
"Semoga....,"
"Kalian ini kenapa, dan bahas apa? Serius deh, aku bingung." sela Diana menatap kakaknya dan Bella secara bergantian.
Ela memilih duduk kembali. Meskipun perasaannya semakin tidak tenang, bahkan untaian doa masih blum berhenti dari suara hatinya. Sementara Bella tersenyum tipis, dan kembali menyeruput jus jeruk.
"Kalian berdua aneh. Sebenarnya ada apa?" tanya Diana lagi.
"Bukan apa-apa, bagaimana kalau kita daftar besok pagi untuk ikut absen?" tanya balik Bella mengalihkan perhatian.
Diana tersenyum sumringah mendengar ucapan temannya. "Serius? Kamu jadi ikut?"
Bella menganggukkan kepala membenarkan ucapannya, membuat Diana bangun dan langsung bersorak-sorai seperti anak kecil. Tingkah ajaib gadis tomboy itu benar-benar terbalik dari penampilannya.
Apapun yang harus kutanggung. Biarlah. Saat ini menghapus rasa penasaran Diana lebih penting, dan aku harus bicara dengan Ka Ela empat mata, tapi bagaimana? Apa alasan yang bisa aku gunakan?~batin Bella.
"De, duduk! Gak enak dilihatnya," celetuk Ela meraih tangan kanan Diana agar duduk kembali setelah melompat seperti kelinci.
"Yea, senangnya. Aku aja yang daftar besok pagi, jadi sorenya kita bisa belanja bareng. Bagaimana?" tanya Diana menatap Bella.
"Baik, aku ngikut aja, tapi jangan pulang sampai sore ya." pinta Bella.
"Siap, tenang saja. Kuliah sampai jam sebelas. Kita belanja di supermarket sekitar kampus, sekalian healing." Balas Diana.
"Bella, dimana kamar mandi?" tanya KaCan menyela.
Bella bangun, "Ayo kuantar, Ka. Takutnya nanti tersesat. Kebetulan kamar mandi depan lagi rusak kran nya."
__ADS_1
"De, mau ikut gak?" tanya KaCan menoleh ke Diana, dan di jawab gelengan kepala. "Jangan kemana-mana! Duduk diem disini."
"KaCan?" gumam lirih Diana mencebikkan bibir.
Bella berjalan di depan, dan di ikuti KaCan. Keduanya menapaki lantai hingga sebuah pintu kamar dibuka. Sudah pasti itu kamar tuan rumah. Begitu memasuki kamar. Aroma bunga semakin semerbak memabukkan, bahkan Ela harus sedikit menahan nafas.
"Ka, itu kamar mandinya." Ucap Bella dengan menunjuk ke arah pintu sisi kiri kamarnya. "Aku akan tunggu disini, silahkan KaCan!"
Ela tidak menuju kamar mandi. Justru langkahnya menghampiri Bella, dan tiba-tiba saja memeluk gadis itu dengan erat. Seperti sengatan listrik. Tubuh keduanya terkontaminasi dengan dua aura yang berlawanan. Hingga dorongan kuat dilakukan Bella, membuat tubuh KaCan terbentur dinding.
"Tubuh KaCan dingin." Bella langsung menyambar selimut di atas ranjang dan membalut kan ke tubuhnya. "Dingiin banget."
"Astagfirullahaladzim," Ela menegakkan tubuhnya seraya menahan rasa nyeri akibat membentur pintu. "Bella, apa kamu tahu. Pilihan hidupmu adalah jalan ketidakbenaran?"
"Apa yang kamu tahu?" tanya Bella menatap Ela tajam.
"Apa yang kamu tahu? Menjauh dariku!" Ucap Bella memperingatkan Ela.
Sikap tak nyaman, was-was, takut dan gelisah, teramat jelas menguasai gadis itu. Semakin dekat jarak keduanya. Bella semakin merasa terancam, hingga tubuhnya berhenti karena sudah ada dinding di belakang. Sementara Ela masih saja mendekati gadis yang memiliki aura abstrak. Langkah hanya menyisakan beberapa jengkal. Tiba-tiba saja sekelebat bayangan menghembuskan angin kencang, membuat Ela terpental dan menjauh dari Bella.
Bruug!
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Ela terbatuk dengan rasa hangat keluar dari mulutnya, dan rasa nyeri ulu hati yang tidak bisa dianggap remeh, "Bella, sadarlah!"
"Ka, maafkan aku. Ku mohon jangan campuri urusanku. Demi kedamaian keluarga ku dan keluarga KaCan." pinta Bella dengan tatapan redup.
Warna merah mengalir dari hidung Bella. Sekali lagi kejujurannya meremukkan tubuh dan memaksanya menikmati sakit yang luar biasa. Sisa kesadaran ia gunakan untuk memejamkan mata dengan satu tarikan nafas.
__ADS_1
Lepaskan mereka! Aku mengikuti semua syaratmu, berikan mereka ampunan. Biarlah aku sendiri yang menanggung kehidupan ku. Ku mohon, SUAMIKU.~batin Bella.
...----------------...
Makna di Balik Iman Kepada yang Gaib
Beriman kepada yang gaib, yang pertama adalah iman kepada Allah SWT, Dzat yang menciptakan seluruh alam yang tidak dapat disaksikan oleh mata telanjang
Dream - Beriman kepada yang gaib merupakan salah satu bentuk rukun iman. Dalam rukun iman terdapat perintah bagi umat muslim mengimani Allah dan juga malaikat.
Dalam Quran Surat (QS) Al-Baqarah ayat 3, Allah menegaskan beriman kepada yang gaib adalah salah satu ciri orang yang bertaqwa:
D" (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka." [QS. Al-Baqarah ayat 3]
Isi kandungan dari ayat diatas menerangkan bahwa manusia terbagi atas dua golongan. Pertama adalah mereka yang hanya mempercayai hal nyata namun tidak mempercayai atau tidak mengakui adanya sesuatu dibalik kenyataan itu.
Orang-orang yang seperti itu, biasanya tidak mempercayai adanya Tuhan, malaikat, kiamat, akhirat, dan lain-lain.
🦋🍂🦋
Makna di Balik Iman Kepada yang Gaib.
Sedangkan golongan kedua adalah orang yang mempercayai adanya hal yang nyata dan gaib.
Surat Al-Baqarah ayat 3 dimulai dengan kalimat: “ Mereka yang beriman kepada yang gaib”, kata “ yang gaib” dapat diartikan dengan yang tidak dapat disaksikan oleh panca indera, tidak tampak oleh mata, tidak dapat didengar oleh telinga, namun keberadaannya dapat dirasakan.
Beriman kepada yang gaib, yang pertama adalah iman kepada Allah SWT, Dzat yang menciptakan seluruh alam yang tidak dapat disaksikan oleh mata telanjang, akan tetapi dapat dirasakan sifat dan wujud-Nya.
__ADS_1
...----------------...