petak umpet. Benar-benar membuat wanita itu harus bersabar seraya memutar tubuhnya, hingga putaran ketiga. Akhirnya berhasil kembali ke pelukan Gael dengan posisi yang tidak akan melukai sang kekasih.


"Tetaplah seperti ini, mereka terlalu banyak dengan jarak berbeda-beda. Aku tidak tahu, dendam apa yang merasuk, tetapi sepertinya ratu mereka tidak terima karena kamu bersamaku. Apa kita harus menghancurkan seluruh klan, makhluk satu ini?" tanya Delisa, membuat Gael menelan saliva kasar.


Suara Delisa berubah drastis. Meski, dia sadar wanitanya tidak dalam keadaan kerasukan makhluk gaib. Apakah permata itu mempengaruhinya? Jika iya, semoga saja tidak melukai sang kekasih.


Benar saja, bayangan berubah menjadi makhluk berseragam putih rambut panjang dengan wajah putih mata hitam. Akan tetapi, di saat bersamaan. Datang pula para kunti merah. Rombongan kunti seakan sengaja mengepung Gael dan Delisa.


Kedatangan Arum di antara para kunti. Sudah menjelaskan apa yang diinginkan ratu kunti merah. Mungkin karena gagal menikah, maka makhluk satu itu menjadi murka. Tetapi, tidak sepenuhnya benar. Saat ini, para kunti menginginkan permata yang ada di leher Delisa.


Kekuatan permata itu seperti magnet hingga membuat semua makhluk siap berlomba untuk mendapatkannya. Pertarungan tak terelakkan, sementara di belahan alam lain. Azam harus berjalan di antara para makhluk. Pria itu sesekali harus menahan nafas agar tidak terdeteksi makhluk penghisap jiwa.


Ratu yang menghilang dari tahta. Pasti kembali, Azam tahu. Saat ini, dia harus waspada dengan terus melantunkan doa. Di saat langkahnya mulai menapaki tangga, tatapan matanya tak sekalipun teralihkan dari anak kecil yang sibuk mondar-mandir di lantai atas.

__ADS_1


Anak itu membawa sesuatu dari satu tempat ke tempat lain, tetapi wajahnya tidak begitu jelas. Meski begitu, Azam tetap berusaha untuk semakin mendekatinya. Langkah kakinya hampir saja mencapai atas, namun suara telepati yang didengar langsung menghentikan langkah kaki.


Nak, ambil jiwa gadis itu! Jika, jiwanya tidak kembali dalam waktu tiga puluh jam. Perjuanganmu akan sia-sia. Turunlah ke lantai bawah dan masuk ke dalam kamar utama. Singkap ranjang dan bacakan ayat kursi seratus kali.~ucap seseorang yang merupakan Abi, ayah dari Azam.


Azam tertegun sesaat. Kenapa Abi sampai turun tangan dan membantu dirinya? Baru saja ingin membalas telepati sang ayah, tiba-tiba terdengar suara jeritan yang memekakkan telinga dari arah luar rumah. Suara itu berasal dari wanita bercadar, tetapi sekali masuk ke dalam rumah gaib. Maka, jika keluar. Tidak akan bisa masuk lagi.


Kini, Azam harus mengambil keputusan cepat. Sudah pasti, apapun yang terjadi pada Ela adalah ulah dari Ratu yang memimpin para makhluk di dalam rumah perjanjian. Dia tahu, saat ini akan menjadi dilema dan harapan teralihkan dari tugas akan memberikan kebahagiaan untuk para makhluk.


"Silahkan lakukan apapun, tapi jalan ini hanya menjadi kepasrahan ku pada Yang Maha Esa. Takdir akan selalu memberikan cobaan, ketaatan tidak bisa mempengaruhi niat hati yang bulat. Bismillahirrahmanirrahim." Gumam Azam memulai langkah mundur menuruni anak tangga.


Cara di alam gaib memang bertolak belakang dari dunia manusia. Apalagi dirumah perjanjian yang dipenuhi makhluk persembahan. Azam melakukan seperti petunjuk yang diarahkan Abi. Pria itu menuju kamar yang dimaksud sang ayah dengan tujuan untuk mendapatkan jiwa milik Bella.


Begitu masuk ke dalam kamar. Barulah Azam bisa bersikap biasa dan melanjutkan tujuannya. Sejenak memperhatikan ranjang yang berukuran sedang, tetapi ukiran yang ada di papan kayu nampak sangat familiar. Seketika, pria itu teringat buku kuno yang membawanya ke tempat sarang makhluk gaib.


"Rapalan mantra perjanjian. Itu berarti, pemujaan bukan di lantai atas. Melainkan di kamar ini, persembahan selalu terjadi di tempat ini. Jika demikian, jiwa gadis itu ada di ....,"

__ADS_1


__ADS_2